Ketika saya menyebutkan Riau, pasti akan banyak sekali pendapat orang. Termasuk kamu. Riau bagi saya adalah tempat tinggal yang nyaman. Pohon yang rimbun, dengan jumlah yang sangat banyak, dan mengambil andil dalam memberikan kenyamanan, tidak hanya bagi saya, tapi juga masyarakat dunia. Sayangnya itu dulu, sudah lama sekali. Seiring dengan berkembangnya Riau menjadi daerah industri, membuat daerah ini semakin kurang nyaman untuk ditempati. Menu sehari-hari, kayu bakar dan sejenisnya yang berhubung dengan proses bakar-bakar. Tak luput pula pembakaran limbah perkebunan kelapa sawit berupa tandan kosong kelapa sawit (TKS). Hmmm, kelapa sawit yang sudah “menganiaya” bumi pun, kembali merusak dengan limbahnya. Kawan perlu tahu bahwa kelapa sawit menyebabkan daerah di sekitarnya akan kekurangan air, karena tiap harinya kelapa sawit membutuhkan air dalam jumlah yang cukup banyak. Namun, kamu atau orang tua kamu yang memiliki ribuan hektar perkebunan kelapa sawit tidak perlu khawatir, karena bukan itu yang ingin saya bahas, tapi lebih kepada penanganan limbah TKS menjadi kompos.

Kompos tandan kosong kelapa sawit
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah seorang Kepala Pabrik Kelapa Sawit (PKS) berplat merah di Prov. Riau, TKS yang dihasilkan adalah 21% dari total tandan buah segar (TBS). Dengan mengasumsikan suatu pabrik minyak sawit dengan kapasitas 30 ton TBS per jam dan beroperasi selama 20 jam per hari, maka akan dihasilkan TKS sebanyak 126 ton per hari atau 126.000 kg per hari. Tentunya ini bukan angka yang patut diabaikan.
Pertengahan 2010, saya dan beberapa orang teman dalam satu tim mengusulkan pembuatan pupuk kompos dari tandan kosong sawit. Limbah yang demikian melimpah itu dapat bermanfaat berbagai tanaman, salah satunya padi, setelah dikomposkan. Hasilnya luar biasa. Kegiatan ini dibimbing oleh seorang dosen dari Faperta Unri, Dr. Nelvia.
Kami bersyukur karena setelah melalui proses yang cukup panjang, proyek kami berhasil diterima oleh Kementerian Riset dan Teknologi RI melalui MITI Mahasiswa dan didanai pada tahap awal program. Melalui proyek itu, kami mengharapkan dapat mengembangkan berbagai langkah strategis agar petani memanfaatkan teknologi ramah lingkungan dalam melakukan aktivitas pertanian yang mereka lakukan, salah satunya adalah agar mereka menggunakan pupuk organik dari TKS dan mengurangi pemanfaatan pupuk anorganik yang juga berperan dalam mengurangi pemanasan global. Namun begitu, tim masih terkendala dalam hal produksi. Produksi belum mencukupi kebutuhan pasar.

Diskusi dengan para petani

Diskusi dengan pemiliki rumah kompos
Dengan terus-menerus mencari jalan keluar untuk mengatasi beberapa permasalahan dalam tim melalui observasi mendalam serta mengikuti berbagai pelatihan termasuk training Technopreneurship yang ditaja Ristek dan Universitas Ciputra beberapa bulan yang lalu, akhirnya kami menemukan beberapa solusi. Dalam pada itu pula kami mendapatkan kesempatan menggunakan rumah kompos masyarakat berkapasitas 70 ton/ha yang berada sekitar 4 jam dari Pekanbaru. Di sana terdapat pula sawah serta lahan kosong yang tidak ditanami tanaman. Akhirnya kami pun menjadi mitra petani, kami tidak lagi berpikir menjual pupuk organik, tapi yang kami jual adalah produk berupa beras yang sangat diincar pasar di Riau. Selain itu, juga sedang dikembangkan penanaman sayur dan jamur di lahan kosong milik masyarakat. Sistemnya adalah bagi hasil. Selain membawa benefit bagi lingkungan dan masyarakat banyak, kami juga telah memproyeksikan profit dalam 5 tahun ke depan, yaitu sekitar 3 miliar. Profit ini direncanakan akan dijadikan modal untuk membangun sekolah PAUD dan klinik di lingkungan masyarakat petani.

Menanam padi bersama petani
Selain menjadi IKM Binaan Ristek RI, tim ini pun menjadi salah satu finalis Climate-SmartLeaders 2011. Semoga apa yang kami lakukan ini membuat lingkungan di Riau khususnya dan Indonesia secara umum menjadi lebih baik. Serta terciptanya komunitas-komunitas mandiri. Amin. Dalam pelaksanaan program ini, kami sangat senang, jika ada yang ingin mendukung baik dari sisi materil maupun moril. Informasi mengenai program ini silakan ber-surel ke prnm_indra@yahoo.com atau twitter @purna_indra.
Indra Purnama
Ketua Tim Comdev Mahasiswa Universitas Riau