Archive | RCDC

Peresmian Bank Pupuk Organik Wonolagi

Peresmian Bank Pupuk Organik Wonolagi

Posted on 29 April 2012 by admin

Tim PKM M (Program Kreativitas Mahasiswa) Pengabdian Masyarakat UGM yang terdiri dari Lovin Dika Antari, Ahmad Juwari, Puji Lestari, Eko Yasi dan Ari Wardhani mengadakan launching Bank Pupuk di dusun Wonolagi, Ngleri, Playen, Gunung Kidul. Launching yang diselenggarakan bersama masyarakat dusun Wonolagi ini berlangsung dengan meriah dengan kehadiran perwakilan dari Pemda Gunung Kidul serta Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fapet UGM, bapak Edi Suryanto.

Gambar 1. Peresmian Bank Pupuk

Ide mengenai PKM Pengabdian Masyarakat tersebut berupa penerapan Bank Pupuk, yakni pengolahan kotoran kambing ataupun sapi yang banyak terdapat di dusun Wonolagi sebagai sentra peternakan. Pupuk-pupuk yang ada pada masing-masing keluarga kemudian dikumpulkan sebagai tabungan warga, tabungan tersebut diolah menjadi pupuk organik yang bisa diambil oleh masyarakat sendiri untuk keperluan pupuk bagi lahan pertanian mereka. Sepintas memang sederhana, namun demikian adanya Bank Pupuk ini diharapkan mampu membangkitkan gairah dan semangat masyarakat untuk memberikan nilai lebih pada barang yang sebelumnya dianggap sepele. Terlebih lagi jika pupuk yang dihasilkan tersebut dalam jangka panjang akan membantu warga meningkatkan perekonomian mereka di bidang pertanian dan peternakan.

Saat ini terdapat beberapa spot pengolahan pupuk organik yang ada di Wonolagi, harapannya spot pengolahan pupuk tersebut semakin banyak sehingga kemudian masyarakat yang ada di dusun wonolagi dan sekitarnya tidak tergantung pada pupuk kimia yang saat ini digunakan masyarakat untuk menyuburkan lahan pertanian mereka.

Launching yang diadakan tanggal 21 April 2012 lalu tersebut menarik perhatian berbagai pihak, terutama dari Pemda sendiri yang memberi apresiasi yang cukup besar pada pelaksanaan program ini. Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan Fapet UGM mengatakan bahwa keberadaan Bank Pupuk yang ada di Wonolagi dengan nama Bank Purwo (pupuk Wonolagi) merupakan yang pertama di dunia. Keberadaan pengolahan pupuk organik semacam ini diharapkan mampu menularkan semangatnya di daerah lain, tambahnya.

Senada dengan Wakil Dekan tersebut, masyarakat yang ada di Wonolagi merasa antusias dan semangat menjalankan program ini, harapan mereka, Bank Pupuk yang diinisiasi bersama dengan mahasiswa dari PKM ini mampu berlanjut tidak hanya berhenti ketika program selesai, namun mampu dilanjutkan hingga mampu memajukan masyarakat petani dan peternak di wilayah mereka.

Gambar 2. Tim PKM-P Bank Pupuk Organik

Tulisan oleh:  Eko Yasin P.M. (RCDC MITI Yogyakarta)

Comments (0)

Potensi Peternakan Ayam Jawa Super di Dusun Bedukan, Pleret, Bantul

Potensi Peternakan Ayam Jawa Super di Dusun Bedukan, Pleret, Bantul

Posted on 24 April 2012 by admin

Peternakan merupakan bidang usaha yang digeluti oleh hampir sebagian besar masyarakat di Indonesia, mulai dari masyarakat pedesaan hingga masyarakat perkotaan. Peran dunia peternakan dalam menyokong perekonomian sangat besar. Masyarakat pada umumnya membudidayakan ternak berupa ayam dalam jumlah yang sedikit, ternak tersebut harapannya dapat dijual dan menghasilkan uang. Terdapat banyak perusahaan peternakan yang pengelolaanya dalam skala industri. Dunia peternakan sangat dekat dengan politik yang berpengaruh terhadap perekonomian negara.

Dunia peternakan tidak dapat di pandang sebelah mata, terbukti kebutuhan konsumsi dari produk hewani sangat tinggi yang pencukupannya tidak dapat di penuhi dari produksi dalam negeri saja. Impor adalah solusi yang ditawarkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Impor yang dilakukan pemerintah adalah impor susu yang mencapai 70%. Dalam bidang industri unggas, kebutuhan berupa daging dan telur sudah dapat terpenuhi dari dalam negeri. Namun pengadaan anak ayam dan pakan untuk ayam petelur belum terpenuhi dari dalam negeri sehingga masih harus impor.

