Archive | Opini

Building the road to dreams: Mahasiswa Berprestasi Nasional (Mawapres)

Tags: , , ,

Building the road to dreams: Mahasiswa Berprestasi Nasional (Mawapres)

Posted on 06 December 2011 by admin

Winner

Bismillahirrahmannirrahim…

Tulisan ini terwujud dari akumulasi pertanyaan yang saya terima melalui dunia maya yang bertanya bagaimana caranya ikut seleksi mahasiswa berprestasi (Mawapres) nasional dan apa saja kiat-kiatnya. Penuturan dalam tulisan ini saya dasarkan atas pengalaman pribadi ketika mengikuti ajang kompetisi ini pada tahun 2007 silam ketika masih duduk di bangku S1 Institut Pertanian Bogor (IPB). Bisa saja info yang saya berikan di sini masih berlaku untuk seleksi mawapres setelahnya, namun mungkin saja sudah out-dated (kadaluarsa) karena peraturan dan mekanisme seleksinya sudah diperbaharui setelah tahun 2007 itu. Anda bisa mencari berita updatenya di universitas Anda ataupun berkunjung ke website DIKTI dan lainnya. Apapun itu, setidaknya semoga sedikit banyak tulisan ini dapat menjadi gambaran dasar yang bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Namun pesan yang menurut saya penting untuk saya sampaikan adalah: “Mawapres itu hanyalah satu dari sekian banyak kompetisi mahasiswa yang bisa Anda ikuti. Tidaklah menjamin seseorang yang menjadi mahasiswa berprestasi tingkat nasional sekalipun masa depannya akan terjamin 100% cerah dan sukses tanpa hambatan. Dan tidak menjamin pula bahwa siapa saja yang terpilih menjadi mahasiswa berprestasi nasional predikatnya lebih baik dari mahasiswa lainnya. Predikat seseorang tidaklah ditentukan semata dari sebuah kompetisi seperti ini, namun ada banyak faktor lainnya yang turut mempengaruhi. Bagi yang tidak terpilih, tidak perlu berlebihan dalam kesedihan atau kekecewaan, bagi yang terpilih sesungguhnya itu adalah awal dari pembuktian dan tanggung jawab kepada “dunia” apakah Anda memang layak terpilih sebagai mawapres setelah seleksinya. Tak sedikit yang menjadi mawapres, namun kemudian “hilang” tak terdengar seletelahnya. Anda dilihat bukan saja saat “menang”, namun bagaimana Anda mampu menjadi “mawapres” yang bisa bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain setelahnya. Namun, jangan pula beranggapan bahwa harus jadi mawapres dulu baru bisa menginspirasi dan bermanfaat untuk orang lain. Jangan tunggu jadi mawapres untuk dapat memberikan motivasi dan inspirasi, tapi mulailah dari sekarang dengan apapun predikat yang Anda miliki untuk menginspirasi dan memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang, Insya Allah :)

Well, mari kita mulai…

Penjelasan teknis mengenai persyaratan Seleksi Mahasiswa Berprestasi dari DIKTI dapat Anda download di sini sebagai pedoman umum. Continue Reading

Comments (0)

“Betapa Malangnya Para Pahlawan Kita”

Tags: , , , ,

“Betapa Malangnya Para Pahlawan Kita”

Posted on 11 November 2011 by admin

Selama empat hari ini aku harus ke luar kota, melanjutkan proyek pemberdayaan ekonomi di pelosok-pelosok Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang menurut data statistik atau pun menurut insting manusia normal saja merupakan salah satu daerah termiskin di Indonesia.

Saat ini aku berada di penginapan sederhana di Kecamatan Praya. Ketika terbangun dari lelap, memori sejarahku terpantik oleh siaran televisi yang ada dihadapanku. Memori pagiku pun melayang dan meraba-raba apa yang terjadi 10 November 1945. Pasukan sekutu yang baru saja mengakhiri perang dunia ke dua, bersama Belanda di belakangnya telah mengonyak-oyak kemerdekaan bangsa kita. Kemerdekaan yang telah kita peroleh dengan paripurna. Tanpa memohon dan menghamba ataupun tanpa belas kasih dari tuan-tuan Belanda. Kita merdeka oleh sebuah perjuangan, kesatuan tekad, pertumpahan darah, keringat dan air mata, yang oleh penguasa negeri ini, lalu dibingkai dengan ornamen sejarah dan akhirnya beberapa dari mereka disebut dengan kata Pahlawan. Perjuangan, kesatuan tekad, keberanian, pertumpahan darah, keringat dan air mata inilah yang akhirnya membuat kecut nyali-nyali 30.000 veteran perang dunia kedua itu. Inilah kisah heroik para pendahulu kita di Surabaya. Continue Reading

Comments (0)

Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Daerah

Tags: , , , ,

Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Daerah

Posted on 10 November 2011 by admin

Kita mengenal slogan “Pemuda harapan bangsa” atau “Maju mundurnya suatu bangsa tergantung pada pemudanya”. Mahasiswa adalah bagian pemuda yang selalu ditunggu perannya dalam pembangunan. Apa sajakah peran itu?

