Tag Archive | "pemuda"

Tags: , , , ,

Teknopreneurship Pemuda 2012

Posted on 27 March 2012 by admin

KOMPETISI TECHNOPRENEURSHIP PEMUDA

Salah satu strategi dalam rangka meningkatkan inovasi dan kreativitas pemuda adalah melalui pertumbuhan usaha baru berbasis teknologi (Technopreneurship). Untuk itu Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia menyelenggarakan:

Kompetisi TechnopreneurshipPemuda
Seleksi Kompetisi Technopreneurship Pemuda 2012 akan dilaksanakan dalam 2 (dua) tahap.  Kelompok peserta yang lulus seleksi tahap I wajib mengikuti Technopreneurship Boot Camp (Pelatihan) selama 10 hari di Puspiptek Serpong.

Tujuan

  • Memanfaatan iptek yang bernilai ekonomis untuk dapat dikembangkan oleh pemuda sehingga dapat berperan dalam perekonomian di suatu daerah.
  • Menumbuhkan minat pemuda menjadi technopreneur.

Sasaran

  • Terciptanya industri baru berbasis teknologi dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekonomi daerah.
  • Adanya gagasan-gagasan technopreneurship inovatif yang memiliki potensi untuk menjadi industri baru yang memanfaatkan pemanfaatan iptek.
  • Terwujudnya peningkatan kegiatan perekonomian (baru/existing) yang sustainable yang dipelopori oleh pemuda.

Aktivitas/Kegiatan

Waktu

Penerimaan proposal :
1. Soft copy
2. Hard copy + CD
Harus dikirim softcopy dan hardcopy
01 – 30 April 2012
1. Melalui email maksimal pukul 24.00 tanggal 30 April 2012
2. Melalui pos maksimal tanggal 30 April 2012 (cap pos)
Seleksi tahap I 1 – 18 Mei 2012
Pengumuman I 25 Mei 2012
Technopreneurship Bootcamp (pelatihan) 2 – 13 Juli 2012
Seleksi  Tahap II 12 – 13 Juli 2012
Pengumuman pemenang 25 Juli 2012
Proses Administrasi
(termasuk penyiapan perusahaan)
Agustus 2012
Pelaksanaan Kegiatan Lapangan September – Nopember 2012
Laporan Awal 1 – 3 Oktober 2012
Monitoring Kegiatan (site visit) 16 – 30 Nopember 2012
Laporan Akhir 1 – 10 Desember 2012

Persyaratan Perserta

  • Peserta terdiri dari tim beranggotakan 3 – 5 orang dengan latar belakang pendidikan beragam.
  • Batasan usia peserta 16 – 30 tahun.

Persyaratan Proposal

  • Berbasis iptek, dan merupakan solusi dari permasalahan di daerah atau nasional;
  • Kegiatan yang diusulkan harus dijalankan di daerah asal masing-masing;
  • Menyertakan business plan sesuai dengan format terlampir;
  • Teknologi yang akan digunakan bersifat proven technology;
  • Teknologi yang akan diterapkan dapat berasal dari hasil litbang sendiri atau sumber lain;
  • Proposal yang diusulkan tidak sedang diajukan kepada lembaga lain.
  • Proposal yang diusulkan belum pernah memenangkan lomba/program sejenis yang diselenggarakan oleh lembaga lain.
  • Pengiriman proposal dalam bentuk :
  • Softcopy dikirim melalui email ke technopemuda@ristek.go.id maks 5 MB dalam satu file.doc, (subject email: provinsi_kata kunci judul proposal) dan
  • Hardcopy + CD dikirim kepada Panitia sejumlah 3 (tiga) eksemplar beserta CD yang berisi file proposal lengkap. Ke

Panitia Kompetisi Technopreneurship Pemuda
Kementerian Riset dan Teknologi
Deputi Pendayagunaan Iptek
Asisten Deputi Iptek Industi Kecil Menengah
Jl. MH. Thamrin No.8, Ged.II BPPT Lt6
Jakarta Pusat 10340


Download File:

Sumber: http://www.ristek.go.id/?module=File&frame=Pengumuman%2F2012%2Ftechnopreneurship_pemuda%2Findex.html

Comments (0)

Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Daerah

Tags: , , , ,

Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Daerah

Posted on 10 November 2011 by admin

Kita mengenal slogan “Pemuda harapan bangsa” atau “Maju mundurnya suatu bangsa tergantung pada pemudanya”. Mahasiswa adalah bagian pemuda yang selalu ditunggu perannya dalam pembangunan. Apa sajakah peran itu?

