Tag Archive | "nanoteknologi"

13087649701364817556_300x449.62779156328

Tags: , , ,

Hadi Teguh Yudhistira: “Strive to paradise, Endurance, and Struggle”

Posted on 24 January 2012 by admin

Pria muda yang memiliki nama lengkap Hadi Teguh Yudistira ini sedang menempuh pendidikan program doktoral dengan fokus penelitiannya pada bidang ‘Electrohydrodynamics Inkjet Printing Technology’.  Impiannya yang besar untuk terus berkarya membuatnya tak pernah mengenal lelah.

Saat ini, beliau juga aktif sebagai ketua dari radiopengajian.com dan koordinator dari Universitas Terbuka (UT) yang ada di Koreas Selatan. Berikut merupakan profilnya dari UT Korea.

Nama : Hadi Teguh Yudistira
Lahir : Medan , 12 September 1987
Alamat : Medan ,Indonesia
Domisili : Seoul ,South Korea
Pendidikan : SLTA Negri 1 Medan; Institute Teknologi Bandung I T B ( Alumni Teknik Fisika ITB 2004 ); Konkuk University ,Seoul 건국 대학교
Motto: Strive to paradise, Endurance and Struggle
Nano/Micro System Laboratory (NMSL)
Aerospace and Information Engineering Department
Bila ingin mengetahui lebih lanjut tentang siapa beliau, silahkan kunjungi blognya  di sini   Continue Reading

Comments (0)

Tags: , , ,

Menguak Dunia Nanoteknologi: Inovasi Aplikasi dalam Industri (Catatan Kecil Temu Wilayah JADIY)

Posted on 21 November 2011 by admin

Sabtu (12/11), Research Incubator Center FMIPA Undip mengadakan seminar nasional dan pameran inovasi tentang Nanoteknologi di gedung Prof. Sudarto, Tembalang. Acara ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa Undip saja, melainkan mahasiswa di luar Undip, seperti UGM, Unnes, dan UNS turut antusias atas tema seminar nasional yang diangkat. Berbagai mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu turut hadir di sini. Acara dibuka oleh Dr. Muhammad Nur, DEA, selaku Dekan FMIPA yang turut berperan pula sebagai peneliti.

Pembicara berkompeten seperti Drs. Suharna Surapranata, MT selaku Menteri Ristek RI (2009-2011) turut menyedot perhatian peserta. Selain itu, Dr. Warsito, M.Eng sebagai Ketua MITI yang mendapatkan hak paten Tomograf 4 D di NASA USA, CEO Edwar Technology bertindak sebagai pembicara kedua. Peneliti lain, Dr. Nurul  Tafiqu Nur Rahman, M.Eng turut berperan sebagai pembicara ketiga dan Prof. Dr. Harianto Haridjasaputra, guru besar teknik sipil Undip sebagai pembicara keempat. Seluruh pembicara berkolaborasi dan berdiskusi mengenai dunia nanoteknologi, suatu strategi pengembangan inovasi aplikasi riset dalam industri.

Teknologi berkembang dari masa ke masa. Semakin canggih sifatnya, maka akan semakin mempermudah pekerjaan manusia. Hal ini tidak terlepas oleh rasa keingintahuan yang tinggi dari seorang peneliti untuk menemukan inovasi baru dalam teknologi. Nanoteknologi adalah teknologi pada skala nanometer, atau sepersemilyar meter. Ukuran nanometer dapat dibayangkan ukuran sehelai rambut (kira-kira 50 mikrometer) dan satu nanometer adalah seperseribu mikrometer, atau kira-kira sama dengan diameter rambut kita yang telah dibelah 50.000 kali. Nanoteknologi menjadi penting dalam dunia rekayasa karena manusia berusaha untuk mengintegrasikan suatu fungsi atau kerja dalam skala ukuran yang lebih kecil dan lebih kecil sehingga memperkecil energi yang diperlukan dan mempercepat proses produksi.

Human Resources in Nanotechnology (KRT, 2009), dari total 620 peneliti di Indonesia, peneliti yang terbesar berasal dari LPND (47%), selanjutnya peneliti dari Universitas (46%), peneliti dari kementrian (4,5%), dan industri (2%). Bapak Suharna menjelaskan perlu adanya hubungan peran yang harmonis antara nation’s player: pihak pemerintah, dukungan usaha/ industri, serta masyarakat dalam mengembangkan teknologi. Ironisnya, baru 2% industri yang memanfaatkan inovasi yang tinggi. Apa yang dimiliki oleh inovator belum diterapkan sepenuhnya oleh dunia industri. Bangsa Indonesia tidak perlu pesimis atas peringkat daya saingnya yang masih jauh di atas rata-rata. Keunggulan kompetitif perlu dikembangkan dan peran dari nation’s player harus seimbang dan mampu menghubungkan titik-titik peluang yang ada.