Kebutuhan konsumsi produk hewani dari hari kehari akan semakin meningkat, hal ini sesuai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Saat ini, meskipun konsumsi daging di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan Negara tetangga tetapi dalam mencukupinya harus dilakukan impor. Perlu dilakukan sebuah upaya untuk meningkatkan jumlah produksi produk hewani agar dapat mengimbangi konsumsi yang semakin meningkat sehingga diharapkan nilai impor dapat di tekan. Berawal dari hal tersebut, Klaster Peternakan RCDC MITI Yogyakarta menyusun rencana untuk dapat membantu meningkatkan jumlah produksi produk hewani dan mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat akan produk hewani.

Dunia peternakan adalah dunia bisnis, dalam memproduksi produk hewani akan didapatkan keuntungan. Dengan demikian, klaster peternakan berada dibawah pengelolaan RCDC MITI JOGJA sehingga dalam membentuk bisnis ini dan melibatkan masyarakat desa dalam kegiatan produksinya. Masyarakat yang dipilih adalah warga Dusun Bedukan, Pleret, Bantul dan yang bekerjasama dalam bisnis ini adalah ibu-ibu. Pemilihan ibu-ibu sebagai patner kerja bertujuan untuk pemberdayaan kaum perempuan dan meningkatkan keterampilan perempuan dalam membantu menyokong perekonomian keluarga. Selama ini kaum perempuan pada umumnya berada di garda belakang dalam masalah perekonomian, tetapi dalam kerjasama ini diharapkan para perempuan dapat menambah penghasilan dengan tetap berada di belakang suami dalam masalah perekonomian.

Bisnis peternakan yang dipilih adalah pemeliharaan ayam Jawa Super, ayam ini dihasilkan dari persilangan pejantan ayam kampung berkualitas unggul dengan betina ayam layer. Pemilihan pemeliharaan ayam jawa super dikarenakan prospek ayam kampung dalam konsumsi masyarakat sangat tinggi dan di perlukan banyak produksi ayam kampung. Pemeliharaan ayam kampung asli sampai panen (siap dikonsumsi) memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga dipilih ayam jawa super yang pemeliharaanya relative lebih cepat yakni selama 2 bulan sudah siap dipanen. Kelebihan tersebut yang menjadi pendukung dalam bisnis dibidang peternakan ayam jawa super.

Ibu-ibu yang bergabung dalam kelompok ternak ayam jawa super saat ini berjumlah 16 orang dan dibagi menjadi 4 kelompok dengan masing masing kelompok 4 anggota. Masing-masing kelompok akan memelihara ayam jawa super sebanyak 500 ekor, mulai dari DOC (Day Old Chick/anak ayam umur sehari) sampai dengan panen. Pemeliharaan tersebut dilakukan langsung oleh kelompok dengan didampingi tim klaster peternakan RCDC MITI sebagai pengawas dan pembantu pemeliharaan, namun secara keseluruhan kelompoklah yang lebih banyak bekerja. Tim klaster peternakan membantu dalam pengadaan sarana produksi ternak, perlengkapan kandang, DOC, pakan dan obat.


Gambar 1. Pendampingan pemberian vaksin kepada kelompok ternak

Pemeliharaan ayam tidak dilakukan serempak untuk semua sub kelompok, tetapi dilakukan pembagian dan penjadwalan memulainya pemeliharaan ayam. Penjadwalan ini dilakukan untuk menghindari jumlah panen yang melimpah serta untuk mendapatkan waktu panen ayam yag berkesinambungan sehingga ayam dapat tetap tersedia sewaktu-waktu dibutuhkan. Pemeliharaan ayam jawa super periode I ini masih menggunakan pakan komersil yang di beli di toko. Untuk periode selanjutnya teknologi yang akan digunakan dalam pemeliharaan ayam jawa super ini adalah teknologi pakan  fermentasi dengan bahan pakan lokal yang terdapat di sekitar daerah Bedukan, Pleret, Bantul. Teknologi pakan fermentasi saat ini sedang dalam tahap penelitian (uji coba) oleh tim klaster peternakan.

