Tag Archive | "RCDC"

Upgrading dan Penandatanganan MoU Kerjasama RCDC Jogja

Tags: , , ,

Upgrading dan Penandatanganan MoU Kerjasama RCDC Jogja

Posted on 22 December 2011 by admin

RCDC subwilayah Yogyakarta – Pada hari Ahad, 11 Desember 2011 lalu telah mengadakan upgrading di Dusun Bedukan, Desa Pleret, Bantul. Training yang diadakan di rumah bapak Hanafi, S.Ag, M.Ag ini diperuntukan bagi tim cluster riset RCDC yang sedang mengadakan kegiatan community development di Dusun tersebut. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 18 mahasiswa dari kampus UGM, UNY, Amikom, dan UIN Sunan Kalijaga. Sebagian besar mahasiswa ini merupakan alumni peserta Workshop Riset, Training Riset Comdev maupun Training for Trainer Riset Comdev MITI-Mahasiswa yang diadakan di beberapa kampus di Yogyakarta.

Salah satu alumni yang tidak pernah absen mengikuti serangkaian kegiatan tersebut adalah Shofiyati Nur Karimah (Amikom) yang saat ini menjadi anggota cluster IT RCDC MITI-Mahasiswa. Shofi mengatakan bahwa beberapa kegiatan MITI-Mahasiswa seperti workshop riset, training riset comdev dan TFT Riset comdev membuat dia sadar betapa pentingnya riset dan implementasi ilmu di bangku kuliah untuk masyarakat. Lebih lanjut Shofi mengatakan bahwa MITI-Mahasiswa juga sangat menginspirasi terbentuknya Komunitas Riset dan Teknologi (KRETA) Amikom sehingga saat ini KRETA Amikom berkembang pesat dan dapat berpartisipasi dalam kegiatan comdev MITI-Mahasiswa.

Kegiatan Training Riset Comdev di UNY

Kegiatan Workshop Riset di Amikom

TFT Riset Comdev MITI-Mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga

Fokus utama upgrading ini adalah agar tim cluster riset RCDC lebih mengenal potensi dan karakteristik masyarakat Dusun Bedukan dengan menghadirkan bapak Muhammad Hanafi, S.Ag, M.Ag. selaku tokoh setempat dan berdiskusi banyak hal tentang kondisi masyarakat dusun Bedukan serta strategi-strategi pendekatan yang tepat sesuai dengan karakteristik tersebut. Selanjutnya tim cluster juga sharing berbagi pengalaman tentang urgensi dan pengelolaan community development berbasis riset mahasiswa yang dipandu langsung oleh Tri Hanifawati selaku PLH RCDC Pusat MITI-Mahasiswa periode 2010/2011.

Dalam sesi ini tim berdiskusi dengan beberapa pengurus MITI-Mahasiswa dan beberapa anggota cluster yang pernah memiliki pengalaman community development, diantaranya Fajar Inggit Pambudi, pemenang HIBAH MITI-Mahasiswa tahun 2010 yang juga koordinator cluster bidang energi RCDC MITI-Mahasiswa; Tasik Aji Prabowo, direktur LSM Sahabat Peternak di wilayah korban erupsi merapi tahun 2011 yang juga anggota cluster peternakan RCDC MITI-Mahasiswa; Anang Febri Prasetyo, paskasarjana peternakan UGM yang concern di bidang community development yang juga merupakan anggota cluster peternakan RCDC MITI-Mahasiswa, Siti Atikah yang pernah menjadi Korlap pemulihan Gempa di Pangalengan, Bandung, yang juga merupakan anggota cluster pendidikan RCDC MITI-Mahasiswa serta beberapa anggota cluster lain.

