Archive | Riset

13087649701364817556_300x449.62779156328

Tags: , , ,

Hadi Teguh Yudhistira: “Strive to paradise, Endurance, and Struggle”

Posted on 24 January 2012 by admin

Pria muda yang memiliki nama lengkap Hadi Teguh Yudistira ini sedang menempuh pendidikan program doktoral dengan fokus penelitiannya pada bidang ‘Electrohydrodynamics Inkjet Printing Technology’.  Impiannya yang besar untuk terus berkarya membuatnya tak pernah mengenal lelah.

Saat ini, beliau juga aktif sebagai ketua dari radiopengajian.com dan koordinator dari Universitas Terbuka (UT) yang ada di Koreas Selatan. Berikut merupakan profilnya dari UT Korea.

Nama : Hadi Teguh Yudistira
Lahir : Medan , 12 September 1987
Alamat : Medan ,Indonesia
Domisili : Seoul ,South Korea
Pendidikan : SLTA Negri 1 Medan; Institute Teknologi Bandung I T B ( Alumni Teknik Fisika ITB 2004 ); Konkuk University ,Seoul 건국 대학교
Motto: Strive to paradise, Endurance and Struggle
Nano/Micro System Laboratory (NMSL)
Aerospace and Information Engineering Department
Bila ingin mengetahui lebih lanjut tentang siapa beliau, silahkan kunjungi blognya  di sini   Continue Reading

Comments (0)

Tips Mencari Paper Conference dan Journal Gratis

Tags: , , , ,

Tips Mencari Paper Conference dan Journal Gratis

Posted on 24 January 2012 by admin

Pernahkah Sampeyan merasa begitu tertekan saat mencari referensi berbahasa Inggris berupa paper atau makalah lainnya? Apakah Sampeyan menyerah dengan kondisi perpustakaan universitas Sampeyan yang langganan jurnalnya tak pernah up to date? Kalau jawabannya iya, kondisi yang sama juga pernah saya rasakan. Nah, di artikel ini saya akan menjelaskan beberapa cara untuk mendapatkan referensi berupa paper conference dan journal secara gratis. Namun, tentu ada ikhtiar yang perlu Sampeyan lakukan untuk mendapatkannya. Tenang saja, tidak berbahaya bagi kesehatan kok!

INTRO
Untuk mahasiswa Master atau Doktor, referensi berupa paper atau jurnal sangatlah penting. Namun sayang, tidak semua universitas mampu berlangganan jurnal-jurnal ilmiah yang harganya selangit itu. Bahkan untuk mendownload satu buah full paper berupa file PDF saja, saya pernah menjumpai sebuah electronic journal library memasang harga sebesar 150 USD. Hanya beberapa lembar saja dan kita harus membayar kurang lebih 1,5 juta rupiah. Itu belum termasuk harga langganan account untuk satu tahun. Lain cerita jika Sampeyan kuliah di universitas yang memperhatikan “hak” mahasiswanya. Sampeyan bisa meninggalkan artikel ini segera .

Pada artikel kali ini, saya akan sedikit berbagi bagaimana cara mendapatkan “full paper” berupa file PDF secara gratis, untuk kita manfaatkan dalam kepentingan penelitian kita. Tentu hal ini adalah pengecualian dari hasil pencarian langsung menggunakan Google Scholar. Ada tiga buah cara yang akan saya kupas di sini. Cara yang pertama dan kedua rating keberhasilannya cukup tinggi (*saya sudah berkali-kali mencoba dan tingkat keberhasilan mencapai 90%). Cara yang ketiga, sangat tergantung dari keluwesan Sampeyan bergaul dengan teman-teman Sampeyan.

