Archive | Sastra

Musisi dan Diplomasi Budaya

Tags: , , , ,

Musisi dan Diplomasi Budaya

Posted on 06 February 2012 by admin

Rangkaian pujian, atau lebih tepatnya suatu bentuk kekaguman, yang diberikan oleh Art Gallery, Aberdeen, Scotland, kepada kelompok angklung SMA 3 Bandung saat melakukan kegiatan “Expand the Sound of Angklung 2″, yang meski dengan keterbatasan finansial, tetapi mampu menembus sudut-sudut Eropa.

Mereka berkeliling Frankfurt, Bremen, Berlin, Brussels, Paris, Aberdeen, Praha, Cerveny Kostelec, Zakopane, dan Muenchen. RM Marty M Natalegawa, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia, dalam kata pengantar buku 40 Days in Europe: Kisah Kelompok Musik Indonesia Menaklukkan Daratan Eropa, mengatakan bahwa rangkaian kegiatan yang dilakukan kelompok angklung SMA 3 Bandung (KPA3) tersebut sejatinya merupakan suatu bentuk diplomasi budaya yang sangat efektif dalam memperkenalkan Indonesia dan angklung sebagai salah satu bentuk seni budaya tradisional.
Di sisi lain, sambutan yang warga Amerika berikan terhadap kelompok musik Slank menunjukkan bahwa seni budaya Indonesia kontemporer juga cukup dikagumi oleh mancanegara. Bukan hanya kelompok musik Slank yang pernah merasakan hangatnya sambutan tuan rumah tatkala melakukan konser mancanegara, sebut saja Dewa 19, Gigi, Padi, dan bahkan orang per orang, seperti Anggun, Krisdayanti, Ruth Sahanaya, Titi DJ, dan penyanyi muda Gita Gutawa juga pernah merasakan kehangatan sambutan tersebut.

Kedua fenomena KPA3 dengan angklung dan musik tradisionalnya serta kelompok musik Slank dengan musik kontemporernya menunjukkan bahwa baik musik tradisional maupun kontemporer mampu melakukan suatu diplomasi budaya, sehingga pertanyaan yang kemudian muncul bukanlah “bisakah musik melakukan diplomasi budaya?”, tetapi “bisakah kita melakukan diplomasi budaya melalui musik?” Di sini, yang patut dipertanyakan adalah “kita”, bukan “musik”. Mampukah kita?

Setidaknya, ada tiga hal yang patut kita petik sebagai pelajaran dari kesuksesan diplomasi budaya yang telah dilakukan oleh KPA3 dan kelompok musik Slank. Pertama, kemampuan bermusik yang senantiasa ditingkatkan. Hal tersebut bermakna sebagai proses yang dilakukan guna meningkatkan skill, kompetensi, kapabilitas, dan kapasitas (daya pikul) yang telah dimiliki sebelumnya. Kata kuncinya adalah latihan. Terkait latihan ini, janganlah meragukan KPA3 dan kelompok musik Slank. Meski begitu, latihan saja tidak cukup dan masih belumlah sempurna jika hanya memiliki daya pikul. Oleh karena itulah, maka di titik ini, daya tahan sangatlah dibutuhkan.

Pelajaran kedua yang dapat diambil adalah adanya tekad yang kuat dan konsistensi (baik di dunia musik maupun di warna musik). Tekad dan konsistensi tersebut akan melahirkan suatu rasa pengabdian bermusik. Gelora pengabdian itulah yang membuat mereka (KPA3 dan kelompok musik Slank) mampu melewati masa-masa sulit yang menghadang dan gelora itu juga yang membuat mereka bisa terus berkarya.

Ketiga, adanya keberanian dalam melangkah dan melakukan inovasi. Keberanian itulah yang berhasil membuat KPA3 melanglang buana di daratan Eropa, meski dengan biaya yang mengenaskan. Dan keberanian itu jualah yang membuat kelompok musik Slank berhasil menciptakan warna dan gaya musiknya sendiri.