Tim cluster RCDC MITI-Mahasiswa dalam Upgrading sesi team work

Pengurus RCDC subwilayah Yogyakarta bersama Presiden MITI-Mahasiswa ketika berkunjung ke Dusun Bedukan

Sesi terakhir dari upgrading ini diisi dengan materi team work building full outdoor oleh Arman Hasan dari Figure-X training dengan penekanan kepada urgensi penguatan kerjasama semua tim cluster dalam mensukseskan kegiatan comdev di Bantul. Keberhasilan community development MITI-Mahasiswa ke depan tentunya harus ditopang oleh tim yang solid, terbuka, dan komitmen sehingga penguatan tim RCDC dalam hal soliditas dan kerjasama harus terus dijaga. MITI-Mahasiswa ibarat sebuah kapal dimana penumpang di dalamnya harus senantiasa saling menjaga, saling melindungi dan mematuhi peraturan-peraturan berlayar sehingga kapal dan para penumpangnya dapat sampai ke tujuan  dengan selamat.

Dalam kegiatan ini juga dilakukan penandatanganan MoU kerjasama antara PLH RCDC Pusat MITI-Mahasiswa dengan lembaga asal tim cluster sebagai bentuk penguatan peran serta mereka dalam kegiatan community development. Adapun beberapa lembaga yang terlibat dalam kerjasama comdev Integrated Farming System Berbasis Teknologi dan Pemberdayaan Masyarakat di Bantul ini diantaranya adalah Forum Study Mahasiswa Peternakan (Fosmapet) UGM, Komunitas Riset dan Teknologi Amikom (KRETA), Centre of Excellent Students (CES) UNY, Forum Kajian Islam Sains dan Teknologi (FKIST), Majlugho, Forum Riset dan Kajian (FoRiska) dan English of Science and Technology (ECS) UIN Sunan Kalijaga.

Cahyo Prihantoro selaku masinis KRETA Amikom periode 2011 dan juga koordinator cluster IT dalam proyek IFS ini menyatakan bahwa “RCDC MITI-Mahasiswa memberikan banyak bekal pengalaman dan pelajaran kepada anggota KRETA, selain itu dapat memperluas jaringan relasi, juga sebagai wadah untuk membuktikan bahwa IT bisa bermanfaat untuk masyarakat.” Hal senada juga disampaikan oleh Eko Rizqa ketua CES UNY bahwa mahasiswa CES UNY mendapatkan semangat baru untuk berkontribusi langsung dengan masyarakat. Eko berharap bahwa upaya yang dilakukan MITI-Mahasiswa dan gabungan beberapa kampus di Yogyakarta yang tergabung dalam RCDC MITI-Mahasiswa ini akan berdampak jangka panjang terhadap masyarakat, tidak  hanya sekedar musiman/mengejar proyek semata. CES UNY bangga bisa menjadi bagian dari agen-agen perbaikan bangsa. Lystia Rosmita, ketua ESC UIN Sunan Kalijaga dan juga koordinator cluster Desa Asri RCDC MITI-Mahasiswa mengatakan bahwa kegiatan community development bisa menjadi ajang akselerasi keilmuan dan potensi bagi mahasiswa yang terlibat sehingga mahasiswa mampu mengimplementasikan keilmuan yang diperoleh di bangku kuliah. Tidak sekedar teori, namun juga pelatihan mental dalam menghadapi masyarakat. Yang tidak kalah penting program comdev yang dicanangkan oleh MITI-Mahasiswa  memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.

Liputan langsung: Cluster IT RCDC MITI-Mahasiswa Yogyakarta

Comments (2)

Liputan RCDC di Dusun Bedukan Jogja

Tags: , , , ,

Liputan RCDC di Dusun Bedukan Jogja

Posted on 28 November 2011 by admin

Sejak pertengahan tahun 2011 RCDC MITI Mahasiswa sudah merintis kegiatan community development (comdev) di Yogyakarta. Kegiatan yang bertemakan “Integrated Farming System Berbasis Teknologi dan Pemberdayaan Masyarakat” ini diadakan di Dusun Bedukan, Desa Pleret, Bantul, Yogyakarta. Di dusun ini terdapat 5 Rukun Tetangga dengan jumlah penduduk sekitar 640 jiwa yang terdiri dari 225 keluarga. Memiliki luas lahan sekitar 12 hektar dan baru 8 hektar luas lahan yang sudah produktif. Mata pencaharian utama penduduk adalah buruh tani.