Kita telah memaklumi bersama bahwasannya mahasiswa termasuk kalangan elit. Hanya segelintir saja dari jutaan orang pemuda di Indonesia, yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Tak semua memiliki kesempatan masuk ke dalam kelas ini. Terlebih realita yang ada saat ini manakala biaya kuliah semakin mahal. Makin sedikit pula yang dapat merasakan hidup di dunia perguruan tinggi. Dan yang sedikit itulah, yang memiliki potensi strategis sebagai iron stock para leader di negeri kita ini.

Mahasiswa adalah kalangan yang memiliki potensi besar melakukan mobilitas. Bahkan, hal itu sudah dilakukan semenjak mereka resmi memiliki status sebagai mahasiswa, karena status itu termasuk kelas menengah. Ke depan, selepas menyelesaikan proses pembelajaran dan pencarian jati diri mereka di kampus, pintu melakukan mobilitas itu semakin terbuka. Mobilitas secara vertikal maupun horizontal, menuju ke posisi strategis di berbagai sektor yang akan mereka geluti, baik public sector, private sector atau third sector.

Besarnya potensi mereka itu –logis, karena hampir tidak mungkin negeri ini akan dipimpin oleh para lulusan SMP apalagi SD– tak luput dari besarnya harapan yang disematkan ke pundak mereka. Mereka diharapkan oleh masyarakat untuk nantinya kembali dan membangun masyarakat khususnya di daerah dari mana mereka berasal. Mahasiswa yang merantau, seolah-olah menjadi perwakilan daerah untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin kemudian diterapkan dalam pembangunan daerahnya suatu saat nanti. Dan ini memang menjadi salah satu peran yang harapannya bisa dijalankan oleh para mahasiswa, terlepas dari realita mahasiswa zaman sekarang yang tak sedikit menghabiskan masa studinya dengan hura-hura dan bersenang-senang.

Sebenarnya apa saja peran mahasiswa yang bisa dimainkannya dalam pembangunan daerah? Hal ini perlu dipahami bersama, karena ketidakjelasan peran akan menimbulkan kegamangan. Dan kegamangan akan mengakibatkan ketidakproduktifan. Maka tentang peran mahasiswa dalam pembangunan daerah ini perlu kita ulas lebih jauh. Namun, kita perlu terlebih dahulu melihat seberapa jauh potensi yang dimiiki oleh mahasiswa. Sehingga apa saja peran yang dapat dimainkan nanti, bisa kita lihat dari potensi yang ada dalam diri mereka.

Pertama, kita dapat melihat potensi mahasiswa dari aspek karakternya. Kita pahami bersama, bahwa mahasiswa memiliki karakter idealis. Semua hal dilihat dan ingin dibentuk dalam tataran ideal. Baik dalam kehidupan mahasiswa itu sendiri, keorganisasian, berbagai sistem dan kebijakan dalam masyarakat maupun dalam kehidupan negara. Mahasiswa biasanya menjadi orang yang paling resah dengan ketidakberesan, benci dengan ketidakadilan, menginginkan tegaknya aturan dan norma kebaikan. Dengan begitu tepatlah manakala mahasiswa disebut sebagai social control, mengkritisi setiap ketidakberesan berjalannya sistem di masyarakat maupun negara.

Pemuda memiliki tipe pemikiran yang kritis dan kreatif. Mahasiswa sebagai bagian dari pemuda tak lepas dari sifat ini. Sejarah mengatakan, bahwa perubahan-perubahan besar berawal dari para pemuda. Kita dapat melihat bagaimana peristiwa kebangkitan nasional, sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan Indonesia serta reformasi berawal. Semua tidak luput dari peran para pemuda. Pun begitu dengan berbagai peristiwa perubahan, revolusi dan pembaruan di beberapa belahan dunia.