Pemeliharaan ayam sudah berlangsung kepada 2 kelompok dengan memanfaatkan 2 lokal kandang, sedangkan 2 kelompok lainnya menunggu selesainnya pembuatan kandang. Pemeliharaan ayam dilakukan dengan mengatur jadwal mulainya pemeliharaan. Saat ini jarak pemeliharaan antara kelompok satu dengan yang lainnya adalah 1 sampai 2 minggu. Besar harapan kami pemeliharaan ayam jawa super ini dapat meningkatkan jumlah produksi peternakan dan melatih kemampuan warga Dusun Bedukan khususnya ibu-ibu kelompok ternak. Selain itu, kami juga berharap kelompok dan pengelola mendapat keuntungan dari pemeliharaan ayam jawa super sehingga didapatkan pemasukan sebagai hasil dari sebuah usaha.

Gambar 2. Pemeliharaan ayam jawa super periode I

oleh Eko Yasin P.M. (RCDC MITI Yogya)

Comments (0)

Upgrading dan Penandatanganan MoU Kerjasama RCDC Jogja

Tags: , , ,

Upgrading dan Penandatanganan MoU Kerjasama RCDC Jogja

Posted on 22 December 2011 by admin

RCDC subwilayah Yogyakarta – Pada hari Ahad, 11 Desember 2011 lalu telah mengadakan upgrading di Dusun Bedukan, Desa Pleret, Bantul. Training yang diadakan di rumah bapak Hanafi, S.Ag, M.Ag ini diperuntukan bagi tim cluster riset RCDC yang sedang mengadakan kegiatan community development di Dusun tersebut. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 18 mahasiswa dari kampus UGM, UNY, Amikom, dan UIN Sunan Kalijaga. Sebagian besar mahasiswa ini merupakan alumni peserta Workshop Riset, Training Riset Comdev maupun Training for Trainer Riset Comdev MITI-Mahasiswa yang diadakan di beberapa kampus di Yogyakarta.

Salah satu alumni yang tidak pernah absen mengikuti serangkaian kegiatan tersebut adalah Shofiyati Nur Karimah (Amikom) yang saat ini menjadi anggota cluster IT RCDC MITI-Mahasiswa. Shofi mengatakan bahwa beberapa kegiatan MITI-Mahasiswa seperti workshop riset, training riset comdev dan TFT Riset comdev membuat dia sadar betapa pentingnya riset dan implementasi ilmu di bangku kuliah untuk masyarakat. Lebih lanjut Shofi mengatakan bahwa MITI-Mahasiswa juga sangat menginspirasi terbentuknya Komunitas Riset dan Teknologi (KRETA) Amikom sehingga saat ini KRETA Amikom berkembang pesat dan dapat berpartisipasi dalam kegiatan comdev MITI-Mahasiswa.

Kegiatan Training Riset Comdev di UNY

Kegiatan Workshop Riset di Amikom

TFT Riset Comdev MITI-Mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga

Fokus utama upgrading ini adalah agar tim cluster riset RCDC lebih mengenal potensi dan karakteristik masyarakat Dusun Bedukan dengan menghadirkan bapak Muhammad Hanafi, S.Ag, M.Ag. selaku tokoh setempat dan berdiskusi banyak hal tentang kondisi masyarakat dusun Bedukan serta strategi-strategi pendekatan yang tepat sesuai dengan karakteristik tersebut. Selanjutnya tim cluster juga sharing berbagi pengalaman tentang urgensi dan pengelolaan community development berbasis riset mahasiswa yang dipandu langsung oleh Tri Hanifawati selaku PLH RCDC Pusat MITI-Mahasiswa periode 2010/2011.

Dalam sesi ini tim berdiskusi dengan beberapa pengurus MITI-Mahasiswa dan beberapa anggota cluster yang pernah memiliki pengalaman community development, diantaranya Fajar Inggit Pambudi, pemenang HIBAH MITI-Mahasiswa tahun 2010 yang juga koordinator cluster bidang energi RCDC MITI-Mahasiswa; Tasik Aji Prabowo, direktur LSM Sahabat Peternak di wilayah korban erupsi merapi tahun 2011 yang juga anggota cluster peternakan RCDC MITI-Mahasiswa; Anang Febri Prasetyo, paskasarjana peternakan UGM yang concern di bidang community development yang juga merupakan anggota cluster peternakan RCDC MITI-Mahasiswa, Siti Atikah yang pernah menjadi Korlap pemulihan Gempa di Pangalengan, Bandung, yang juga merupakan anggota cluster pendidikan RCDC MITI-Mahasiswa serta beberapa anggota cluster lain.