Kegiatan sosial masyarakat dikoordinir oleh lembaga kemasyarakatan seperti LPMD, PKK, Karang Taruna, dan kelompok ternak NITI Rejeki. Sejak tahun 2009 sudah mulai dibangun sentra-sentra peternakan oleh kelompok ternak NITI Rejeki dan berkembang hingga saat ini. Melalui hasil musyawarah antara kelompok ternak dengan masyarakat serta dorongan dari pemerintah pusat maupun daerah telah ditetapkan bahwa kawasan yang berada di pinggir barat Dusun Bedukan dijadikan sebagai lahan sentra peternakan. Hingga saat ini telah berhasil dibangun kandang kambing, sapi, dan kolam ikan. Adapun embung kolam ikan dan kandang unggas sedang dalam tahap proses pembangunan. Peternakan ini juga kelak diharapkan akan menjadi mata pencaharian utama penduduk Dusun Bedukan.

Sebagian sentra ternak NITI Rejeki, Dusun Bedukan, Desa Pleret, Bantul

 Dengan kondisi tersebut, MITI-Mahasiswa melalui unit khusus Research and Community Development Center (RCDC) subwilayah Yogyakarta melihat bahwa Dusun Bedukan, Desa Pleret, memiliki potensi peternakan yang sangat luar biasa untuk dikembangkan. MITI-Mahasiswa menangkap kondisi ini sebagai sebuah momentum yang baik untuk melaksanakan aksi nyata di masyarakat dan fokus pada pendampingan peternakan ayam buras yang juga merupakan salah satu master program dari kelompok ternak NITI Rejeki. Pendampingan peternakan ayam buras ini terintegrasi dalam kegiatan pembibitan, pembesaran, pembuatan pakan, dan pengolahan limbah ternak. Adapun tim ahli cluster riset peternakan ini berasal dari mahasiswa peternakan UGM dan bekerjasama dengan Forum Study Mahasiswa Peternakan (Fosmapet) UGM.

Selain kegiatan peternakan, aktivitas comdev RCDC Yogyakarta di Dusun Bedukan juga didukung oleh beberapa kegiatan lain yang terangkum dalam beberapa aktivitas cluster riset, yakni Budidaya Ikan Lele (UGM), Energy Biogas (UGM), Pendidikan dan Kepemudaan (UNY), Aplikasi Teknologi Informasi (Amikom), Desa Asri (UIN), dan Kerohanian Islam (UIN). Harapan dari RCDC MITI-Mahasiswa, Integrated Farming System yang akan dibangun di Dusun Bedukan dapat didukung oleh aktivitas lain yakni kegiatan pengembangan sumber daya masyarakat, jaringan dan pasar yang memadai, serta potensi Integrated Farming itu sendiri.

Pada tanggal 19 November 2011 sebanyak 8 mahasiswa yang merupakan perwakilan dari setiap cluster riset RCDC MITI-Mahasiswa mengadakan kegiatan pembuatan pupuk organik, pembuatan silo, pembuatan telur asin, dan penyemaian benih pada polibag di Dusun Bedukan. Kegiatan ini dihadiri oleh Bapak DR. Warsito P. Taruno selaku ketua MITI Pusat dan diliput oleh TVone. Kegiatan ini juga diikuti oleh kelompok ternak NITI Rejeki, ibu-ibu PKK, dan sebagian masyarakat. Kunjungan DR Warsito ke Dusun Bedukan adalah dalam rangka peninjauan lapangan terhadap perkembangan desa inovasi MITI-Mahasiswa di Yogyakarta. Kegiatan yang beliau lakukan adalah mengetahui proses aplikasi teknologi yang diterapkan pada usaha ternak sapi potong.

