Sejak pertengahan tahun 2011 RCDC MITI Mahasiswa sudah merintis kegiatan community development (comdev) di Yogyakarta. Kegiatan yang bertemakan “Integrated Farming System Berbasis Teknologi dan Pemberdayaan Masyarakat” ini diadakan di Dusun Bedukan, Desa Pleret, Bantul, Yogyakarta. Di dusun ini terdapat 5 Rukun Tetangga dengan jumlah penduduk sekitar 640 jiwa yang terdiri dari 225 keluarga. Memiliki luas lahan sekitar 12 hektar dan baru 8 hektar luas lahan yang sudah produktif. Mata pencaharian utama penduduk adalah buruh tani.
Kegiatan sosial masyarakat dikoordinir oleh lembaga kemasyarakatan seperti LPMD, PKK, Karang Taruna, dan kelompok ternak NITI Rejeki. Sejak tahun 2009 sudah mulai dibangun sentra-sentra peternakan oleh kelompok ternak NITI Rejeki dan berkembang hingga saat ini. Melalui hasil musyawarah antara kelompok ternak dengan masyarakat serta dorongan dari pemerintah pusat maupun daerah telah ditetapkan bahwa kawasan yang berada di pinggir barat Dusun Bedukan dijadikan sebagai lahan sentra peternakan. Hingga saat ini telah berhasil dibangun kandang kambing, sapi, dan kolam ikan. Adapun embung kolam ikan dan kandang unggas sedang dalam tahap proses pembangunan. Peternakan ini juga kelak diharapkan akan menjadi mata pencaharian utama penduduk Dusun Bedukan.



Sebagian sentra ternak NITI Rejeki, Dusun Bedukan, Desa Pleret, Bantul
Dengan kondisi tersebut, MITI-Mahasiswa melalui unit khusus Research and Community Development Center (RCDC) subwilayah Yogyakarta melihat bahwa Dusun Bedukan, Desa Pleret, memiliki potensi peternakan yang sangat luar biasa untuk dikembangkan. MITI-Mahasiswa menangkap kondisi ini sebagai sebuah momentum yang baik untuk melaksanakan aksi nyata di masyarakat dan fokus pada pendampingan peternakan ayam buras yang juga merupakan salah satu master program dari kelompok ternak NITI Rejeki. Pendampingan peternakan ayam buras ini terintegrasi dalam kegiatan pembibitan, pembesaran, pembuatan pakan, dan pengolahan limbah ternak. Adapun tim ahli cluster riset peternakan ini berasal dari mahasiswa peternakan UGM dan bekerjasama dengan Forum Study Mahasiswa Peternakan (Fosmapet) UGM.
Selain kegiatan peternakan, aktivitas comdev RCDC Yogyakarta di Dusun Bedukan juga didukung oleh beberapa kegiatan lain yang terangkum dalam beberapa aktivitas cluster riset, yakni Budidaya Ikan Lele (UGM), Energy Biogas (UGM), Pendidikan dan Kepemudaan (UNY), Aplikasi Teknologi Informasi (Amikom), Desa Asri (UIN), dan Kerohanian Islam (UIN). Harapan dari RCDC MITI-Mahasiswa, Integrated Farming System yang akan dibangun di Dusun Bedukan dapat didukung oleh aktivitas lain yakni kegiatan pengembangan sumber daya masyarakat, jaringan dan pasar yang memadai, serta potensi Integrated Farming itu sendiri.
Pada tanggal 19 November 2011 sebanyak 8 mahasiswa yang merupakan perwakilan dari setiap cluster riset RCDC MITI-Mahasiswa mengadakan kegiatan pembuatan pupuk organik, pembuatan silo, pembuatan telur asin, dan penyemaian benih pada polibag di Dusun Bedukan. Kegiatan ini dihadiri oleh Bapak DR. Warsito P. Taruno selaku ketua MITI Pusat dan diliput oleh TVone. Kegiatan ini juga diikuti oleh kelompok ternak NITI Rejeki, ibu-ibu PKK, dan sebagian masyarakat. Kunjungan DR Warsito ke Dusun Bedukan adalah dalam rangka peninjauan lapangan terhadap perkembangan desa inovasi MITI-Mahasiswa di Yogyakarta. Kegiatan yang beliau lakukan adalah mengetahui proses aplikasi teknologi yang diterapkan pada usaha ternak sapi potong.
Dengan melihat potensi pakan sapi yang melimpah pada musim hujan dan minim saat musim kemarau, maka diterapkan pakan silo sebagai alternative, yakni mengawetkan hijauan makanan ternak. Menurut Anang Febri Prasetyo (salah satu tim ahli dari cluster peternakan RCDC MITI-Mahasiswa) menjelaskan bahwa silo dapat dibuat dari hijauan segar (rumput raja) yang telah dicacah dengan ukuran sekitar 15-20 cm kemudian dicampur dengan bahan lain. Bahan lain ini merupakan campuran dari air, molase, dan bekatul. Tujuan dari pengolahan pakan ini adalah untuk meningkatkan kualitas bahan, memudahkan penyimpanan, pengawetan, meningkatkan palatabilitas (kesukaan ternak pada pakan tersebut), dan meningkatkan efisiensi pakan. Pakan yang telah dijadikan silo dapat bertahan hingga 6 bulan bahkan tahunan.