Tim cluster RCDC MITI-Mahasiswa dalam Upgrading sesi team work

Pengurus RCDC subwilayah Yogyakarta bersama Presiden MITI-Mahasiswa ketika berkunjung ke Dusun Bedukan

Sesi terakhir dari upgrading ini diisi dengan materi team work building full outdoor oleh Arman Hasan dari Figure-X training dengan penekanan kepada urgensi penguatan kerjasama semua tim cluster dalam mensukseskan kegiatan comdev di Bantul. Keberhasilan community development MITI-Mahasiswa ke depan tentunya harus ditopang oleh tim yang solid, terbuka, dan komitmen sehingga penguatan tim RCDC dalam hal soliditas dan kerjasama harus terus dijaga. MITI-Mahasiswa ibarat sebuah kapal dimana penumpang di dalamnya harus senantiasa saling menjaga, saling melindungi dan mematuhi peraturan-peraturan berlayar sehingga kapal dan para penumpangnya dapat sampai ke tujuan  dengan selamat.

Dalam kegiatan ini juga dilakukan penandatanganan MoU kerjasama antara PLH RCDC Pusat MITI-Mahasiswa dengan lembaga asal tim cluster sebagai bentuk penguatan peran serta mereka dalam kegiatan community development. Adapun beberapa lembaga yang terlibat dalam kerjasama comdev Integrated Farming System Berbasis Teknologi dan Pemberdayaan Masyarakat di Bantul ini diantaranya adalah Forum Study Mahasiswa Peternakan (Fosmapet) UGM, Komunitas Riset dan Teknologi Amikom (KRETA), Centre of Excellent Students (CES) UNY, Forum Kajian Islam Sains dan Teknologi (FKIST), Majlugho, Forum Riset dan Kajian (FoRiska) dan English of Science and Technology (ECS) UIN Sunan Kalijaga.

Cahyo Prihantoro selaku masinis KRETA Amikom periode 2011 dan juga koordinator cluster IT dalam proyek IFS ini menyatakan bahwa “RCDC MITI-Mahasiswa memberikan banyak bekal pengalaman dan pelajaran kepada anggota KRETA, selain itu dapat memperluas jaringan relasi, juga sebagai wadah untuk membuktikan bahwa IT bisa bermanfaat untuk masyarakat.” Hal senada juga disampaikan oleh Eko Rizqa ketua CES UNY bahwa mahasiswa CES UNY mendapatkan semangat baru untuk berkontribusi langsung dengan masyarakat. Eko berharap bahwa upaya yang dilakukan MITI-Mahasiswa dan gabungan beberapa kampus di Yogyakarta yang tergabung dalam RCDC MITI-Mahasiswa ini akan berdampak jangka panjang terhadap masyarakat, tidak  hanya sekedar musiman/mengejar proyek semata. CES UNY bangga bisa menjadi bagian dari agen-agen perbaikan bangsa. Lystia Rosmita, ketua ESC UIN Sunan Kalijaga dan juga koordinator cluster Desa Asri RCDC MITI-Mahasiswa mengatakan bahwa kegiatan community development bisa menjadi ajang akselerasi keilmuan dan potensi bagi mahasiswa yang terlibat sehingga mahasiswa mampu mengimplementasikan keilmuan yang diperoleh di bangku kuliah. Tidak sekedar teori, namun juga pelatihan mental dalam menghadapi masyarakat. Yang tidak kalah penting program comdev yang dicanangkan oleh MITI-Mahasiswa  memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.

Liputan langsung: Cluster IT RCDC MITI-Mahasiswa Yogyakarta

Comments (2)

Liputan RCDC di Dusun Bedukan Jogja

Tags: , , , ,

Liputan RCDC di Dusun Bedukan Jogja

Posted on 28 November 2011 by admin

Sejak pertengahan tahun 2011 RCDC MITI Mahasiswa sudah merintis kegiatan community development (comdev) di Yogyakarta. Kegiatan yang bertemakan “Integrated Farming System Berbasis Teknologi dan Pemberdayaan Masyarakat” ini diadakan di Dusun Bedukan, Desa Pleret, Bantul, Yogyakarta. Di dusun ini terdapat 5 Rukun Tetangga dengan jumlah penduduk sekitar 640 jiwa yang terdiri dari 225 keluarga. Memiliki luas lahan sekitar 12 hektar dan baru 8 hektar luas lahan yang sudah produktif. Mata pencaharian utama penduduk adalah buruh tani.