Continue Reading

Comments (3)

Tembakau Berpotensi sebagai Antikuman

Tags: , , , ,

Tembakau Berpotensi sebagai Antikuman

Posted on 11 January 2012 by admin

BOGOR – Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan inovasi pemanfaatan tanaman tembakau bagi kebutuhan selain rokok. Penelitian tersebut membuktikan daya antimikroba ekstrak tembakau yang dapat diaplikasikan sebagai antiseptik. Penelitian dilakukan oleh tim mahasiswa jurusan biokimia FMIPA IPB. Tim terdiri atas Riska Ayu Purnamasari, Pratiwi Eka Puspita, Dhaniar Astri, Rinda Fadzila, dan Ahmad Jaelani Manurung. Ketua tim peneliti, Riska Ayu Purnamasari, mengatakan, penelitian bermaksud untuk mencari manfaat tembakau untuk kebutuhan di luar rokok, yaitu sebagai pembunuh kuman atau antiseptik. Continue Reading

Comments (0)

Antosianin Kulit Buah Manggis: Alternatif di Tengah Maraknya Pewarna Sintetis

Tags: , , , ,

Antosianin Kulit Buah Manggis: Alternatif di Tengah Maraknya Pewarna Sintetis

Posted on 10 January 2012 by admin

Anak-anak suka sekali dengan makanan yang berwarna-warni, apalagi jika harganya murah, seperti kembang gula, permen, gorengan, tahu, sirup, kerupuk, sosis, cendol, biskuit dan lain-lainnya. Warna yang cerah dan kuat akan menarik perhatian pembeli karena makanan ini eyecatching.

Ini menjadi sebab utama mengapa sampai sekarang makanan tetap diberi pewarna. Makanan ini dapat kita temukan dengan mudah baik itu di sekolah, pasar, swalayan, dll. Di Indonesia sendiri, makanan ini dijual eceran oleh abang-abang yang tidak memiliki pengetahuan memadai tentang apa saja yang sehat ataupun tidak untuk dimakan, apalagi mengenai pewarna yang digunakan. Penjual hanya tahu membeli zat pewarna yang harganya murah untuk mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin tanpa mencari tahu apa bahayanya.

Continue Reading

Comments (2)

Crowd Science – Bagaimana Crowdsourcing Mengubah Riset?

Tags: , , ,

Crowd Science – Bagaimana Crowdsourcing Mengubah Riset?

Posted on 07 December 2011 by admin

Crowdsourcing, berdasarkan definisi dari kamus Merriam-Webster, adalah “the practice of obtaining needed services, ideas, or content by soliciting contributions from a large group of people and especially from the online community rather than from traditional employees or suppliers“. Seorang jurnalis The Boston Globe, Gareth Cook, pada bulan lalu menulis tentang Crowd Science atau Citizen Science, yang dapat diartikan sebagai pemanfaatan crowdsourcing dalam riset dan pengembangan iptek.

Bagaimana caranya?

Bayangkan Anda adalah seorang arkeolog yang menemukan “harta karun” berupa transkrip kuno di sebuah daerah di Mesir. Daerah ini, yang berjarak lima hari perjalanan dari Memphis, bernama Oxyrynchus. Bukan hanya namanya yang unik, daerah ini juga unik karena sangat kering tanpa pernah hujan. Hal ini membuat transkrip berupa kertas papyrus yang berusia 2000 tahun -beserta teks di dalamnya- terpelihara dengan baik.

Sekitar setengah juta lembar papyrus dibawa ke Oxford University untuk disalin dan diterjemahkan oleh para peneliti. Pekerjaan yang menantang sekaligus menyenangkan, karena ternyata banyak hal yang dapat ditemukan, amat kaya dan beraneka ragam: mulai dari teks komedi, catatan pribadi, sampai nota pembelian kedelai dan kurma. Namun, setelah seratusan tahun berlalu, skrip yang berhasil dikerjakan hanya sekitar 15% dari total koleksi! Berapa banyak lagi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan semua koleksi?

Karena itulah para peneliti tersebut mengambil langkah baru: membuat sebuah website yang diberi nama Ancient Lives, dan menyediakan sebuah permainan yang data-datanya berasal dari naskah kuno yang sedang mereka teliti. Setiap pengunjung -siapa saja- bisa ikut serta menyalin naskah kuno dengan cara mengidentifikasi gambar pada papyrus. Langkah ini membantu para peneliti, karena hanya dalam waktu singkat saja, pengunjung website yang memainkan game ini telah menyumbang 4 juta salinan!

