SEMARANG—Masih sedikitnya pelaku usaha berbasis teknologi (teknopreneurship) di Indonesia, menurut Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), Warsito P Taruno karena belum berbasis kepada kebutuhan masyarakat luas selaku pengguna teknologi tersebut. Akibatnya, para peneliti lebih banyak asyik dengan dunianya sendiri dan tak beranjak mengaplikasikan teknologi yang dihasilkannya ke dunia bisnis atau usaha.
‘’Banyak peneliti atau teknolog ketika ingin terjun ke dunia bisnis tak melihat seberapa besar kebutuhan masyarakat kepada teknologi yang dihasilkannya. Akibatnya ketika memaksakan diri untuk menjadikan teknologinya produk yang diminati masyarakat, mereka menemukan kegagalan,’’ papar Warsito saat berbicara di depan peserta Research and Technoday 2011 yang digelar Universitas Diponegoro, Semarang, Sabtu (12/11) lalu.
Menurut pendiri Edwar Technology dan pemegang paten teknologi pemindai empat dimensi ini (ECVT 4D) ini, ia banyak menemukan para peneliti yang lebih suka di laboratoriumnya saja, tanpa mencoba melihat demikian banyak kebutuhan masyarakat yang bisa dipenuhi dengan teknologi yang mereka miliki. Padahal bila mereka jeli, banyak peluang usaha yang bisa memanfaatkan teknologi yang mereka telah tekuni bertahun-tahun.
Kondisi makin diperparah dengan belum besarnya perhatian pemerintah kepada upaya penumbuhan UKM berbasis teknologi. ‘’Sudah tak berbasis kebutuhan publik, juga masih ada kesenjangan antara keinginan peneliti atau teknolog dengan perhatian pemerintah dalam membangun wirausaha berbasis teknologi. Harusnya, dua kepentingan ini menjalin sinergi sehingga peneliti atau teknolog yang merintis usahanya berbasis kebutuhan masyarakat didukung penuh oleh keinginan kuat pemerintah membangun dunia usaha berbasis teknologi,’’ papar peneliti yang tengah mengembangkan perangkat pembasmi kanker, khususnya kanker payudara ini.
Pentingnya sinergisitas dua pihak ini menjadi sebuah keharusan, sebab bila tidak gagal, usaha ini jalan di tempat atau tak berkembang. Warsito mencontohkan bagaimana Singapura gagal membangun teknopreneurship dari para penelitinya meski sudah mengucurkan dana insentif tak kurang dari Rp 1 triliun selama 15 tahun. Demikian pula Filipina dan beberapa negara ASEAN lainnya.
Meski demikian, Warsito tak menampik bila peneliti yang membangun usahanya berbasis kebutuhan masyarakat dapat berkembang tanpa campur tangan pemerintah. Ia kemudian menunjuk Teraflux, sebuah perusahaan desain kapal kepercayaan pengusaha Amerika dan Jepang yang dipimpin Kaharuddin Jenod.
Juga, Xirca, perusahaan pembuat chip telekomunikasi nirkabel yang dimotori Eko Fajar sebagai bukti keberhasilan usaha peneliti yang berbasis kebutuhan masyarakat pengguna, meski tak ada campur tangan pemerintah.
‘’Atau seperti riset-riset nanoteknologi dari Pak Nurul Taufiqu Rohman yang kewalahan memenuhi order industri jamu atau kosmetik yang meminta bahan baku jamu atau kosmetiknya diberi sentuhan teknologi nano,’’ papar Warsito.
Pakar nanoteknologi Nurul Taufiqu Rohman yang berbicara di sesi Seminar Nano membenarkan bila teknologi nano yang dikembangnya semakin menarik minat kalangan industri. ‘’Nano teknologi diyakini sebagai sebuah konsep teknologi yang akan melahirkan revolusi industri baru di abad ke-21. Beberapa cabang ilmu terapan dan medis mengadopsi nanoteknologi dan nanosains dan menjadikan pondasi utamanya,’’ ujar Nurul yang juga Ketua Masyarakat Nanoteknologi (MNI) dan anggota Dewan Pakar Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).
Ia kemudian mencontohkan perkembangan nanoteknologi dalam dunia computer telah mengubah tak hanya ukuran computer semakin ringkas namun juga peningkatan kemampuan dan kapasitas yang luar biasa, sehingga memungkinkan penyelesaian program-program raksasa dalam waktu singkat. Bila diimplementasikan dalam pengolahan baja, maka nanobaja mampu menghasilkan baja yang berstruktur halus karena mampu mencapai ukuran beberapa puluh nanometer saja, namun memiliki kekuatan dan umur dua kali lipat dari baja terbaik yang ada saat ini.
‘’Padahal, teknologi nanobaja sangat sederhana dan tidak memerlukan peralatan tertentu untuk pembuatannya,’’ papar doctor bidang ilmu material dan rekayasa produksi dari Kagoshima University, Jepang tersebut.(*)
SEKILAS MITI:
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang teknologi ini berdiri pada 18 Januari 2004 oleh sekumpulan peneliti dan ilmuwan Indonesia. Berbasis di Jakarta, kini tak kurang dari 300 doktor berbagai bidang ilmu tergabung dan menjadi anggota. Selain memiliki cabang di berbagai daerah Indonesia, MITI memiliki perwakilan di beberapa negara lain.
Hingga kini, MITI bergerak dalam bidang pembinaan anggota (individu dan lembaga), pelayanan kepada publik, dan kajian-kajian atas berbagai kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini MITI dipimpin oleh Dr. Warsito P Taruno, M.Eng dengan Ketua Dewan Pakar Dr. Ade Komara Mulyana.
Muarif
Humas MITI