Dengan melihat potensi pakan sapi yang melimpah pada musim hujan dan minim saat musim kemarau, maka diterapkan pakan silo sebagai alternative, yakni mengawetkan hijauan makanan ternak. Menurut Anang Febri Prasetyo (salah satu tim ahli dari cluster peternakan RCDC MITI-Mahasiswa) menjelaskan bahwa silo dapat dibuat dari hijauan segar (rumput raja) yang telah dicacah dengan ukuran sekitar 15-20 cm kemudian dicampur dengan bahan lain. Bahan lain ini merupakan campuran dari air, molase, dan bekatul. Tujuan dari pengolahan pakan ini adalah untuk meningkatkan kualitas bahan, memudahkan penyimpanan, pengawetan, meningkatkan palatabilitas (kesukaan ternak pada pakan tersebut), dan meningkatkan efisiensi pakan. Pakan yang telah dijadikan silo dapat bertahan hingga 6 bulan bahkan tahunan.

Warga didampingi MITI-Mahasiswa sedang membuat pakan silo dari hijauan segar

Lebih lanjut Anang menjelaskan bahwa selain silo, teknologi juga diterapkan dalam pembuatan pupuk bokasi. Kotoran sapi yang dihasilkan dari peternakan NITI Rejeki cukup banyak sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Untuk meningkatkan kualitas pupuk diterapkan pembuatan kompos. Bahan utama yang diperlukan adalah kotoran ternak yang berasal dari kotoran sapi dan kambing di sentra peternakan Dusun Bedukan. Bahan utama tersebut kemudian dicampur dengan sekam padi, serbuk gergaji, kapur bubuk (gamping) dan starter. Campuran bahan tersebut kemudian ditumpuk dan akan menjadi kompos setelah 21 hari. Kompos yang terbentuk menjadi tidak berbau dan seperti tanah biasa. Kompos yang sudah dihasilkan saat ini masih digunakan untuk kalangan masyarakat Bedukan yakni untuk penanaman tanaman sayuran di dalam polibag di sekitar rumah dan di sekitar sentra lokasi peternakan.

Proses pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi dan pembibitan tanaman polybag

Dapat disimpulkan bahwa usaha peternakan dari kelompok NITI Rejeki ini merupakan usaha ternak yang ramah lingkungan dan menerapkan system bersih karena seluruh limbah dimanfaatkan dengan baik sehingga tidak mencemari lingkungan. Liputan oleh TVone diakhiri dengan kegiatan penanaman bibit pohon durian super oleh Dr. Warsito sebagai kenang-kenangan kunjungan dan simbol bahwa usaha yang dilakukan oleh masyarakat tetap memperhatikan lingkungan.

Penanaman pohon durian oleh Dr. Warsito P. Taruno

Selesai mengikuti acara di Dusun Bedukan, tim RCDC MITI-Mahasiswa bersama Dr. Warsito dan crew TVone bergerak menuju lokasi proyek Energi Kincir Angin di Pandansimo, Bantul. Di sini tim RCDC MITI-Mahasiswa melihat-lihat teknologi kincir angin dan pemanfaatannya di sekitar pantai Pandansimo, menikmati indahnya pantai Pandansimo, dan mengikuti workshop pembuatan baling-baling kincir angin di laboratorium workshop yang tidak jauh dari pantai.