Inilah salah satu contoh Crowd Science, di mana orang awam -bisa siapa saja- dilibatkan dalam sebuah proyek penelitian ilmiah, setelah diberi “pelatihan” tentang apa yang harus dilakukan. Dalam proyek Ancient Lives, pihak Oxford melibatkan partisipan bukan dengan memberitahu mereka untuk menerjemahkan naskah Yunani kuno -yang pastinya akan membuat frustasi duluan- tapi dengan melibatkan mereka dalam permainan. Karena menyalin/menerjemahkan naskah tersebut adalah tentang mengenali pola (pattern recognition), dan otak manusia amat mahir dalam hal tersebut.

Crowd Science adalah tentang membuka proyek riset yang “berdarah-darah” (membutuhkan banyak effortbaik SDM maupun waktu) kepada masyarakat umum. Salah satu alasan kenapa hal ini muncul adalah karena penelitian pada abad ke-21 ini berkaitan dengan sangat banyak informasi. Peneliti dibanjiri dengan begitu banyak informasi, namun tidak memiliki banyak waktu untuk menginterpretasi semuanya. Dalam contoh di atas, para arkeolog Oxford berurusan setengah juta transkrip yang harus disalin dan diterjemahkan. Pada kasus lain, astronom memiliki foto kondisi langit dari robot teleskop yang terus menerus memantau langit dan secara otomatis menyimpan gambar yang ditangkapnya. Di bidang lain, ahli biologi memiliki jutaan data kode genetika.

Berikut ini adalah beberapa contoh Crowd Science yang pernah dilakukan, selain Ancient Lives:
  1. Pelaporan spesies atau fenomena alam melalui aplikasi pada smartphone. Contohnya, seseorang bisa mengambil gambar serangga yang ditemukannya, kemudian membaginya dengan para ilmuwan. Menurut BBC, melalui salah satu aplikasi ini ditemukan dua spesies yang sebelumnya belum pernah ditemukan di Inggris. Begitu juga dengan fenomena alam, laporan dari masyarakat tentang tanda-tanda alam dapat membantu peneliti mengetahui perubahan iklim.
  2. Galaxy Zoo, sebuah website di mana pengunjung bisa mengkategorisasi gambar galaksi yang disediakan berdasarkan ciri-cirinya (sebelumnya mereka diberi tutorial untuk mengenalinya). Proyek ini diawali dari kewalahan yang dialami tim peneliti, yang baru bisa mengkategorisasi 50.000 galaksi, padahal masih ada jutaan yang belum dikerjakan. Melalui proyek ini, seorang guru di Belanda menemukan awan hijau yang belum pernah diobservasi sebelumnya.
  3. FoldIt, sebuah permainan di mana pengguna bisa menggabungkan berbagai molekul protein menjadi berbagai bentuk yang stabil. Makin stabil lipatan proteinnya, makin besar nilai yang didapatkan pemain. Melalui permainan ini, pernah ditemukan lipatan protein yang penting dalam riset tentang AIDS.
  4. Berbagai proyek lainnya di Zooniverse (Ancient Lives juga tersedia di sini) dan Scistarter

Membuka proyek riset, yang tadinya hanya milik para ahli di lembaga penelitian menjadi milik orang awam, memang bukan hal yang mudah. Salah satu kendalanya adalah tidak semua peneliti mau membuka dan menyebarkan data yang sudah susah payah dikumpulkannya pada masyarakat umum. Menurut Michael Nielsen, seorang fisikawan, pemerintah dapat mendorong peneliti untuk lebih kooperatif dan menyebarkan temuannya sesegera mungkin. Selain itu, perlu ada bentuk reward untuk peneliti di luar publikasi/penemuan pribadinya, sehubungan dengan kontribusi dan semangat berbaginya untuk masyarakat. Mengidentifikasi riset apa yang bisa di-crowdsource, dan bagaimana membangun instrumen pendukungnya juga bukan hal yang mudah. Masih sangat sedikit sekali peneliti yang menggunakan metode ini. Belum ada yang tahu akan mengarah ke mana Crowd Science ini, namun dapat dipastikan dengan metode ini, telah terjadi democratization of discovery, di mana penemuan bukan hanya dihasilkan peneliti di laboratorium, tetapi juga dapat dihasilkan masyarakat awam yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Diringkas dari tulisan Gareth Cook pada The Boston Group yang berjudul How Crowdsourcing is Changing Science

