Tag Archive | "miti"

Pengurus MITI klaster Mahasiswa 2012

Tags: , , , ,

Pengurus MITI klaster Mahasiswa 2012

Posted on 27 March 2012 by admin

Alhamdulillah, setelah melalui proses seleksi yang panjang akhirnya ditetapkan kepengurusan MITI klaster Mahasiswa 2012. Berikut nama-nama pengurus yang baru ditetapkan:

 

Ketua : drh. Tasik Aji Prabowo
Sekretaris Umum : Sofa Abdul Mu’in Multazam, S.Pd.
KaDept. HRD : Asnia Ratna Paramitha, S.Pt.
KaDept Jaringan dan Kemitraan : Aditya Rangga Yogatama, S.E.
KaDept Riset& Pendayagunaan Iptek : Mega Trisutha Pathiassana
KaDept Hubungan Luar Negeri : Iffan Sultami
KaDept Pembinaan Wilayah : Wa Ode Nur Isnah, S.Kep.
Korwil Sumbagut : Agus Salim Ka’ban
Korwil Sumbagsel : Nur Hasanah, S.E., M.Sc.
Korwil Jabajakal : Ahmad Ufuwan
Korwil Jabalnusra : Febria Azilda, S.TP.
Korwil Jateng-DIY : Eksa Rusydiana, S.P.
Korwil Kalimantan : Panji Arohman, S.Pi.
Korwil Sulawesi : Siti Zakiyah, S.Pd.

Selamat bekerja dan semoga amanah.

Comments (1)

Ilmuwan MITI temukan alat pembasmi kanker otak

Tags: , , , ,

Ilmuwan MITI temukan alat pembasmi kanker otak

Posted on 06 December 2011 by admin

Sekelompok ilmuwan CTech Laboratory, sebuah lembaga riset yang berafiliasi dengan Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), berhasil menemukan alat pembasmi kanker otak.

Pemimpin Tim Peneliti CTech Laboratory, Dr Warsito P Taruno Warsito, mengatakan temuan ini merupakan sebuah terobosan di dunia kedokteran yang telah berhasil dilakukan ilmuwan Indonesia. “Ini pengembangan alat dari riset kami di bidang tomografi. Setelah alat pembasmi kanker payudara, kami berhasil mendesain alat pembasmi kanker otak,” kata Warsito, Senin (3/12).

Alat ini menggunakan prinsip yang sama dengan alat pembasmi kanker payudara, yaitu menerapkan metode radiasi listrik statis. Dan temuan itu telah diuji coba pada seorang pasien penderita kanker otak kecil. “Alhamdulillah, setelah pemakaian dua bulan pasien dinyatakan sembuh total. Saya baru mendapat salinan hasil CT-Scan otak pasien oleh tim dokter rumah sakit,” ujar Warsito yang juga Ketua Umum MITI.

Kesuksesan tim dari CTech yang didukung oleh perusahaan Edwar Technology ini dipaparkan dalam forum pertemuan yang dihadiri tidak kurang dari 1.500 peserta dari berbagai kampus di Sumut, Sumbar dan Aceh.

Dalam seminar yang juga menghadirkan mantan Menristek Suharna Surapranata dan staf pengajar USU Dr Yani Absah tersebut, Warsito menceritakan proses terapi pasien penderita kanker otak kecil (cerebellum) yang saat pertama datang dalam kondisi yang mengenaskan.

Menurut Warsito, sang pasien sudah tak mampu bergerak karena otak kecil sebagai pengendali sistem motorik tubuhnya sudah tak bisa menggerakkan seluruh otot. Dia hanya bisa berbaring dan tak mampu bergerak, termasuk menelan makanan atau minuman yang diasupkan ke mulutnya.

Tim peneliti kemudian merancang perangkat yang disesuaikan dengan diagnosis dokter. Dalam terapi ini, kata Warsito, pihaknya memang bekerjasama dengan tim dokter ahli radiologi dan onkologi dari sebuah rumah sakit besar di Jakarta.