Kita telah memaklumi bersama bahwasannya mahasiswa termasuk kalangan elit. Hanya segelintir saja dari jutaan orang pemuda di Indonesia, yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Tak semua memiliki kesempatan masuk ke dalam kelas ini. Terlebih realita yang ada saat ini manakala biaya kuliah semakin mahal. Makin sedikit pula yang dapat merasakan hidup di dunia perguruan tinggi. Dan yang sedikit itulah, yang memiliki potensi strategis sebagai iron stock para leader di negeri kita ini.

Mahasiswa adalah kalangan yang memiliki potensi besar melakukan mobilitas. Bahkan, hal itu sudah dilakukan semenjak mereka resmi memiliki status sebagai mahasiswa, karena status itu termasuk kelas menengah. Ke depan, selepas menyelesaikan proses pembelajaran dan pencarian jati diri mereka di kampus, pintu melakukan mobilitas itu semakin terbuka. Mobilitas secara vertikal maupun horizontal, menuju ke posisi strategis di berbagai sektor yang akan mereka geluti, baik public sector, private sector atau third sector.

Besarnya potensi mereka itu –logis, karena hampir tidak mungkin negeri ini akan dipimpin oleh para lulusan SMP apalagi SD– tak luput dari besarnya harapan yang disematkan ke pundak mereka. Mereka diharapkan oleh masyarakat untuk nantinya kembali dan membangun masyarakat khususnya di daerah dari mana mereka berasal. Mahasiswa yang merantau, seolah-olah menjadi perwakilan daerah untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin kemudian diterapkan dalam pembangunan daerahnya suatu saat nanti. Dan ini memang menjadi salah satu peran yang harapannya bisa dijalankan oleh para mahasiswa, terlepas dari realita mahasiswa zaman sekarang yang tak sedikit menghabiskan masa studinya dengan hura-hura dan bersenang-senang.

Sebenarnya apa saja peran mahasiswa yang bisa dimainkannya dalam pembangunan daerah? Hal ini perlu dipahami bersama, karena ketidakjelasan peran akan menimbulkan kegamangan. Dan kegamangan akan mengakibatkan ketidakproduktifan. Maka tentang peran mahasiswa dalam pembangunan daerah ini perlu kita ulas lebih jauh. Namun, kita perlu terlebih dahulu melihat seberapa jauh potensi yang dimiiki oleh mahasiswa. Sehingga apa saja peran yang dapat dimainkan nanti, bisa kita lihat dari potensi yang ada dalam diri mereka.

Pertama, kita dapat melihat potensi mahasiswa dari aspek karakternya. Kita pahami bersama, bahwa mahasiswa memiliki karakter idealis. Semua hal dilihat dan ingin dibentuk dalam tataran ideal. Baik dalam kehidupan mahasiswa itu sendiri, keorganisasian, berbagai sistem dan kebijakan dalam masyarakat maupun dalam kehidupan negara. Mahasiswa biasanya menjadi orang yang paling resah dengan ketidakberesan, benci dengan ketidakadilan, menginginkan tegaknya aturan dan norma kebaikan. Dengan begitu tepatlah manakala mahasiswa disebut sebagai social control, mengkritisi setiap ketidakberesan berjalannya sistem di masyarakat maupun negara.

Pemuda memiliki tipe pemikiran yang kritis dan kreatif. Mahasiswa sebagai bagian dari pemuda tak lepas dari sifat ini. Sejarah mengatakan, bahwa perubahan-perubahan besar berawal dari para pemuda. Kita dapat melihat bagaimana peristiwa kebangkitan nasional, sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan Indonesia serta reformasi berawal. Semua tidak luput dari peran para pemuda. Pun begitu dengan berbagai peristiwa perubahan, revolusi dan pembaruan di beberapa belahan dunia.

Kaum muda memiliki frame berfikir yang khas. Berawal dari idealismenya dia kritis terhadap persoalan-persoalan, dan dengan kreativitasnya memberikan solusi-solusi dari persoalan yang ada. Tak jarang solusi yang mereka hasilkan merupakan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya oleh generasi yang lebih tua. Banyak terobosan baru yang mereka lahirkan, karena mereka punya paradigma berpikir yang berbeda. Karena berbeda paradigma, maka biasanya antara generasi tua dan generasi muda terjadi konflik pemikiran, antara paradigma lama dan paradigma baru. Kita dapat ambil contoh pada salah satu persitiwa besar, proklamasi kemerdekaan. Terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda tentang kapan proklamasi harus dilakukan.

Beberapa kelebihan yang bersifat alami di atas, yakni idealis, kritis dan kreatif membuat arus perubahan dapat diciptakan, menuju yang lebih baik sebagaimana idealita yang ada dalam benak mereka. Dipadu dengan sifat semangat, dan didukung oleh kekuatan fisik yang masih prima, maka arus perubahan semakin besar. Mereka tak akan kenal lelah dalam bekerja dan menggerakkan perubahan itu, sehingga dalam waktu yang tak terlampau lama apa yang mereka inginkan akan segera dicapai.