From Lab to Market

Pengembangan nanoteknologi dari riset menjadi pemasaran industri memang memerlukan sebuah pengorbanan ‘darah’ dan ‘air mata’. Hal ini dijelaskan oleh Dr. Warsito, M.Eng, mengingat pengalaman beliau dalam merintis pembuatan 32 CH online, 4D ECVT hingga mendapatkan hak paten di NASA USA. Sebuah penghargaan besar bagi Indonesia berkat karya putra bangsa yang cemerlang di bidang nanoteknologi. Beliau turut menjelaskan tidak sesuatu yang instant atau tiba-tiba. Sebuah inovasi memiliki harga pengorbanan yang tak bisa diukur oleh materi.

Sebuah riset dapat dikatakan sebagai technopreneurship jika memiliki nilai jual/ nilai tambah. Kiat-kiat technopreneurship menurut ilmuwan yang satu ini antara lain bold will (keinginan yang amat kuat), defined offer (kontribusi yang real), due dilligent (menyelesaikan produk dengan finishing yang sempurna), dan sacrifice (nilai pengorbanan).  Tantangan start up entrepreneur berbasis inovasi perlu dikaji dalam forum ilmiah internasional, forum interaksi dengan industri, motivational educational, infrastruktur dasar dan legal formal.

Bapak Warsito mencontohkan tokoh Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple dan Pxsar Inc yang sempat putus sekolah lantaran masalah biaya serta didepak oleh saham perusahaannya sendiri karena alasan perilakunya yang irrasional namun ia dapat bertahan dan berkembang maju pesat akibat pemikiran baru yang dihasilkan. Beliau menjelaskan, “Kondisi adalah sebuah proses yang membuat Anda harus membuat pilihan. Hal yang menjadikan kita besar adalah karena kita belajar. So, jangan berhenti belajar meski kita sudah tergolong orang ‘besar’.”

Nanoteknologi sebagai cabang baru teknologi populer sedang dikembangkan dan diharapkan sebagai ruang pencerahan dalam pengembangan industri di Indonesia. Pada kenyataannya, produk dengan sentuhan nanoteknologi sudah banyak dimanfaatkan dan terdapat > 1000 jenis produk mulai dari aplikasi nanoteknologi di bidang proses pengolahan makanan, pertanian, kosmetik, konstruksi, medical and healthcare, dsb. Bapak Nurul mencontohkan produksi yang dibuat beliau sendiri seperti herbal nano; kopi nano, temulawak nano, dan daun kumis kucing nano yang telah digunakan oleh berbagai macam industri dan diekspor ke mancanegara. Herbal nano merupakan satu-satunya produk nanoteknologi dunia yang dirintis oleh beliau. Di sisi lain, Guru Besar Undip, Bapak Harianto mencontohkan produknya, Ultra High Performance Concrete (UHPC) aplikasi dalam struktur beton yang ramping, ringan serta penghematan energi.

Dalam acara diskusi, saya menanyakan tentang rokok herbal yang memanfaatkan nanoteknologi. Meski menimbulkan pro dan kontra tentang kehadiran rokok herbal, produk rokok herbal dalam skala ilmiah dinilai positif karena mengurangi radikal bebas bagi yang menghisap dan aroma terapi bagi yang menghirup. Namun sayang, daya jangkau masyarakat (terutam bagi pecandu rokok) masih rendah untuk mengkonsumsi rokok herbal karena belum dipasarkan secara luas dan harga rokok relatif mahal. Saya masih penasaran tentang peran pemerintah terhadap produk-produk nanoteknologi yang masih dicap ‘ekslusif’ sehingga belum dikonsumsi oleh masyarakat luas. Bagaimana cara untuk mengaplikasikan nanoteknologi dalam setiap industri sehingga dapat dimanfaatkan secara luas? Yap. Memang benar, perlu proses yang panjang dan pengorbanan besar seperti yang diuraikan oleh Bapak Warsito.

Dalam penutup seminar, Bapak Nurul menjelaskan perkembangan isu nanoteknologi dalam lima tahun terakhir sangat pesat dan dalam waktu dekat Indonesia akan memasuki ‘era nano’, di mana produk-produk nano membanjiri pasar nasional. Perhatian pemerintah dan swasta mulai intens dengan memfokuskan strategi percepatan penerapan nanoteknologi di industri nasional. Dukungan pemerintah baik berupa kebijakan dan insentif harus segera diberikan dalam rangka mengawal pertumbuhan industri nano di Indonesia.