Kegiatan sosial masyarakat dikoordinir oleh lembaga kemasyarakatan seperti LPMD, PKK, Karang Taruna, dan kelompok ternak NITI Rejeki. Sejak tahun 2009 sudah mulai dibangun sentra-sentra peternakan oleh kelompok ternak NITI Rejeki dan berkembang hingga saat ini. Melalui hasil musyawarah antara kelompok ternak dengan masyarakat serta dorongan dari pemerintah pusat maupun daerah telah ditetapkan bahwa kawasan yang berada di pinggir barat Dusun Bedukan dijadikan sebagai lahan sentra peternakan. Hingga saat ini telah berhasil dibangun kandang kambing, sapi, dan kolam ikan. Adapun embung kolam ikan dan kandang unggas sedang dalam tahap proses pembangunan. Peternakan ini juga kelak diharapkan akan menjadi mata pencaharian utama penduduk Dusun Bedukan.

Sebagian sentra ternak NITI Rejeki, Dusun Bedukan, Desa Pleret, Bantul

 Dengan kondisi tersebut, MITI-Mahasiswa melalui unit khusus Research and Community Development Center (RCDC) subwilayah Yogyakarta melihat bahwa Dusun Bedukan, Desa Pleret, memiliki potensi peternakan yang sangat luar biasa untuk dikembangkan. MITI-Mahasiswa menangkap kondisi ini sebagai sebuah momentum yang baik untuk melaksanakan aksi nyata di masyarakat dan fokus pada pendampingan peternakan ayam buras yang juga merupakan salah satu master program dari kelompok ternak NITI Rejeki. Pendampingan peternakan ayam buras ini terintegrasi dalam kegiatan pembibitan, pembesaran, pembuatan pakan, dan pengolahan limbah ternak. Adapun tim ahli cluster riset peternakan ini berasal dari mahasiswa peternakan UGM dan bekerjasama dengan Forum Study Mahasiswa Peternakan (Fosmapet) UGM.

Selain kegiatan peternakan, aktivitas comdev RCDC Yogyakarta di Dusun Bedukan juga didukung oleh beberapa kegiatan lain yang terangkum dalam beberapa aktivitas cluster riset, yakni Budidaya Ikan Lele (UGM), Energy Biogas (UGM), Pendidikan dan Kepemudaan (UNY), Aplikasi Teknologi Informasi (Amikom), Desa Asri (UIN), dan Kerohanian Islam (UIN). Harapan dari RCDC MITI-Mahasiswa, Integrated Farming System yang akan dibangun di Dusun Bedukan dapat didukung oleh aktivitas lain yakni kegiatan pengembangan sumber daya masyarakat, jaringan dan pasar yang memadai, serta potensi Integrated Farming itu sendiri.

Pada tanggal 19 November 2011 sebanyak 8 mahasiswa yang merupakan perwakilan dari setiap cluster riset RCDC MITI-Mahasiswa mengadakan kegiatan pembuatan pupuk organik, pembuatan silo, pembuatan telur asin, dan penyemaian benih pada polibag di Dusun Bedukan. Kegiatan ini dihadiri oleh Bapak DR. Warsito P. Taruno selaku ketua MITI Pusat dan diliput oleh TVone. Kegiatan ini juga diikuti oleh kelompok ternak NITI Rejeki, ibu-ibu PKK, dan sebagian masyarakat. Kunjungan DR Warsito ke Dusun Bedukan adalah dalam rangka peninjauan lapangan terhadap perkembangan desa inovasi MITI-Mahasiswa di Yogyakarta. Kegiatan yang beliau lakukan adalah mengetahui proses aplikasi teknologi yang diterapkan pada usaha ternak sapi potong.

Dengan melihat potensi pakan sapi yang melimpah pada musim hujan dan minim saat musim kemarau, maka diterapkan pakan silo sebagai alternative, yakni mengawetkan hijauan makanan ternak. Menurut Anang Febri Prasetyo (salah satu tim ahli dari cluster peternakan RCDC MITI-Mahasiswa) menjelaskan bahwa silo dapat dibuat dari hijauan segar (rumput raja) yang telah dicacah dengan ukuran sekitar 15-20 cm kemudian dicampur dengan bahan lain. Bahan lain ini merupakan campuran dari air, molase, dan bekatul. Tujuan dari pengolahan pakan ini adalah untuk meningkatkan kualitas bahan, memudahkan penyimpanan, pengawetan, meningkatkan palatabilitas (kesukaan ternak pada pakan tersebut), dan meningkatkan efisiensi pakan. Pakan yang telah dijadikan silo dapat bertahan hingga 6 bulan bahkan tahunan.