Kaum muda memiliki frame berfikir yang khas. Berawal dari idealismenya dia kritis terhadap persoalan-persoalan, dan dengan kreativitasnya memberikan solusi-solusi dari persoalan yang ada. Tak jarang solusi yang mereka hasilkan merupakan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya oleh generasi yang lebih tua. Banyak terobosan baru yang mereka lahirkan, karena mereka punya paradigma berpikir yang berbeda. Karena berbeda paradigma, maka biasanya antara generasi tua dan generasi muda terjadi konflik pemikiran, antara paradigma lama dan paradigma baru. Kita dapat ambil contoh pada salah satu persitiwa besar, proklamasi kemerdekaan. Terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda tentang kapan proklamasi harus dilakukan.

Beberapa kelebihan yang bersifat alami di atas, yakni idealis, kritis dan kreatif membuat arus perubahan dapat diciptakan, menuju yang lebih baik sebagaimana idealita yang ada dalam benak mereka. Dipadu dengan sifat semangat, dan didukung oleh kekuatan fisik yang masih prima, maka arus perubahan semakin besar. Mereka tak akan kenal lelah dalam bekerja dan menggerakkan perubahan itu, sehingga dalam waktu yang tak terlampau lama apa yang mereka inginkan akan segera dicapai.

Kedua, potensi mereka dilihat dari aspek intelektualitas, kecerdasan dan penguasaan wawasan keilmuan. Ilmu dan wawasan yang dimiliki selain akan memperluas cakrawala pandangan, juga memberikan bekal teoritis maupun praktis dalam pemecahan masalah. Seorang mahasiswa akan dapat dengan mudah menyelesaikan masalah yang ada yang pada masa dahulu pernah ditemui manusia dan dirumuskan dalam berbagai teori pemecahannya. Atau, jika hal yang ada belum pernah ditemui sebelumnya, maka mereka sudah memiliki bekal yang metodologis dan sistematis tentang bagaimana cara menemukan pemecahan problem-problem yang ada. Tiada lain dengan riset, baik riset di bidang eksak maupun noneksak.

Potensi dari dua aspek yang ada itulah yang akan membuat mahasiswa dapat melakukan perannya. Syaratnya, kedua potensi itu benar-benar dikembangkan secara optimal oleh mereka baik secara personal maupun komunal sehingga dapat menjadi senjata yang siap digunakan untuk memberikan kemanfaatan terbesar bagi masyarakat. Potensi dari aspek karakter dikembangkan dengan berbagai aktivitas yang mengasah softskill, baik melalui kegiatan organisasi, pelatihan-pelatihan maupun aktivitas keseharian mahasiswa di luar kegiatan akademik. Sedangkan potensi intelektualitas dibangun melalui semua kegiatan yang mengasah hardskill, yakni kegiatan belajar mengajar, pengkajian, penelitian dan juga pelatihan. Dengan begitu mereka memiliki kualifikasi dan kompetensi menuju profil mahasiswa ideal, yakni mahasiswa yang memiliki integritas moral, kredibilitas sosial dan profesionalitas keilmuan.

Pada era sekarang ini, rasanya sudah tidak relevan lagi manakala implementasi peran mahasiswa hanya sekadar seperti apa yang dilakukan pada masa-masa lalu. Sebagian besar yang telah dilakukan mahasiswa untuk menjalankan peran sebagai agent of change dan social control dilakukan melalui aksi-aksi turun ke jalan. Aksi untuk menuntut perubahan kebijakan, penyebaran wacana dan opini ke publik, namun belum bisa memberikan solusi konkrit. Sudah saatnya hal itu diubah, sudah tiba waktunya bagi mahasiswa untuk memaksimalkan peran sebagai aktor intelektual yang dapat memberikan jawaban-jawaban dan solusi yang konkrit, membumi, aplikatif dan bermutu. Bukan sekadar wacana yang mengawang, atau alternatif solusi dari hasil analisis yang serampangan. Namun semuanya berbasis penguasaan keilmuan pada bidang masing-masing, melalui proses pengkajian yang mendalam dan komprehensif, dilihat dari berbagai sudut pandang secara interdisipliner sehingga menghasilkan solusi yang solutif.