“Reaksi positif sudah kami peroleh dalam beberapa hari pemakaian. Pasien sudah bisa tersenyum dan sepekan kemudian sudah bisa menerima asupan makanan dan minuman dari mulutnya. Kondisi semakin membaik dalam waktu sebulan karena ia sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Dan puncaknya, dua bulan setelah terapi, pasien dinyatakan sembuh total dari kanker otaknya,” papar Warsito.

Menurut dia, metode radiasi listrik statis berbasis tomografi ini, sepenuhnya hasil karya anak bangsa yang bakal menjadi terobosan dalam dunia kedokteran. Selain akan merevolusi pengobatan kanker secara medis, juga akan meminimalisasi biaya yang harus dikeluarkan pasien atau keluarganya.

Sementara itu, mantan Menristek Suharna Surapranata, menyambut baik temuan tim CTech dan MITI ini. Menurut dia, perlu kajian lebih lanjut dan partisipasi banyak pihak yang berkepentingan guna mendapatkan hasil yang lebih baik.

“Kalau mendengar paparan beliau (Warsito), saya kira ini satu hal yang luar biasa dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak, khususnya pemerintah. Juga para pemangku kebijakan dari bidang kesehatan agar hasil penelitian dan penemuan ini memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia dan dunia,” demikian Suharna.

sumber: antaranews.com

gambar: Republika Online

Comments (0)

Tags: , , ,

ICMI dan MITI Dorong Kiprah Ilmuwan Muslim

Posted on 06 December 2011 by admin

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) selama ini dikenal sebagai wadah yang menaungi orang-orang pintar yang biasa kita sebut ilmuwan. Rupanya, selain ICMI, banyak pula ilmuwan yang bergabung pada wadah lain bernama Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI). Apa saja yang dilakukan dua organisasi ini dalam mendorong kiprah para ilmuwan Muslim di Tanah Air?

Mantan menristek Suharna Surapranata, salah seorang pendiri MITI, mengungkapkan, MITI berawal dari kepedulian dan perhatian akan berbagai persoalan bangsa, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Pada akhir dekade 80-an, sekitar sepuluh aktivis dakwah kampus (ADK) yang berkesempatan menimba ilmu di luar negeri khususnya bidang iptek menggagas berdirinya wadah untuk menghimpun mereka.”Wadah awal hanya berbentuk forum komunikasi SDM Iptek yang sifatnya sudah nasional, karena kami berasal dari berbagai daerah,” katanya kepada Republika, Selasa (15/11).

Menurut pria kelahiran Bandung, 13 Desember 1955 ini, sejak berdiri hingga kini MITI telah banyak melakukan kerja yang signifikan bagi pembangunan, khususnya di bidang iptek. Setidaknya ada tiga peran besar yang dijalankan MITI selama ini. Pertama, peran pembinaan dengan melakukan pembinaan profesi di kalangan anggotanya, mulai dari para mahasiswa hingga para doktor yang tersebar di berbagai kampus ataupun laboratorium di dalam dan luar negeri.

“Kami berikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi. Kami dukung riset-riset dengan hibah MITI. Pembinaan juga dilakukan terhadap lembaga atau asosiasi ilmuwan yang menjadi anggotanya seperti Masyarakat Nano Indonesia,” terangnya.

Kedua, peran pelayanan dan pemberdayaan kepada masyarakat secara luas. Berbagai aksi sosial dengan memanfaatkan penguasaan teknologi dilakukan para anggota MITI saat bencana terjadi di negeri ini. Tsunami di Aceh, banjir bandang di Jember, atau gempa bumi di Yogya menjadi saksi keterlibatan kuat MITI dalam memberikan solusi teknologi bagi para pengungsi atau korban bencana. “Di tempat-tempat itu, kami buat instalasi-instalasi air bersih dengan teknologi membran dan ozonisasi yang mampu mengubah air sehingga layak minum.”

