Tag Archive | "ilmuwan"

Ilmuwan MITI temukan alat pembasmi kanker otak

Tags: , , , ,

Ilmuwan MITI temukan alat pembasmi kanker otak

Posted on 06 December 2011 by admin

Sekelompok ilmuwan CTech Laboratory, sebuah lembaga riset yang berafiliasi dengan Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), berhasil menemukan alat pembasmi kanker otak.

Pemimpin Tim Peneliti CTech Laboratory, Dr Warsito P Taruno Warsito, mengatakan temuan ini merupakan sebuah terobosan di dunia kedokteran yang telah berhasil dilakukan ilmuwan Indonesia. “Ini pengembangan alat dari riset kami di bidang tomografi. Setelah alat pembasmi kanker payudara, kami berhasil mendesain alat pembasmi kanker otak,” kata Warsito, Senin (3/12).

Alat ini menggunakan prinsip yang sama dengan alat pembasmi kanker payudara, yaitu menerapkan metode radiasi listrik statis. Dan temuan itu telah diuji coba pada seorang pasien penderita kanker otak kecil. “Alhamdulillah, setelah pemakaian dua bulan pasien dinyatakan sembuh total. Saya baru mendapat salinan hasil CT-Scan otak pasien oleh tim dokter rumah sakit,” ujar Warsito yang juga Ketua Umum MITI.

Kesuksesan tim dari CTech yang didukung oleh perusahaan Edwar Technology ini dipaparkan dalam forum pertemuan yang dihadiri tidak kurang dari 1.500 peserta dari berbagai kampus di Sumut, Sumbar dan Aceh.

Dalam seminar yang juga menghadirkan mantan Menristek Suharna Surapranata dan staf pengajar USU Dr Yani Absah tersebut, Warsito menceritakan proses terapi pasien penderita kanker otak kecil (cerebellum) yang saat pertama datang dalam kondisi yang mengenaskan.

Menurut Warsito, sang pasien sudah tak mampu bergerak karena otak kecil sebagai pengendali sistem motorik tubuhnya sudah tak bisa menggerakkan seluruh otot. Dia hanya bisa berbaring dan tak mampu bergerak, termasuk menelan makanan atau minuman yang diasupkan ke mulutnya.

Tim peneliti kemudian merancang perangkat yang disesuaikan dengan diagnosis dokter. Dalam terapi ini, kata Warsito, pihaknya memang bekerjasama dengan tim dokter ahli radiologi dan onkologi dari sebuah rumah sakit besar di Jakarta.

“Reaksi positif sudah kami peroleh dalam beberapa hari pemakaian. Pasien sudah bisa tersenyum dan sepekan kemudian sudah bisa menerima asupan makanan dan minuman dari mulutnya. Kondisi semakin membaik dalam waktu sebulan karena ia sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Dan puncaknya, dua bulan setelah terapi, pasien dinyatakan sembuh total dari kanker otaknya,” papar Warsito.

Menurut dia, metode radiasi listrik statis berbasis tomografi ini, sepenuhnya hasil karya anak bangsa yang bakal menjadi terobosan dalam dunia kedokteran. Selain akan merevolusi pengobatan kanker secara medis, juga akan meminimalisasi biaya yang harus dikeluarkan pasien atau keluarganya.

Sementara itu, mantan Menristek Suharna Surapranata, menyambut baik temuan tim CTech dan MITI ini. Menurut dia, perlu kajian lebih lanjut dan partisipasi banyak pihak yang berkepentingan guna mendapatkan hasil yang lebih baik.

“Kalau mendengar paparan beliau (Warsito), saya kira ini satu hal yang luar biasa dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak, khususnya pemerintah. Juga para pemangku kebijakan dari bidang kesehatan agar hasil penelitian dan penemuan ini memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia dan dunia,” demikian Suharna.

sumber: antaranews.com

gambar: Republika Online

Comments (0)

Tags: , , ,

ICMI dan MITI Dorong Kiprah Ilmuwan Muslim

Posted on 06 December 2011 by admin

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) selama ini dikenal sebagai wadah yang menaungi orang-orang pintar yang biasa kita sebut ilmuwan. Rupanya, selain ICMI, banyak pula ilmuwan yang bergabung pada wadah lain bernama Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI). Apa saja yang dilakukan dua organisasi ini dalam mendorong kiprah para ilmuwan Muslim di Tanah Air?