-Hening-

Comments (0)

Ilmuwan MITI temukan alat pembasmi kanker otak

Tags: , , , ,

Ilmuwan MITI temukan alat pembasmi kanker otak

Posted on 06 December 2011 by admin

Sekelompok ilmuwan CTech Laboratory, sebuah lembaga riset yang berafiliasi dengan Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), berhasil menemukan alat pembasmi kanker otak.

Pemimpin Tim Peneliti CTech Laboratory, Dr Warsito P Taruno Warsito, mengatakan temuan ini merupakan sebuah terobosan di dunia kedokteran yang telah berhasil dilakukan ilmuwan Indonesia. “Ini pengembangan alat dari riset kami di bidang tomografi. Setelah alat pembasmi kanker payudara, kami berhasil mendesain alat pembasmi kanker otak,” kata Warsito, Senin (3/12).

Alat ini menggunakan prinsip yang sama dengan alat pembasmi kanker payudara, yaitu menerapkan metode radiasi listrik statis. Dan temuan itu telah diuji coba pada seorang pasien penderita kanker otak kecil. “Alhamdulillah, setelah pemakaian dua bulan pasien dinyatakan sembuh total. Saya baru mendapat salinan hasil CT-Scan otak pasien oleh tim dokter rumah sakit,” ujar Warsito yang juga Ketua Umum MITI.

Kesuksesan tim dari CTech yang didukung oleh perusahaan Edwar Technology ini dipaparkan dalam forum pertemuan yang dihadiri tidak kurang dari 1.500 peserta dari berbagai kampus di Sumut, Sumbar dan Aceh.

Dalam seminar yang juga menghadirkan mantan Menristek Suharna Surapranata dan staf pengajar USU Dr Yani Absah tersebut, Warsito menceritakan proses terapi pasien penderita kanker otak kecil (cerebellum) yang saat pertama datang dalam kondisi yang mengenaskan.

Menurut Warsito, sang pasien sudah tak mampu bergerak karena otak kecil sebagai pengendali sistem motorik tubuhnya sudah tak bisa menggerakkan seluruh otot. Dia hanya bisa berbaring dan tak mampu bergerak, termasuk menelan makanan atau minuman yang diasupkan ke mulutnya.

Tim peneliti kemudian merancang perangkat yang disesuaikan dengan diagnosis dokter. Dalam terapi ini, kata Warsito, pihaknya memang bekerjasama dengan tim dokter ahli radiologi dan onkologi dari sebuah rumah sakit besar di Jakarta.

“Reaksi positif sudah kami peroleh dalam beberapa hari pemakaian. Pasien sudah bisa tersenyum dan sepekan kemudian sudah bisa menerima asupan makanan dan minuman dari mulutnya. Kondisi semakin membaik dalam waktu sebulan karena ia sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Dan puncaknya, dua bulan setelah terapi, pasien dinyatakan sembuh total dari kanker otaknya,” papar Warsito.

Menurut dia, metode radiasi listrik statis berbasis tomografi ini, sepenuhnya hasil karya anak bangsa yang bakal menjadi terobosan dalam dunia kedokteran. Selain akan merevolusi pengobatan kanker secara medis, juga akan meminimalisasi biaya yang harus dikeluarkan pasien atau keluarganya.

Sementara itu, mantan Menristek Suharna Surapranata, menyambut baik temuan tim CTech dan MITI ini. Menurut dia, perlu kajian lebih lanjut dan partisipasi banyak pihak yang berkepentingan guna mendapatkan hasil yang lebih baik.

“Kalau mendengar paparan beliau (Warsito), saya kira ini satu hal yang luar biasa dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak, khususnya pemerintah. Juga para pemangku kebijakan dari bidang kesehatan agar hasil penelitian dan penemuan ini memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia dan dunia,” demikian Suharna.

sumber: antaranews.com

gambar: Republika Online

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here