Ketiga, peran memengaruhi kebijakan terkait dengan iptek. Sebagai lembaga nonpemerintah, kata Suharna, MITI berusaha memberi masukan dan mengkritisi kebijakan pemerintah dalam berbagai persoalan iptek. “Masukan secara objektif dan kritis disampaikan kepada para pemangku kebijakan.”

Seperti halnya MITI, ICMI pun mendorong para ilmuwan, peneliti, dan teknolog Muslim Indonesia untuk berkiprah lebih nyata dan memberi manfaat bagi orang banyak. “Nah, ini yang kita lakukan selama ini. Pekerjaan saya keliling nusantara selama ini antara lain melakukan hal ini,” ujar Hj Marwah Daud Ibrahim, anggota Presidium ICMI kepada Republika, Rabu (16/11).

Wanita kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan, yang juga ketua umum Masyarakat Singkong Indonesia ini menyebut salah satu penelitian dan perhatiannya terhadap singkong. “Kelihatannya sederhana,” cetus doktor komunikasi dari International American University, Washington DC, Amerika Serikat ini.

“Teman kita dari Universitas Jember, namanya Prof Ahmad Subagyo, meneliti ketika dia sekolah di Jepang. Dia menemukan sebuah enzim dalam singkong ketika ditepung sifatnya mirip sekali dengan terigu. Kalau kita misalnya bisa membuat 1,5 juta ton atau 10-20 persen dari yang kita impor, itu kan nilainya Rp 5 triliun. Itu jelas hasil penelitian yang luar biasa,” paparnya.

Menurut Marwah, ICMI sangat konsen di situ. “Kita mulai dengan menanam, kita mulai dengan membuat industri di masyarakat, lalu menghimpun teman-teman kita peneliti. ICMI kan di daerah ada yang jadi bupati atau wakil bupati, orang-orang kampus juga rata-rata ICMI, anggota DPRD, dan lain sebagainya. Jadi, bagaimana kita menghimpun serpihan-serpihan menjadi sebuah kekuatan, yang biasanya kita lakukan di pertemuan ICMI.” ed: wachidah handasah

Oleh Damanhuri Zuhri

sumber: Republika Online

Comments (0)

Buletin Akselerasi November 2011

Tags: , ,

Buletin Akselerasi November 2011

Posted on 01 December 2011 by admin

Tema kajian utama: “Dana Riset: Cost atau Investment?”

Disertai dengan profil lembaga dan ilmuwan dari Pulau Sumatera, liputan temu wilayah JaDIY, kabar mitra MITI-M, dan sapa sekjend dengan judul “Naluri Kepahlawanan”.

Sialakan download di sini: [Download BA November 2011]

Atau baca langsung di sini: [Baca BA November 2011]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments (0)

Press Release The Neuron Award 2011

Tags: , , , ,

Press Release The Neuron Award 2011

Posted on 29 November 2011 by admin

“…sudah selayaknya sebuah organisasi dimanage dengan baik. Mulai dari visi misi yang jelas, struktur organisasi yang mapan, sistem kaderisasi yang memadai, sampai kepada kebermanfaatan dari kegiatan-kegiatannya bagi mahasiswa. Tanpa dikelola dengan baik, sehebat apapun cita-cita organisasi tersebut, tidak akan memiliki efek berarti bagi terbentuknya mahasiswa yang inovatif dan kompeten” (Andrie Javs, Presiden MITI Mahasiswa)

Perguruan tinggi memerlukan pendukung dalam mewujudkan aspek penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat agar berkembang sesuai dengan harapan. Untuk mendukung peranan perguruan tinggi tersebut maka dibutuhkan suatu organisasi kemahasiswaan yang bergerak  menjalankan penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat. Salah satu organisasi yang tepat untuk melaksanakannya adalah Organisasi Mahasiswa bidang Penalaran dan Penelitian atau disebut juga Organisasi Riset Mahasiswa. The Neuron Award hadir untuk memberikan penghargaan dan apresiasi kepada organisasi riset mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang terbukti mampu mengelola lembaganya dengan baik, memiliki prestasi tinggi, dan berkontribusi banyak dalam mengatasi problematika di lingkungan masyarakat dan kampusnya melalui dunia penelitian. Harapannya dengan adanya pemberian penghargaan ini akan memacu para pengurus organisasi untuk menjadikan organisasinya sebagai organisasi yang benar-benar matang, profesional, prestatif, dan kontributif.