Salah satu prototype kincir angin di pantai Pandansimo, Bantul

Percontohan pengembangan energi listrik hybrid di Bantul, Yogyakarta, dilaksanakan dari hasil kolaborasi Pemerintah, Industri, Akademisi dan Komunitas yang dikenal dengan ABG-C (Academic , Business, Government-Community), yakni antara Kementrian Riset dan Teknologi (RISTEK), LAPAN, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), E-Wind Energy PTE, Pemerintah Kabupaten Bantul, UGM, dan Masyarakat. Energyi listrik hybrid sangat cocok untuk dipasang di beberapa wilayah pesisir kawasan Indonesia. Pembangkit ini merupakan sumber energi terbarukan yang relevan untuk dikembangkan di Indonesian karena potensi energi surya di Indonesia sangat tinggi dengan intensitas radiasi rata-rata 4-5 kWh/m2 yang berlaku sepanjang tahun. Dewasa ini, pemanfaatan energi surya di Indonesia baru mencapai 5 MWp (ESDM). Energi hybrid di Bantul ini memanfaatkan potensi angin yang cukup besar di Pantai Pandansimo dan potensi sinar matahari secara berkesinambungan dalam bentuk kincir angin yang terintegrasi dengan solar sel. Energi listrik hybrid di Bantul saat ini baru dimanfaatkan untuk penerangan jalan di sekitar pantai Pandansimo, produksi es untuk pendinginan ikan hasil tangkapan nelayan, dan mengangkat air. Pembuatan desain kincir dilakukan di laboratorium workshop yang tidak jauh dari pantai Pandansimo.

Liputan langsung: Tri Hanifawati

Comments (2)

RCDC: An Overview

Tags:

RCDC: An Overview

Posted on 07 November 2011 by admin

Sebuah gambaran tentang Research and Community Development Center MITI-Mahasiswa.

Dalam era globalisasi yang penuh persaingan ini, kekuatan ekonomi dari suatu negara sebenarnya berakar dari kemampuan penguasaan teknologi dan inovasi yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Untuk mendorong akselerasi kemakmuran suatu bangsa, maka kekuatan iptek dan inovasi perlu ditempatkan sebagai penggerak utama kekuatan ekonomi.

Dalam rangka mewujudkan kemandirian dan kemajuan ekonomi di Indonesia, maka perlu didukung oleh adanya suatu kemampuan dalam mengembangkan potensi domestik, yaitu: melalui pengembangan  perekonomian yang didukung oleh penguasaan dan penerapan teknologi, selain itu juga perlu diikuti oleh adanya peningkatan produktivitas, kreativitas, dan kemampuan inovasi sumberdaya manusia, pengembangan kelembagaan ekonomi yang efisien diikuti dengan menerapkan praktik-praktik terbaik dan prinsip-prinsip good governance, serta penjaminan ketersediaan kebutuhan dasar dalam negeri.

Menurut data statistik pada tahun 2008[1], jumlah penduduk miskin tercatat berjumlah 34,96 juta jiwa (15,42%) dan pada tahun 2009 (Maret 2009) tingkat kemiskinan di Indonesia turun menjadi 31,53 juta jiwa atau sekitar 14,15%. Jumlah penduduk miskin di desa menunjukkan lebih dominan yaitu sekitar 63,5% dan di kota sekitar 36,5%.

Selanjutnya untuk mempercepat proses pengentasan kemiskinan, di samping usaha-usaha pemerintah yang telah dilakukan, diperlukan pula program-program implementasi teknologi dalam kerangka community development yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan (pro-poor technology). Program ini dapat dilaksanakan melalui program-program difusi dan atau transfer teknologi khususnya untuk usaha kecil dan menengah, serta penguatan institusi intermediasi.

Pemuda dengan dipelopori mahasiswa, harus dapat mengambil peran penting dalam perkembangan iptek di masa mendatang. Dalam pembangunan iptek, terdapat beberapa kelemahan yang perlu diatasi dalam pembangunan Iptek di Indonesia. Kelemahan tersebut berpangkal dari penghasil teknologi, pengguna teknologi dan persoalan intermediasi diantara keduanya. Oleh karena itu, kekerabatan erat antar Academisian, Businness, and Goverment (ABG triple-helix) harus terus diupayakan dalam mengembangkan Iptek di Indonesia  (Sulawatti, 2008).