Mantan menristek Suharna Surapranata, salah seorang pendiri MITI, mengungkapkan, MITI berawal dari kepedulian dan perhatian akan berbagai persoalan bangsa, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Pada akhir dekade 80-an, sekitar sepuluh aktivis dakwah kampus (ADK) yang berkesempatan menimba ilmu di luar negeri khususnya bidang iptek menggagas berdirinya wadah untuk menghimpun mereka.”Wadah awal hanya berbentuk forum komunikasi SDM Iptek yang sifatnya sudah nasional, karena kami berasal dari berbagai daerah,” katanya kepada Republika, Selasa (15/11).

Menurut pria kelahiran Bandung, 13 Desember 1955 ini, sejak berdiri hingga kini MITI telah banyak melakukan kerja yang signifikan bagi pembangunan, khususnya di bidang iptek. Setidaknya ada tiga peran besar yang dijalankan MITI selama ini. Pertama, peran pembinaan dengan melakukan pembinaan profesi di kalangan anggotanya, mulai dari para mahasiswa hingga para doktor yang tersebar di berbagai kampus ataupun laboratorium di dalam dan luar negeri.

“Kami berikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi. Kami dukung riset-riset dengan hibah MITI. Pembinaan juga dilakukan terhadap lembaga atau asosiasi ilmuwan yang menjadi anggotanya seperti Masyarakat Nano Indonesia,” terangnya.

Kedua, peran pelayanan dan pemberdayaan kepada masyarakat secara luas. Berbagai aksi sosial dengan memanfaatkan penguasaan teknologi dilakukan para anggota MITI saat bencana terjadi di negeri ini. Tsunami di Aceh, banjir bandang di Jember, atau gempa bumi di Yogya menjadi saksi keterlibatan kuat MITI dalam memberikan solusi teknologi bagi para pengungsi atau korban bencana. “Di tempat-tempat itu, kami buat instalasi-instalasi air bersih dengan teknologi membran dan ozonisasi yang mampu mengubah air sehingga layak minum.”

Ketiga, peran memengaruhi kebijakan terkait dengan iptek. Sebagai lembaga nonpemerintah, kata Suharna, MITI berusaha memberi masukan dan mengkritisi kebijakan pemerintah dalam berbagai persoalan iptek. “Masukan secara objektif dan kritis disampaikan kepada para pemangku kebijakan.”

Seperti halnya MITI, ICMI pun mendorong para ilmuwan, peneliti, dan teknolog Muslim Indonesia untuk berkiprah lebih nyata dan memberi manfaat bagi orang banyak. “Nah, ini yang kita lakukan selama ini. Pekerjaan saya keliling nusantara selama ini antara lain melakukan hal ini,” ujar Hj Marwah Daud Ibrahim, anggota Presidium ICMI kepada Republika, Rabu (16/11).

Wanita kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan, yang juga ketua umum Masyarakat Singkong Indonesia ini menyebut salah satu penelitian dan perhatiannya terhadap singkong. “Kelihatannya sederhana,” cetus doktor komunikasi dari International American University, Washington DC, Amerika Serikat ini.

“Teman kita dari Universitas Jember, namanya Prof Ahmad Subagyo, meneliti ketika dia sekolah di Jepang. Dia menemukan sebuah enzim dalam singkong ketika ditepung sifatnya mirip sekali dengan terigu. Kalau kita misalnya bisa membuat 1,5 juta ton atau 10-20 persen dari yang kita impor, itu kan nilainya Rp 5 triliun. Itu jelas hasil penelitian yang luar biasa,” paparnya.