Warga didampingi MITI-Mahasiswa sedang membuat pakan silo dari hijauan segar

Lebih lanjut Anang menjelaskan bahwa selain silo, teknologi juga diterapkan dalam pembuatan pupuk bokasi. Kotoran sapi yang dihasilkan dari peternakan NITI Rejeki cukup banyak sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Untuk meningkatkan kualitas pupuk diterapkan pembuatan kompos. Bahan utama yang diperlukan adalah kotoran ternak yang berasal dari kotoran sapi dan kambing di sentra peternakan Dusun Bedukan. Bahan utama tersebut kemudian dicampur dengan sekam padi, serbuk gergaji, kapur bubuk (gamping) dan starter. Campuran bahan tersebut kemudian ditumpuk dan akan menjadi kompos setelah 21 hari. Kompos yang terbentuk menjadi tidak berbau dan seperti tanah biasa. Kompos yang sudah dihasilkan saat ini masih digunakan untuk kalangan masyarakat Bedukan yakni untuk penanaman tanaman sayuran di dalam polibag di sekitar rumah dan di sekitar sentra lokasi peternakan.

Proses pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi dan pembibitan tanaman polybag

Dapat disimpulkan bahwa usaha peternakan dari kelompok NITI Rejeki ini merupakan usaha ternak yang ramah lingkungan dan menerapkan system bersih karena seluruh limbah dimanfaatkan dengan baik sehingga tidak mencemari lingkungan. Liputan oleh TVone diakhiri dengan kegiatan penanaman bibit pohon durian super oleh Dr. Warsito sebagai kenang-kenangan kunjungan dan simbol bahwa usaha yang dilakukan oleh masyarakat tetap memperhatikan lingkungan.

Penanaman pohon durian oleh Dr. Warsito P. Taruno

Selesai mengikuti acara di Dusun Bedukan, tim RCDC MITI-Mahasiswa bersama Dr. Warsito dan crew TVone bergerak menuju lokasi proyek Energi Kincir Angin di Pandansimo, Bantul. Di sini tim RCDC MITI-Mahasiswa melihat-lihat teknologi kincir angin dan pemanfaatannya di sekitar pantai Pandansimo, menikmati indahnya pantai Pandansimo, dan mengikuti workshop pembuatan baling-baling kincir angin di laboratorium workshop yang tidak jauh dari pantai.

Salah satu prototype kincir angin di pantai Pandansimo, Bantul

Percontohan pengembangan energi listrik hybrid di Bantul, Yogyakarta, dilaksanakan dari hasil kolaborasi Pemerintah, Industri, Akademisi dan Komunitas yang dikenal dengan ABG-C (Academic , Business, Government-Community), yakni antara Kementrian Riset dan Teknologi (RISTEK), LAPAN, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), E-Wind Energy PTE, Pemerintah Kabupaten Bantul, UGM, dan Masyarakat. Energyi listrik hybrid sangat cocok untuk dipasang di beberapa wilayah pesisir kawasan Indonesia. Pembangkit ini merupakan sumber energi terbarukan yang relevan untuk dikembangkan di Indonesian karena potensi energi surya di Indonesia sangat tinggi dengan intensitas radiasi rata-rata 4-5 kWh/m2 yang berlaku sepanjang tahun. Dewasa ini, pemanfaatan energi surya di Indonesia baru mencapai 5 MWp (ESDM). Energi hybrid di Bantul ini memanfaatkan potensi angin yang cukup besar di Pantai Pandansimo dan potensi sinar matahari secara berkesinambungan dalam bentuk kincir angin yang terintegrasi dengan solar sel. Energi listrik hybrid di Bantul saat ini baru dimanfaatkan untuk penerangan jalan di sekitar pantai Pandansimo, produksi es untuk pendinginan ikan hasil tangkapan nelayan, dan mengangkat air. Pembuatan desain kincir dilakukan di laboratorium workshop yang tidak jauh dari pantai Pandansimo.

Liputan langsung: Tri Hanifawati

Comments (2)

Advertise Here
Advertise Here