MITI-Mahasiswa merupakan salah satu inspirator terkemuka dalam pembangunan iptek di kalangan pemuda Indonesia. MITI-Mahasiswa yang menjadi organisasi pemuda berbasis iptek di Indonesia mempunyai peranan vital dalam menstimulus, menginisiasi kreativitas, membina generasi muda berbasis iptek, menyelaraskan antar elemen keilmuan nasional, dan menjadi pelopor gerakan penguatan iptek di kalangan pemuda untuk turut serta mendorong percepatan pembangunan nasional.

MITI-Mahasiswa menyadari dan melihat bahwa pemuda dan mahasiswa mempunyai karakter kuat sehingga dapat digunakan sebagai energi penggerak pembangunan. Menurut MITI-Mahasiswa, pemuda dan mahasiswa memiliki idealisme, semangat tinggi, dan mampu berpikir bebas. Bila tiga karakter tersebut digunakan untuk menemukan persoalan nyata, melandasi aktivitas, inovasi, dan kreativitas, niscaya peran pemuda dan mahasiswa akan menjadi lebih nyata dan bermakna. Peranan penting pemuda tersebut perlu dibingkai dalam sebuah aktivitas yang lebih intens dan fokus pada disiplin ilmu yang ditekuni dengan tetap memperhatikan permasalahan yang timbul serta kebutuhan nyata masyarakat. Disini MITI-Mahasiswa hadir untuk menjembatani problem intermediasi teknologi antara penghasil teknologi dan pengguna teknologi dalam hal ini masyarakat.

Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut, maka MITI-Mahasiswa membentuk sebuah unit kerja khusus yang bernama Research and Community Development Center atau disingkat RCDC yang mulai dirintis oleh pengurus Departemen Riset dan Comdev MITI-Mahasiswa di Yogyakarta pada akhir tahun 2010. Dan akhirnya disahkan sebagai unit kerja khusus kerjasama antara Departemen Riset Interdisipliner (RI) dan Pendayagunaan Iptek (PI) MITI-Mahasiswa pada saat raker MITI-Mahasiswa di Bandung awal tahun 2011. Potensi mahasiswa sebagai bagian dari kaum akademisi harus dimanfaatkan perannya untuk kesejahteraan masyarakat. Potensi mahasiswa khususnya dalam bidang riset merupakan kombinasi yang menjanjikan bagi pengembangan iptek dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Namun demikian, untuk menciptakan kondisi ini diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan kebijakan pendukung yang dapat dijadikan acuan. Dibentuknya RCDC bertujuan untuk memberikan arahan kepada mahasiswa agar dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dalam bentuk aplikasi riset teknologi tepat guna di masyarakat. Pencapaian tujuan tersebut dilakukan secara bertahap dimulai dari menumbuhkan kecintaan terhadap riset di kalangan mahasiswa, menumbuhkan kesamaan cara pandang tentang riset dan aplikasi riset, inovasi riset yang terarah, dan komunikasi yang intens antara para periset mahasiswa (dalam bentuk diskusi kluster riset) hingga pada aplikasi hasil riset di masyarakat (dalam bentuk community develompement).

RCDC diharapkan dapat menjadi wadah untuk menghaplikasikan kegiatan comdev berbasis riset mahasiswa di masyarakat. Kegiatan tersebut dimulai dari perintisan dan pembentukan kluster riset mahasiswa. Selanjutnya kluster riset ini diarahkan dan dibimbing untuk melakukan research by need, yakni riset yang dilakukan berdasar pada kebutuhan masyarakat, untuk menjawab problem masyarakat dan mengotimalkan potensi lokal di suatu wilayah dimana kluster riset itu berada. Hasil riset lebih lanjut diaplikasikan dalam sebuah kegiatan community development yang terorganisir di bawah monitoring dan evaluasi RCDC MITI-Mahasiswa.