Warga didampingi MITI-Mahasiswa sedang membuat pakan silo dari hijauan segar
Lebih lanjut Anang menjelaskan bahwa selain silo, teknologi juga diterapkan dalam pembuatan pupuk bokasi. Kotoran sapi yang dihasilkan dari peternakan NITI Rejeki cukup banyak sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Untuk meningkatkan kualitas pupuk diterapkan pembuatan kompos. Bahan utama yang diperlukan adalah kotoran ternak yang berasal dari kotoran sapi dan kambing di sentra peternakan Dusun Bedukan. Bahan utama tersebut kemudian dicampur dengan sekam padi, serbuk gergaji, kapur bubuk (gamping) dan starter. Campuran bahan tersebut kemudian ditumpuk dan akan menjadi kompos setelah 21 hari. Kompos yang terbentuk menjadi tidak berbau dan seperti tanah biasa. Kompos yang sudah dihasilkan saat ini masih digunakan untuk kalangan masyarakat Bedukan yakni untuk penanaman tanaman sayuran di dalam polibag di sekitar rumah dan di sekitar sentra lokasi peternakan.

Proses pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi dan pembibitan tanaman polybag

Dapat disimpulkan bahwa usaha peternakan dari kelompok NITI Rejeki ini merupakan usaha ternak yang ramah lingkungan dan menerapkan system bersih karena seluruh limbah dimanfaatkan dengan baik sehingga tidak mencemari lingkungan. Liputan oleh TVone diakhiri dengan kegiatan penanaman bibit pohon durian super oleh Dr. Warsito sebagai kenang-kenangan kunjungan dan simbol bahwa usaha yang dilakukan oleh masyarakat tetap memperhatikan lingkungan.

Penanaman pohon durian oleh Dr. Warsito P. Taruno
Selesai mengikuti acara di Dusun Bedukan, tim RCDC MITI-Mahasiswa bersama Dr. Warsito dan crew TVone bergerak menuju lokasi proyek Energi Kincir Angin di Pandansimo, Bantul. Di sini tim RCDC MITI-Mahasiswa melihat-lihat teknologi kincir angin dan pemanfaatannya di sekitar pantai Pandansimo, menikmati indahnya pantai Pandansimo, dan mengikuti workshop pembuatan baling-baling kincir angin di laboratorium workshop yang tidak jauh dari pantai.

Salah satu prototype kincir angin di pantai Pandansimo, Bantul
Percontohan pengembangan energi listrik hybrid di Bantul, Yogyakarta, dilaksanakan dari hasil kolaborasi Pemerintah, Industri, Akademisi dan Komunitas yang dikenal dengan ABG-C (Academic , Business, Government-Community), yakni antara Kementrian Riset dan Teknologi (RISTEK), LAPAN, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), E-Wind Energy PTE, Pemerintah Kabupaten Bantul, UGM, dan Masyarakat. Energyi listrik hybrid sangat cocok untuk dipasang di beberapa wilayah pesisir kawasan Indonesia. Pembangkit ini merupakan sumber energi terbarukan yang relevan untuk dikembangkan di Indonesian karena potensi energi surya di Indonesia sangat tinggi dengan intensitas radiasi rata-rata 4-5 kWh/m2 yang berlaku sepanjang tahun. Dewasa ini, pemanfaatan energi surya di Indonesia baru mencapai 5 MWp (ESDM). Energi hybrid di Bantul ini memanfaatkan potensi angin yang cukup besar di Pantai Pandansimo dan potensi sinar matahari secara berkesinambungan dalam bentuk kincir angin yang terintegrasi dengan solar sel. Energi listrik hybrid di Bantul saat ini baru dimanfaatkan untuk penerangan jalan di sekitar pantai Pandansimo, produksi es untuk pendinginan ikan hasil tangkapan nelayan, dan mengangkat air. Pembuatan desain kincir dilakukan di laboratorium workshop yang tidak jauh dari pantai Pandansimo.
Liputan langsung: Tri Hanifawati