Setelah melewati beberapa tahapan seleksi dan assessment, yang terdiri dari self assessment, tinjauan ke sekretariat lembaga, serta interview kepada ketua lembaga, dan juga dengan mempertimbangkan aspek pengelolaan lembaga, sistem kaderisasi, budaya diskusi, pengelolaan jaringan, prestasi, riset dan publikasi, serta kontribusi yang diberikan lembaga terhadap kampus dan masyarakat di sekitarnya, maka terpilihlah 11 organisasi riset mahasiswa terbaik se Indonesia versi MITI-Mahasiswa yang selanjutnya berkompetisi di babak final The Neuron Award yang berlangsung di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung pada hari Ahad, 27 November 2011. Berikut adalah 11 lembaga finalis The Neuron Award tersebut:

  1. Pusat Pengembangan Ilmiah dan Penelitian MahasiswaUniversitas Negeri Padang (PPIPM UNP)
  2. Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian Universitas Negeri Semarang (UKMP UNNES)
  3. Lembaga Kajian Mahasiswa Universitas negeri Jakarta (LKM UNJ)
  4. Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UKIM UNESA)
  5. UKM Gama Cendikia Universitas Gajah Mada (GC UGM)
  6. UKM Forum For Scientific Studies Institut Pertanian Bogor (FORCES IPB)
  7. Lembaga Penelitian dan Pengkajian Intelektual Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (LEPPIM UPI)
  8. UKM Excellent, Intellectual, and Smart Student Universitas Jambi (EXIST UNJA)
  9. UKM Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran Universitas Negeri Makassar (LPM UNM)
  10. UKM Rekayasa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Universitas Negeri Semarang (RIPTEK UNNES)
  11. UKM Research & Business Universitas Diponegoro (RNB UNDIP)

Dinginnya Kota Bandung menjadi saksi perjuangan masing-masing perwakilan lembaga untuk meyakinkan juri, bahwa lembaga merekalah yang terbaik, sehingga layak mendapatkan penghargaan yang bergengsi ini. Masing-masing finalis memiliki waktu 25 menit untuk mempresentasikan lembaganya di depan juri dan audiens, yang terdiri dari 5 menit untuk pemutaran video profil lembaga, 10 menit presentasi, dan 10 menit terakhir merupakan tanya jawab dengan dewan juri. Pada kesempatan kali ini, dewan juri terdiri dari Dr. Edi Sukur dari Kemenristek, IBP Angga Antagia, SE (Ex Presidium Nasional FoSSEI), dan Aditya Rangga Yogatama, SE.dari Department Jaringan dan Kemitraan MITI-Mahasiswa. Namun, karena harus menghadiri agenda lain, setelah istirahat siang, Dr Edi Sukur digantikan oleh Ibu Istiqomah, MT (Dosen UPI).

Perwakilan lembaga finalis tidak sekedar mempresentasikan lembaga mereka, tetapi juga harus sabar dalam menjawab pertanyaan serta menanggapi komentar, kritik, dan saran dewan juri, yang mana semuanya itu akan menjadi pertimbangan dewan juri dalam menentukan peraih penghargaan The Neuron Award ini.  Ada 5 kategori award yang diperebutkan yaitu: Best Performance, Best Contributive, Best Research and Publication, Best of the Best, dan Best Favorite. Khusus Best Favorite, peraihnya ditentukan oleh jumlah voters lembaga tersebut  yang difasilitasi di website MITI-Mahasiswa. Masing-masing peraih award akan meraih penghargaan berupa trophy  dan sertifikat dari MITI-Mahasiswa, serta uang pembinaan sebesar Rp 1.500.000 untuk Best Favorite, Rp 3.000.000 untuk 3 kategori yang lain, dan khusus Best of the Best akan memperoleh uang pembinaan sebesar Rp 5.000.000.