Secara struktural RCDC MITI-Mahasiswa terbagi menjadi dua komponen, yakni RCDC-Pusat dan RCDC Wilayah. RCDC Pusat terdiri dari perwakilan pengurus MITI-Mahasiswa dari Departemen RI dan PI. RCDC Pusat bertugas untuk melakukan monitoring dan supervisi terhadap RCDC Wilayah yang beranggotakan pengurus MITI-Mahasiswa dan perwakilan mahasiswa dari kampus mitra MITI-Mahasiswa. Di awal tahun 2011, RCDC sudah terbentuk di wilayah Jateng-DIY fokus di sub wilayah Yogya, Solo, dan Semarang; Jabajakal (Jawa Barat, Jakarta, dan Kalimantan) dan fokus di Bandung dan Depok; Jabalnusra (Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara) dan focus di Malang dan Surabaya; serta Sumatera.

Tugas dan peran RCDC di wilayah adalah mengakselerasi kampus dalam mengembangkan kultur riset di kampus mitra MITI-Mahasiswa, membentuk dan mengelola kluster-kluster riset mahasiswa dan menjembatani aplikasikan hasil-hasil riset mahasiswa di masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dilakukan beberapa kegiatan yakni: workshop riset, training riset dan community development, pembentukan dan pendampingan kluster riset, inisiasi desa inovasi, serta menjembatani berbagai pihak (periset dan penyedia dana) dalam aplikasi comdev berbasis riset mahasiswa di masyarakat.


[1] Data dikutip oleh Adhita Sri Prabakusuma dari Lampiran II Keputusan Menristek RI Nomor 193/M/Kp/IV/2010 tanggal 30 April 2010 tentang Arahan Riset Nasional 2010-2014.

Comments (1)

Tags: , , ,

Departemen Riset Interdispliner

Posted on 24 October 2011 by admin

Riset Interdispliner merupakan departemen dalam MITI Mahasiswa yang berkomintmen untuk membangun dan mengembangakan iklim riset di kalangan mahasiswa yang ada di seluruh Indonesia. Hal ini kami lakukan untuk mendorong mahasiswa untuk terus berkarya dan menghasilkan beragam kontribusi nyata bagi bangsa berdasarkan riset dari berbagai multidisiplin ilmu yang ada.

 

Comments (0)

Yang-aku-lupakan-nama-sistemnya

Tags: , , , , , ,

Training for Trainer MITI-M

Posted on 22 October 2011 by admin

Berikut ini merupakan beberapa sketsa yang diambil ketika pelaksanaan Training For Trainer Research & Community Development Centre MIT-M yang dilaksanakan di UIN Sunan Kalijaga pada hari pertama & Desa Sukunan pada hari keduanya.

Salah satu hal yang menyenangkan adalah ketika melakukan kunjungan ke Desa Sukunan yang masyarakatnya telah berhasil dalam mengelola sampah. Keberhasilannya tersebut pun juga mengantarkan mereka mencapai kemandirian ekonomi, meski tanpa bantuan dari pemerintah. Satu hal yang pasti di desa tersebut adalah ‘tidak ada sampah di sana’. Coba bayangkan, jika ada banyak lingkungan di Indonesia yang meniru kebiasaan baik Desa Sukunan, akan seperti apa Indonesia di masa depan nanti ya? (Ega) Continue Reading

Comments (2)

100_7719

Tags: , , , , ,

Program

Posted on 21 October 2011 by admin

Berikut ini adalah beberapa program yang kami:

  1. Riset dan Pemberdayaan Masyarakat
  2. Riset kultur Ilmiah kampus
  3. TFT (Training for Trainer) Comdev
  4. Pelatihan Mapres dan Persiapan Beasiswa di Luar Negeri
  5. Hibah MITI dan MITI Paper Challenge
  6. Research Cluster
  7. RCDC (Research and Community Development Center)
  8. RIC (Research Information Center)
  9. MITI Award

Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here