Penulis & Foto: Ania Maharani 

Comments (0)

286128_2222713257966_1551765074_32367874_8008505_o

Tags: , , , ,

Kegagalan Teknopreneurship Akibat Tak Berbasis Kebutuhan

Posted on 15 November 2011 by admin

SEMARANG—Masih sedikitnya pelaku usaha berbasis teknologi (teknopreneurship) di Indonesia, menurut Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), Warsito P Taruno karena belum berbasis kepada kebutuhan masyarakat luas selaku pengguna teknologi tersebut. Akibatnya, para peneliti lebih banyak asyik dengan dunianya sendiri dan tak beranjak mengaplikasikan teknologi yang dihasilkannya ke dunia bisnis atau usaha.

‘’Banyak peneliti atau teknolog ketika ingin terjun ke dunia bisnis tak melihat seberapa besar kebutuhan masyarakat kepada teknologi yang dihasilkannya. Akibatnya ketika memaksakan diri untuk menjadikan teknologinya produk yang diminati masyarakat, mereka menemukan kegagalan,’’ papar Warsito saat berbicara di depan peserta Research and Technoday 2011 yang digelar Universitas Diponegoro, Semarang, Sabtu (12/11) lalu.

Menurut pendiri Edwar Technology dan pemegang paten teknologi pemindai empat dimensi ini (ECVT 4D) ini, ia banyak menemukan para peneliti yang lebih suka di laboratoriumnya saja, tanpa mencoba melihat demikian banyak kebutuhan masyarakat yang bisa dipenuhi dengan teknologi yang mereka miliki. Padahal bila mereka jeli, banyak peluang usaha yang bisa memanfaatkan teknologi yang mereka telah tekuni bertahun-tahun.

Kondisi makin diperparah dengan belum besarnya perhatian pemerintah kepada upaya penumbuhan UKM berbasis teknologi. ‘’Sudah tak berbasis kebutuhan publik, juga masih ada kesenjangan antara keinginan peneliti atau teknolog dengan perhatian pemerintah dalam membangun wirausaha berbasis teknologi. Harusnya, dua kepentingan ini menjalin sinergi sehingga peneliti atau teknolog yang merintis usahanya berbasis kebutuhan masyarakat didukung penuh oleh keinginan kuat pemerintah membangun dunia usaha berbasis teknologi,’’ papar peneliti yang tengah mengembangkan perangkat pembasmi kanker, khususnya kanker payudara ini.

Pentingnya sinergisitas dua pihak ini menjadi sebuah keharusan, sebab bila tidak gagal, usaha ini jalan di tempat atau tak berkembang. Warsito mencontohkan bagaimana Singapura gagal membangun teknopreneurship dari para penelitinya meski sudah mengucurkan dana insentif tak kurang dari  Rp 1 triliun selama 15 tahun. Demikian pula Filipina dan beberapa negara ASEAN lainnya.

Meski demikian, Warsito tak menampik bila peneliti yang membangun usahanya berbasis kebutuhan masyarakat dapat berkembang tanpa campur tangan pemerintah. Ia kemudian menunjuk Teraflux, sebuah perusahaan desain kapal kepercayaan pengusaha Amerika dan Jepang yang dipimpin Kaharuddin Jenod.

Juga, Xirca, perusahaan pembuat chip telekomunikasi nirkabel yang dimotori Eko Fajar sebagai bukti keberhasilan usaha peneliti yang berbasis kebutuhan masyarakat pengguna, meski tak ada campur tangan pemerintah.

‘’Atau seperti riset-riset nanoteknologi dari Pak Nurul Taufiqu Rohman yang kewalahan memenuhi order industri jamu atau kosmetik yang meminta bahan baku jamu atau kosmetiknya diberi sentuhan teknologi nano,’’ papar Warsito.