Cukup sulit bagi dewan juri, untuk menentukan peraih masing-masing kategori yang diperebutkan. Perdebatan antar dewan juri pun sesuatu yang tidak bisa dielakkan, sampai akhirnya pada hari Ahad, 27 November 2011 tepat pada pukul 17.30 WIB di Fakultas Pendidikan Teknik UPI,  diputuskanlah para peraih The National Research Organization Award 2011 MITI-Mahasiswa, yang langsung disampaikan oleh perwakilan dewan juri IBP Angga Antagia, dengan hasil sebagai berikut:

  • Best of the Best diraih oleh UKM Forum for Scientific Studies (FORCES) Institut Pertanian Bogor
  • Best  Performance diraih oleh UKM Penelitian Universitas Negeri Semarang
  • Best Contributive diraih oleh LPM Penalaran Universitas Negeri Makassar
  • Best Research and Publication diraih oleh UKM Pengkajian dan Penelitian Gama Cendekia UGM

Sementara itu, khusus untuk Best Favorite sepenuhnya ditentukan dari voting lembaga yang masih berlangsung hingga 8 Desember 2012 nanti. Semua peraih award akan diundang pada acara Gebyar Inovasi Pemuda Indonesia (GIPI) 2 MITI pada bulan Januari 2012 nanti untuk menerima pemberian Penganugerahan The Neuron Award MITI-Mahasiswa secara resmi.

Selamat kepada para pemenang. Tiada kata henti untuk terus berprestasi dan berkontribusi. Salam Akselerasi!!!

 

Comments (1)

286128_2222713257966_1551765074_32367874_8008505_o

Tags: , , , ,

Kegagalan Teknopreneurship Akibat Tak Berbasis Kebutuhan

Posted on 15 November 2011 by admin

SEMARANG—Masih sedikitnya pelaku usaha berbasis teknologi (teknopreneurship) di Indonesia, menurut Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), Warsito P Taruno karena belum berbasis kepada kebutuhan masyarakat luas selaku pengguna teknologi tersebut. Akibatnya, para peneliti lebih banyak asyik dengan dunianya sendiri dan tak beranjak mengaplikasikan teknologi yang dihasilkannya ke dunia bisnis atau usaha.

‘’Banyak peneliti atau teknolog ketika ingin terjun ke dunia bisnis tak melihat seberapa besar kebutuhan masyarakat kepada teknologi yang dihasilkannya. Akibatnya ketika memaksakan diri untuk menjadikan teknologinya produk yang diminati masyarakat, mereka menemukan kegagalan,’’ papar Warsito saat berbicara di depan peserta Research and Technoday 2011 yang digelar Universitas Diponegoro, Semarang, Sabtu (12/11) lalu.

Menurut pendiri Edwar Technology dan pemegang paten teknologi pemindai empat dimensi ini (ECVT 4D) ini, ia banyak menemukan para peneliti yang lebih suka di laboratoriumnya saja, tanpa mencoba melihat demikian banyak kebutuhan masyarakat yang bisa dipenuhi dengan teknologi yang mereka miliki. Padahal bila mereka jeli, banyak peluang usaha yang bisa memanfaatkan teknologi yang mereka telah tekuni bertahun-tahun.