Dimuat di Kompas, 5 Desember 2008.
AB. Naro Putera
*) Penulis saat ini sedang menyelesaikan studi masternya di Ehime University, Jepang (Cell and Molecular Biology)

**) Foto: kemlu.go.id

Comments (0)

Jika Pemuda

Tags: , , , ,

Jika Pemuda

Posted on 03 November 2011 by admin

Jika kau artikan pemuda adalah ia yang semangatnya membara, maka baiknya kau lihat saja bapak tua penarik becak di pelosok desa. Nyala semangat kerjanya jauh melampaui manusia-manusia berseragam SMA yang sehari-harinya menghabiskan waktu di pinggir-pinggir jalan raya, sekedar menghabiskan jatah uang saku dari papa mama.

Jika kau artikan pemuda adalah ia yang nuraninya menjangkau sekitarnya, maka baiknya kau lihat saja ibu guru pengajar SD negeri. Nuraninya jauh melampaui manusia-manusia berseragam SMP yang asyik bermain di dunia maya, berselancar tak jelas dan tak peduli dengan sekitarnya. Continue Reading

Comments (2)

paradoksal

Tags: , ,

Paradoksal

Posted on 28 October 2011 by admin

Sudah kuperintahkan dengan tegas pada kelenjar air mata agar jangan setets pun ia merengek. Aku berhasil! Rupanya komandoku padanya masih dianggap. Aku bukan keras padanya, biasanya pun kubiarkan ia merengek saja merengek disela-sela doa tiap malam. Bahkan aku tidak marah, sekalipun karena rengekannya ia buat aku susah bernafas, maka terpaksalah kuminta pada mulut agar ia saja yang take over jobdesc hidung – ambil oksigen agar aku tak jahat pada alveolus. Sudah seharusnya ya toh ia mendapat udara bersih? Inilah sulitnya ketika semua saling terhubung, hati yang kehilangan bahasanya membuat otakku gagap memerintah mulut. Akhirnya bahasa yang keluar hanya bisa diwakili oleh kelenjar air mata, sesenggukanlah bahasanya. Sudah sesenggukan, masih ia menjalin hubungan dengan hidung melalui duktus nasolakrimalis. Ah matilah, sesak nafas! Continue Reading

Comments Off

Memaknai Ikan Goreng

Tags: , , ,

Memaknai Ikan Goreng

Posted on 24 October 2011 by admin

Hari masih sangat pagi. Namun, aroma sedap sudah menggoda dari arah dapur. Menggugah langkah seorang anak untuk segera beranjak dari kamarnya dan menuju kesana. Dengan mata yang masih setengah terjaga, ia tengok semua masakan yang telah tersaji di meja makan. Ada sayur asam, sambal goreng terasi, tempe bacem, dan lainnya. Makan besar rupanya. Ia lihat ibunya yang masih sibuk dengan ikan tongkol di wajannya. Pelan-pelan ia pun mendekat, sembari mengamati ikan yang masih digoreng ibunya itu. “Hemm…sedap!!!” serunya.

Sang Ibu pun hanya tersenyum melihat anak mungilnya itu. Sejurus kemudian Sang Anak bertanya padanya, “Bunda, kenapa sih ikan yang digoreng itu baunya harum? Padahal kan sebelum dimasak, baunya amis banget ya, Bunda!” Continue Reading

Comments (0)

Melubangi Cadas Besar

Tags: , , ,

Melubangi Cadas Besar

Posted on 24 October 2011 by admin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Ah, menyebalkan!” seru seorang pemahat muda dengan setengah berteriak, sembari melempar tatah ukir dari tangannya. Tergambar jelas kekesalan di wajahnya. Hingga akhirnya, ia menatap kosong seusai dengusan kesalnya yang terakhir. Sang pemahat tua, seniornya yang diam-diam memperhatikannya sejak tadi, kemudian mendekat. Diambilnya sebuah kursi kayu di sampingnya untuk duduk di hadapan Si pemahat muda itu.

“Tampaknya kau sedang kesal. Adakah yang ingin kau ceritakan tentangnya?” tanya Sang senior tenang.

“Aku kesal pada diriku yang tak berbakat.” katanya sambil menatap ke bawah.

“Kenapa kau berpikir demikian?” Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here