Peran yang bisa dimainkan mahasiswa di daerah tentu tak terkungkung pada daerahnya masing-masing, namun bisa berperan di daerah lain. Juga tidak melulu yang bersifat konseptual, namun juga yang bersifat praktikal dengan terjun langsung di masyarakat. Yang jelas semuanya didasari oleh kerangka berpikir ilmiah. Mahasiswa dapat memulai aksinya berpijak dari masalah-masalah yang ada pada suatu daerah, maupun potensi besar yang belum terkembangkan atau teroptimalkan yang dapat menjadi senjata bagi daerah tersebut. Baik dalam bidang pangan, pendidikan, kesehatan, iptek, pertanian, sosial, budaya, pemerintahan dan lain sebagainya.

Di bidang pangan misalnya, suatu daerah memiliki keunggulan komparatif sebagai penghasil salak. Di setiap musim panen, produksi salak melimpah dan dapat mensuplai produk ke beberapa daerah lain yang membutuhkan. Permasalahannya adalah seringkali jumlah produksi salak melebihi permintaan yang ada, sehingga ada sisa yang setiap periode terbuang percuma, karena sifat produk pertanian yang cepat rusak. Berdasarkan permasalahan itu, seorang mahasiswa yang baik akan dapat mengubah permasalahan seperti itu menjadi potensi besar. Dia akan melakukan riset untuk menciptakan produk olahan dari salak, sehingga salak yang tidak termanfaatkan dalam bentuk mentah setelah menjadi produk olahan lain akan memiliki nilai jual lebih tinggi, disamping dapat meningkatkan daya tahan produk itu sendiri. Implikasi positif lain dari hal ini adalah membuka peluang usaha baru yang nantinya dapat menyerap tenaga kerja, dengan begitu pengangguran dapat dikurangi. Kripik salak dan selai salak merupakan contoh produk sebagai wujud nyata dari usaha semacam ini.

Contoh lainnya, manakala pada suatu daerah memiliki permasalahan pada banyaknya sampah padat yang tidak tertangani dan akhirnya menumpuk di beberapa tempat. Selain dari segi estetika tidak sedap bagi pemandangan, menimbulkan bau tidak sedap, dari aspek kesehatan dapat menjadi sumber beberapa penyakit, selain memberikan potensi ancaman banjir apabila menyumbat beberapa saluran air. Mahasiswa atau kelompok mahasiswa dapat memberikan solusi dengan program pemberdayaan masyarakat pengolahan sampah organik. Dampaknya pada pengurangan jumlah sampah yang ada secara signifikan, dihasilkannya produk olahan sampah organik misalnya menjadi pupuk organik yang memiliki kegunaan dan bernilai jual, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sampah.

Mahasiswa tidak harus terjun sendiri ke masyarakat secara swadaya, karena hal itu akan sangat berat. Alangkah sangat baiknya mahasiswa dapat merangkul berbagai pihak yang dapat diajak kerja sama dalam membuat proyek-proyek yang lebih besar untuk memberikan pencerdasan pada masyarakat dan memberdayakan mereka. Pemerintah daerah, pihak kampus (universitas) dan pihak swasta adalah pihak-pihak yang sangat bertanggung jawab dalam kemajuan masyarakat. Pemerintah daerah tentu saja pelaku utama yang bertanggung jawab penuh terhadap kemajuan masyarakat di daerahnya. Universitas memiliki kewajiban dalam pendidikan dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana tertuang dalam salah satu poin Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pihak swasta memiliki kewajiban untuk melaksanakan program-program CSR (Corporate Social Responsibility). Peran ketiga elemen besar itu harus dapat dioptimalkan, dan disinergikan. Dan hal ini dapat diinisiasi oleh mahasiswa.

Pihak pemerintah berperan dalam pendanaan sebagaimana telah dianggarkan, juga SDM pakar dengan adanya para petugas penyuluh lapangan dari departemen-departemen tertentu. Pihak universitas memberikan sumbangan dari sisi keilmuan, program (misalnya dengan priogram KKN) dan SDM pelaksana, yakni mahasiswa itu sendiri. Aspek dana juga didukung oleh pihak swasta, selain perannya dalam memenuhi kebutuhan akan instrumen berupa peralatan maupun perlengkapan. Sinergitas yang saling melengkapi dari ketiga pihak ini akan memberikan signifikansi sangat tinggi dalam upaya melaksanakan pembangunan daerah. Karena dengan sinerginya beberapa pihak tersebut, masing-masing tidak bekerja sendiri melalui program yang bisa jadi overlap satu sama lain sehingga tidak efektif dan efisien, bahkan kontraproduktif.

