Apa kesibukan mantan Menristek Suharna Surapranata usai dilengserkan dalam reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II beberapa waktu lalu? Tokoh Partai Keadilan Sejahtera yang jarang bicara ini, kini sibuk keliling dari satu kampus ke kampus lain. Setelah kampus UGM, jadwal padat ke berbagai kampus di Indonesia hingga akhir tahun ini sudah menanti.
‘’Saya kembali seperti awal karir dulu, membina mahasiswa,’’ katanya usai memberikan kuliah umum kepada ratusan mahasiswa dari berbagai kampus Indonesia pada Forum Silaturahim Nasional Lembaga Dakwah Kampus (Forsil LDK) di Kampus Bulaksumur, UGM Yogyakarta, akhir pekan lalu (28/10).
Terlihat lebih segar dan bersemangat, Suharna begitu antusias memberikan ilmunya dalam membina diri dan karakter kepada para aktivis dakwah kampus tersebut. Selaku pendiri dan pembina Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog (MITI), sebuah LSM yang didirikan sejak 2004 dan beranggotakan 300 doktor di berbagai belahan dunia tersebut, Suharna mengingatkan para aktivis mahasiswa untuk percaya bahwa perubahan terbaik bagi bangsa ini adalah perubahan gradual (bertahap).
Ia kemudian mencontohkan bagaimana di awal 80-an busana jilbab dilarang keras pemerintah. Namun, dengan berjalannya waktu dan keinginan banyak pihak akhirnya saat ini memakai jilbab tak sekedar menjalankan kewajiban agama, namun sudah menjadi mode. ‘’Bahkan di kalangan pejabat TNI, cukup banyak yang mengenakan jilbab, sesuatu yang tak terbayangkan di masa lalu.’’
Buat Suharna, perubahan secara gradual pula yang mengantarkan aktivis kampus menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. ‘’Contohnya saya, tak pernah terpikir jadi menteri karena dulu ambil jurusan Fisika. Tapi, lewat aktivis kampus yang jadi cikal bakal kelahiran MITI, akhirnya Alloh berkehendak lain. Dan saya yakin dari ratusan aktivis kampus seperti Anda, pasti akan ada yang menjadi pemimpin bangsa ini di masa depan,’’ katanya yang disambut teriakan takbir dari peserta.
Saat menjelaskan soal reshuffle dirinya, Suharna dengan enteng menjawab bahwa pergantian menteri itu ibarat pergantian nahkoda atau supir. “Kita sudah tahu mau kemana kapal atau mobil itu berjalan. Ibarat mau ke Semarang, di tengah jalan supirnya diganti kan nggak masalah sepanjang arah perjalanan itu tak berbelok ke tempat lain. Kalau lihat dia berbelok ke Yogyakarta, penumpangnya yang menegur dan mengarahkan kembali ke tujuan semula.’’
Humas MITI