Pakar nanoteknologi Nurul Taufiqu Rohman yang berbicara di sesi Seminar Nano membenarkan bila teknologi nano yang dikembangnya semakin menarik minat kalangan industri. ‘’Nano teknologi diyakini sebagai sebuah konsep teknologi yang akan melahirkan revolusi industri baru di abad ke-21. Beberapa cabang ilmu terapan dan medis mengadopsi nanoteknologi dan nanosains dan menjadikan  pondasi utamanya,’’  ujar Nurul  yang juga Ketua Masyarakat Nanoteknologi (MNI) dan anggota Dewan Pakar Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Ia kemudian mencontohkan perkembangan nanoteknologi dalam dunia computer telah mengubah tak hanya ukuran computer semakin ringkas namun juga peningkatan kemampuan dan kapasitas yang luar biasa, sehingga memungkinkan penyelesaian program-program raksasa dalam waktu singkat. Bila diimplementasikan dalam pengolahan baja, maka nanobaja mampu menghasilkan baja yang berstruktur halus karena mampu mencapai ukuran beberapa puluh nanometer saja, namun memiliki kekuatan dan umur dua kali lipat dari baja terbaik yang ada saat ini.

‘’Padahal, teknologi nanobaja sangat sederhana dan tidak memerlukan peralatan tertentu untuk pembuatannya,’’ papar doctor bidang ilmu material dan rekayasa produksi dari Kagoshima University, Jepang tersebut.(*)


SEKILAS MITI:

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang teknologi ini berdiri pada 18 Januari 2004 oleh sekumpulan peneliti dan ilmuwan Indonesia. Berbasis di Jakarta, kini tak kurang dari 300 doktor berbagai bidang ilmu tergabung dan menjadi anggota. Selain memiliki cabang di berbagai daerah Indonesia, MITI memiliki perwakilan di beberapa negara lain.

Hingga kini, MITI bergerak dalam bidang pembinaan anggota (individu dan lembaga), pelayanan kepada publik, dan kajian-kajian atas berbagai kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini MITI dipimpin oleh Dr. Warsito P Taruno, M.Eng dengan Ketua Dewan Pakar Dr. Ade Komara Mulyana.

Muarif
Humas MITI

Comments (0)

390186_104124976368880_100003141340593_21580_1049603961_n

Tags: , , ,

Seminar Nasional dan Pameran Inovasi Nanoteknologi

Posted on 08 November 2011 by admin

 

 

Nanoteknologi terus dikembangkan oleh banyak negara di dunia, baik itu untuk industri ( IT, elektronika, farmasi, otomotif, tekstil, oil, dll ) kedokteran, bangunan, energi, pengolahan limbah dl.

RESEARCH AND TECHNO DAY 2011 ” NANOTEKNOLOGI ” merupakan “event” yang sangat efektif untuk meningkatkan peranan akademisi, peneliti, pelaku industri dan pemerintah untuk mengembangkan NANOTEKNOLOGI di Indonesia.

dalam acara RESEARCH AND TECHNO DAY 2011 ini akan diadakan SEMINAR NASIONAL NANOTEKNOLOGI, PAMERAN RISET DAN PRODUK NANOTEKNOLOGI, LKTI NASIONAL serta LAUNCHING NASAFOR ( NANO SAINS FORUM ) UNDIP. Continue Reading

Comments (0)

338321_2257433356374_1264579581_32210120_491428405_o

Tags: , , ,

RESEARCH AND TECHNO DAY 2011

Posted on 05 November 2011 by admin

RESEARCH AND TECHNO DAY 2011
______________________________​_____________________________

Seminar Nasional dan Pameran Nanoteknologi
“Strategi Pengembangan Nanoteknologi di Indonesia dan Aplikasinya dalam Industri”

Speaker :
1. Drs. H. Suharna Surapranata, M.T (Mantan Menristek RI Kabinet Indonesia Bersatu II, Pembina Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia)
2. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng (Ketua Masyarakat Nano Indonesia)
3. Prof. Dr. -Ing. Harianto Hardjasaputra (Guru Besar Teknik Sipil UPH, Ahli Beton Berteknologi Nano)
4. Dr. Agus Subagio (Dosen FMIPA UNDIP, Peneliti Material Carbon Nano Tube)
5. Manager R&D Pura Group Kudus

Continue Reading

Comments (0)

Drug Delivery: Solusi Pengobatan Efektif dengan Nanoteknologi

Tags: , , ,

Drug Delivery: Solusi Pengobatan Efektif dengan Nanoteknologi

Posted on 18 March 2011 by admin

Pengobatan konvensional seperti dengan suntik dan obat-obatan umumnya diberikan kepada seorang pasien. Namun, metode ini memiliki kelemahan, karena dosis obat yang diberikan tidak semuanya terserap, yang kemungkinan dalam jangka waktu tertentu dapat menjadi racun apabila tidak dibuang oleh tubuh. Selain itu, belum tentu obat yang diberikan langsung mengobati tepat pada bagian tubuh yang sakit. Inilah yang menyebabkan seorang pasien butuh waktu dalam proses penyembuhannya. Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here