Ke depan, kesadaran akan pentingnya sinergitas antara beberapa pihak perlu semakin ditingkatkan, dan ini harus dimulai semenjak sekarang. Tak ketinggalan, penyiapan diri mahasiswa, yang ke depan juga akan menempati ruang-ruang strategis di pemerintah, swasta maupun kampus harus dilakukan semenjak dini, dengan cara:

  1. Pengembangan potensi diri dari aspek hardskill maupun softskill sebagai upaya memaksimalkan potensinya sebagai iron stock,
  2. Melakukan kontrol kebijakan pemerintah terhadap penentuan arah dan karakteristik pembangunan daerah,
  3. Berupaya untuk senantiasa memenuhi kebutuhan akan perbaikan dari kehidupan masyarakat dan berbagai permasalahan yang terjadi di sana melalui penerapan dan implementasi ilmu yang telah diperoleh di bangku perguruan tinggi,
  4. Mengembangkan jaringan (networking) dengan berbagai pihak, khususnya yang memiliki peran dan potensi dalam pembangunan daerah.

Semua itu tak dapat terwujud manakala tidak diawali oleh kepedulian serta sikap kritis terhadap peristiwa sosial yang melahirkan niat dan kemauan untuk turut berperan serta memperbaiki masyarakat. Sehingga nantinya cita-cita untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang berkedaulatan, berkeadilan, maju dan mandiri dapat diraih.

Cahya Hw.
Kepala Bidang Pembinaan Wilayah MITI-M 2009

sumber gambar: adirioarianto.wordpress.com

 

Comments (0)

Tags: , ,

LOMBA KREASI ANIMASI PEMUDA Hari Sumpah Pemuda ke 83

Posted on 05 November 2011 by admin

Masih dalam serangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 83 Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional (PP-PON), yang bernaung di bawah Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan Pekan Apresiasi Teknologi Informasi Pemuda dengan bentuk kegiatan “Lomba Kreasi Animasi Pemuda dengan hadiah total 25 juta Rupiah”.

Untuk mengikuti lomba ini peserta cukup mengirimkan email karya animasi dengan durasi 30 – 120 detik ke animasi.pemuda@gmail.com

Tema Kegiatan adalah: Membangun Semangat Kebangsaan Dengan Memanfaatkan Teknologi Informasi lomba ini bersifat terbuka dan dapat diikuti oleh pelajar, mahasiswa dan pemuda dari seluruh Indonesia. Continue Reading

Comments (0)

Jika Pemuda

Tags: , , , ,

Jika Pemuda

Posted on 03 November 2011 by admin

Jika kau artikan pemuda adalah ia yang semangatnya membara, maka baiknya kau lihat saja bapak tua penarik becak di pelosok desa. Nyala semangat kerjanya jauh melampaui manusia-manusia berseragam SMA yang sehari-harinya menghabiskan waktu di pinggir-pinggir jalan raya, sekedar menghabiskan jatah uang saku dari papa mama.

Jika kau artikan pemuda adalah ia yang nuraninya menjangkau sekitarnya, maka baiknya kau lihat saja ibu guru pengajar SD negeri. Nuraninya jauh melampaui manusia-manusia berseragam SMP yang asyik bermain di dunia maya, berselancar tak jelas dan tak peduli dengan sekitarnya. Continue Reading

Comments (2)

Percaya Perubahan Gradual

Tags: , , ,

Percaya Perubahan Gradual

Posted on 31 October 2011 by admin

Apa kesibukan mantan Menristek Suharna Surapranata usai dilengserkan dalam reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II beberapa waktu lalu? Tokoh Partai Keadilan Sejahtera yang jarang bicara ini, kini sibuk keliling dari satu kampus ke kampus lain. Setelah kampus UGM, jadwal padat ke berbagai kampus di Indonesia hingga akhir tahun ini sudah menanti.