Menurut Marwah, ICMI sangat konsen di situ. “Kita mulai dengan menanam, kita mulai dengan membuat industri di masyarakat, lalu menghimpun teman-teman kita peneliti. ICMI kan di daerah ada yang jadi bupati atau wakil bupati, orang-orang kampus juga rata-rata ICMI, anggota DPRD, dan lain sebagainya. Jadi, bagaimana kita menghimpun serpihan-serpihan menjadi sebuah kekuatan, yang biasanya kita lakukan di pertemuan ICMI.” ed: wachidah handasah

Oleh Damanhuri Zuhri

sumber: Republika Online

Comments (0)

logo-miti

Tags: , , , ,

MITI Mahasiswa

Posted on 21 October 2011 by admin

Tanggal 24-25 September tahun 2005, MITI menyelenggarakan Semiloka Mahasiswa Nasional I dengan tema “Revolusi Akademik Kampus : membangun Riset dan Kompetensi Mahasiswa Menuju Indonesia Maju dan Mandiri” di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut diikuti oleh 80 orang perwakilan dari 21 Kampus di Sumatera, Jawa dan Bali dan mencetuskan pembentukan MITI Mahasiswa (MITI-M). MITI-M merupakan salah satu bagian kecil dari MITI yang secara khusus beranggotakan mahasiswa yang tersebar di sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia.

Continue Reading

Comments (0)

logo-miti-indonesia

Tags: , , ,

Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia

Posted on 20 October 2011 by admin

Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia atau yang dikenal dengan MITI didirikan melalui seminar nasional yang bertemakan “Menyoroti Peran IPTEK dalam Membangun Industri Nasional yang Mandiri” di Hotel Indonesia pada hari Sabtu tanggal 17 Januari 2004 yang dihadiri oleh sekitar 150 peserta . MITI dideklarasikan pada hari Ahad, 18 Januari 2004 yang dihadiri oleh Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie, Susilo Bambang Yudhoyono (Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan), Hatta Rajasa (Menteri Negara Riset dan Teknologi), dan Irwan Prayitno (Ketua Komisi VIII DPR RI). MITI didirikan sebagai upaya untuk mensinergikan potensi ilmuwan dan teknolog dengan potensi kalangan lain seperti pemerintah dan legislatif, akademisi, ekonom, aktivis LSM dan media, dll. MITI juga didirikan sebagai wadah untuk berfikir dan berkarya dalam rangka membangun Indonesia yang maju dan mandiri.

Continue Reading

Comments (1)

Dr. Warsito

Tags: , , ,

Profil Singkat Ketua MITI (Dr. Warsito P. Taruno)

Posted on 26 January 2009 by admin

Dr. Warsito (Solo, 1967) adalah seorang penemu alat pemindai tubuh (tomografi) yang lebih murah dan akurat yang dinamakan ECVT (electrical capacitance volume tomography) [1]. Warsito meraih gelar doktor dari Universitas Shizuoka Jepang tahun 1997. Dia memulai riset tomografi ini sejak tahun 1991 ketika masih menjadi mahasiswa S1. Continue Reading

Comments (0)

Tags: , , ,

Ilmuwan Indonesia Harus Bergerak: Sebuah Catatan Akhir Tahun

Posted on 26 January 2009 by admin

Oleh Ubedilah Badrun*

Ada banyak pertanyaan tentang berbagai hal yang sering diajukan di setiap penghujung tahun, tak terkecuali tentang perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia. “Apa kabar IPTEK Indonesia saat ini? “. Tentu saja pertanyaan ini tidak bisa hanya dijawab dengan kalimat “kabarnya baik-baik saja” dengan mimik wajah yang tenang dan tanpa merasa punya tanggung jawab moral. Apalagi jika yang menjawabnya adalah pengambil kebijakan IPTEK atau bahkan jika yang menjawabnya para kaum terpelajar yang disebut ilmuwan Indonesia.

Perkembangan IPTEK Indonesia memang masih memprihatinkan persis seprihatin gaya menjawab pertanyaan di atas. Realitas yang memprihatinkan itu bukan dilihat dari prestasi beberapa bidang IPTEK yang telah dicapai seperti temuan aplikasi teknologi DNA, temuan bibit padi unggul, temuan vector medan laju percepatan gerakan lempeng tektonik, rancang bangun pesawat remotely piloted vehicle, Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here