Kondisi makin diperparah dengan belum besarnya perhatian pemerintah kepada upaya penumbuhan UKM berbasis teknologi. ‘’Sudah tak berbasis kebutuhan publik, juga masih ada kesenjangan antara keinginan peneliti atau teknolog dengan perhatian pemerintah dalam membangun wirausaha berbasis teknologi. Harusnya, dua kepentingan ini menjalin sinergi sehingga peneliti atau teknolog yang merintis usahanya berbasis kebutuhan masyarakat didukung penuh oleh keinginan kuat pemerintah membangun dunia usaha berbasis teknologi,’’ papar peneliti yang tengah mengembangkan perangkat pembasmi kanker, khususnya kanker payudara ini.

Pentingnya sinergisitas dua pihak ini menjadi sebuah keharusan, sebab bila tidak gagal, usaha ini jalan di tempat atau tak berkembang. Warsito mencontohkan bagaimana Singapura gagal membangun teknopreneurship dari para penelitinya meski sudah mengucurkan dana insentif tak kurang dari  Rp 1 triliun selama 15 tahun. Demikian pula Filipina dan beberapa negara ASEAN lainnya.

Meski demikian, Warsito tak menampik bila peneliti yang membangun usahanya berbasis kebutuhan masyarakat dapat berkembang tanpa campur tangan pemerintah. Ia kemudian menunjuk Teraflux, sebuah perusahaan desain kapal kepercayaan pengusaha Amerika dan Jepang yang dipimpin Kaharuddin Jenod.

Juga, Xirca, perusahaan pembuat chip telekomunikasi nirkabel yang dimotori Eko Fajar sebagai bukti keberhasilan usaha peneliti yang berbasis kebutuhan masyarakat pengguna, meski tak ada campur tangan pemerintah.

‘’Atau seperti riset-riset nanoteknologi dari Pak Nurul Taufiqu Rohman yang kewalahan memenuhi order industri jamu atau kosmetik yang meminta bahan baku jamu atau kosmetiknya diberi sentuhan teknologi nano,’’ papar Warsito.

Pakar nanoteknologi Nurul Taufiqu Rohman yang berbicara di sesi Seminar Nano membenarkan bila teknologi nano yang dikembangnya semakin menarik minat kalangan industri. ‘’Nano teknologi diyakini sebagai sebuah konsep teknologi yang akan melahirkan revolusi industri baru di abad ke-21. Beberapa cabang ilmu terapan dan medis mengadopsi nanoteknologi dan nanosains dan menjadikan  pondasi utamanya,’’  ujar Nurul  yang juga Ketua Masyarakat Nanoteknologi (MNI) dan anggota Dewan Pakar Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Ia kemudian mencontohkan perkembangan nanoteknologi dalam dunia computer telah mengubah tak hanya ukuran computer semakin ringkas namun juga peningkatan kemampuan dan kapasitas yang luar biasa, sehingga memungkinkan penyelesaian program-program raksasa dalam waktu singkat. Bila diimplementasikan dalam pengolahan baja, maka nanobaja mampu menghasilkan baja yang berstruktur halus karena mampu mencapai ukuran beberapa puluh nanometer saja, namun memiliki kekuatan dan umur dua kali lipat dari baja terbaik yang ada saat ini.

‘’Padahal, teknologi nanobaja sangat sederhana dan tidak memerlukan peralatan tertentu untuk pembuatannya,’’ papar doctor bidang ilmu material dan rekayasa produksi dari Kagoshima University, Jepang tersebut.(*)


SEKILAS MITI:

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang teknologi ini berdiri pada 18 Januari 2004 oleh sekumpulan peneliti dan ilmuwan Indonesia. Berbasis di Jakarta, kini tak kurang dari 300 doktor berbagai bidang ilmu tergabung dan menjadi anggota. Selain memiliki cabang di berbagai daerah Indonesia, MITI memiliki perwakilan di beberapa negara lain.

Hingga kini, MITI bergerak dalam bidang pembinaan anggota (individu dan lembaga), pelayanan kepada publik, dan kajian-kajian atas berbagai kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini MITI dipimpin oleh Dr. Warsito P Taruno, M.Eng dengan Ketua Dewan Pakar Dr. Ade Komara Mulyana.

Muarif
Humas MITI

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here