‘’Saya kembali seperti awal karir dulu, membina mahasiswa,’’ katanya usai memberikan kuliah umum kepada ratusan mahasiswa dari berbagai kampus Indonesia pada Forum Silaturahim Nasional Lembaga Dakwah Kampus (Forsil LDK) di Kampus Bulaksumur, UGM Yogyakarta, akhir pekan lalu (28/10).

Terlihat lebih segar dan bersemangat, Suharna begitu antusias memberikan ilmunya dalam membina diri dan karakter kepada para aktivis dakwah kampus tersebut. Selaku pendiri dan pembina Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog (MITI), sebuah LSM yang didirikan sejak 2004 dan beranggotakan 300 doktor di berbagai belahan dunia tersebut, Suharna mengingatkan para aktivis mahasiswa untuk percaya bahwa perubahan terbaik bagi bangsa ini adalah perubahan gradual (bertahap).

Ia kemudian mencontohkan bagaimana di awal 80-an busana jilbab dilarang keras pemerintah. Namun, dengan berjalannya waktu dan keinginan banyak pihak akhirnya saat ini memakai jilbab tak sekedar menjalankan kewajiban agama, namun sudah menjadi mode. ‘’Bahkan di kalangan pejabat TNI, cukup banyak yang mengenakan jilbab, sesuatu yang tak terbayangkan di masa lalu.’’

Buat Suharna, perubahan secara gradual pula yang mengantarkan aktivis kampus menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. ‘’Contohnya saya, tak pernah terpikir jadi menteri karena dulu ambil jurusan Fisika. Tapi, lewat aktivis kampus yang jadi cikal bakal kelahiran MITI, akhirnya Alloh berkehendak lain. Dan saya yakin dari ratusan aktivis kampus seperti Anda, pasti akan ada yang menjadi pemimpin bangsa ini di masa depan,’’ katanya yang disambut teriakan takbir dari peserta.

Saat menjelaskan soal reshuffle dirinya, Suharna dengan enteng menjawab bahwa pergantian menteri itu ibarat pergantian nahkoda atau supir. “Kita sudah tahu mau kemana kapal atau mobil itu berjalan. Ibarat mau ke Semarang, di tengah jalan supirnya diganti kan nggak masalah sepanjang arah perjalanan itu tak berbelok ke tempat lain. Kalau lihat dia berbelok ke Yogyakarta, penumpangnya yang menegur dan mengarahkan kembali ke tujuan semula.’’

Humas MITI

Comments (0)

Pemuda dan Paradigma Bisnis Sosial

Tags: , , ,

Pemuda dan Paradigma Bisnis Sosial

Posted on 28 October 2011 by admin

Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober haruslah dimaknai sebagai refleksi untuk melakukan perubahan. Berkaca dari sejarah, generasi muda di masa lalu memiliki andil besar dalam memberikan sumbangsih bagi keutuhan bangsa. Perbedaan latar belakang agama, budaya, dan status sosial bukan menjadi satu hal yang melemahkan, melainkan sebaliknya, menguatkan keyakinan para pemuda untuk berikrar mempertahankan tanah air.

Namun demikian, apakah ikrar yang dulu diucapkan dapat tetap dipertahankan dan diwujudkan, manakala para pemuda melihat adanya jurang antara si miskin dan si kaya? Apakah hitam di atas putih saja mampu menyelesaikan krisis bangsa yang tidak kunjung reda? Bagaimanapun, setiap masa memiliki problematika dan tantangannya tersendiri. Hal inilah yang membuat karakter pemuda di masa lalu dan di masa sekarang menjadi berbeda. Karakter tersebut terbentuk sebagai akibat dari pergulatan konflik pada zamannya.

Dahulu, untuk merebut kemerdekaan bangsa, modal pemuda adalah bambu runcing dan semangat yang berkobar. Namun, di pascakemerdekaan, saat tidak ada sekat-sekat geografis antar negara, serta minimnya solusi tepat yang bisa mengatasi gap antara jumlah lapangan dan angkatan kerja, para pemuda dituntut untuk mengembangkan inovasi dan kreatifitas. Berwirausaha mandiri, misalnya, adalah salah satu upaya yang tepat untuk menjawab tantangan global.

Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here