Kedua, potensi mereka dilihat dari aspek intelektualitas, kecerdasan dan penguasaan wawasan keilmuan. Ilmu dan wawasan yang dimiliki selain akan memperluas cakrawala pandangan, juga memberikan bekal teoritis maupun praktis dalam pemecahan masalah. Seorang mahasiswa akan dapat dengan mudah menyelesaikan masalah yang ada yang pada masa dahulu pernah ditemui manusia dan dirumuskan dalam berbagai teori pemecahannya. Atau, jika hal yang ada belum pernah ditemui sebelumnya, maka mereka sudah memiliki bekal yang metodologis dan sistematis tentang bagaimana cara menemukan pemecahan problem-problem yang ada. Tiada lain dengan riset, baik riset di bidang eksak maupun noneksak.

Potensi dari dua aspek yang ada itulah yang akan membuat mahasiswa dapat melakukan perannya. Syaratnya, kedua potensi itu benar-benar dikembangkan secara optimal oleh mereka baik secara personal maupun komunal sehingga dapat menjadi senjata yang siap digunakan untuk memberikan kemanfaatan terbesar bagi masyarakat. Potensi dari aspek karakter dikembangkan dengan berbagai aktivitas yang mengasah softskill, baik melalui kegiatan organisasi, pelatihan-pelatihan maupun aktivitas keseharian mahasiswa di luar kegiatan akademik. Sedangkan potensi intelektualitas dibangun melalui semua kegiatan yang mengasah hardskill, yakni kegiatan belajar mengajar, pengkajian, penelitian dan juga pelatihan. Dengan begitu mereka memiliki kualifikasi dan kompetensi menuju profil mahasiswa ideal, yakni mahasiswa yang memiliki integritas moral, kredibilitas sosial dan profesionalitas keilmuan.

Pada era sekarang ini, rasanya sudah tidak relevan lagi manakala implementasi peran mahasiswa hanya sekadar seperti apa yang dilakukan pada masa-masa lalu. Sebagian besar yang telah dilakukan mahasiswa untuk menjalankan peran sebagai agent of change dan social control dilakukan melalui aksi-aksi turun ke jalan. Aksi untuk menuntut perubahan kebijakan, penyebaran wacana dan opini ke publik, namun belum bisa memberikan solusi konkrit. Sudah saatnya hal itu diubah, sudah tiba waktunya bagi mahasiswa untuk memaksimalkan peran sebagai aktor intelektual yang dapat memberikan jawaban-jawaban dan solusi yang konkrit, membumi, aplikatif dan bermutu. Bukan sekadar wacana yang mengawang, atau alternatif solusi dari hasil analisis yang serampangan. Namun semuanya berbasis penguasaan keilmuan pada bidang masing-masing, melalui proses pengkajian yang mendalam dan komprehensif, dilihat dari berbagai sudut pandang secara interdisipliner sehingga menghasilkan solusi yang solutif.

Peran yang bisa dimainkan mahasiswa di daerah tentu tak terkungkung pada daerahnya masing-masing, namun bisa berperan di daerah lain. Juga tidak melulu yang bersifat konseptual, namun juga yang bersifat praktikal dengan terjun langsung di masyarakat. Yang jelas semuanya didasari oleh kerangka berpikir ilmiah. Mahasiswa dapat memulai aksinya berpijak dari masalah-masalah yang ada pada suatu daerah, maupun potensi besar yang belum terkembangkan atau teroptimalkan yang dapat menjadi senjata bagi daerah tersebut. Baik dalam bidang pangan, pendidikan, kesehatan, iptek, pertanian, sosial, budaya, pemerintahan dan lain sebagainya.

Di bidang pangan misalnya, suatu daerah memiliki keunggulan komparatif sebagai penghasil salak. Di setiap musim panen, produksi salak melimpah dan dapat mensuplai produk ke beberapa daerah lain yang membutuhkan. Permasalahannya adalah seringkali jumlah produksi salak melebihi permintaan yang ada, sehingga ada sisa yang setiap periode terbuang percuma, karena sifat produk pertanian yang cepat rusak. Berdasarkan permasalahan itu, seorang mahasiswa yang baik akan dapat mengubah permasalahan seperti itu menjadi potensi besar. Dia akan melakukan riset untuk menciptakan produk olahan dari salak, sehingga salak yang tidak termanfaatkan dalam bentuk mentah setelah menjadi produk olahan lain akan memiliki nilai jual lebih tinggi, disamping dapat meningkatkan daya tahan produk itu sendiri. Implikasi positif lain dari hal ini adalah membuka peluang usaha baru yang nantinya dapat menyerap tenaga kerja, dengan begitu pengangguran dapat dikurangi. Kripik salak dan selai salak merupakan contoh produk sebagai wujud nyata dari usaha semacam ini.

Contoh lainnya, manakala pada suatu daerah memiliki permasalahan pada banyaknya sampah padat yang tidak tertangani dan akhirnya menumpuk di beberapa tempat. Selain dari segi estetika tidak sedap bagi pemandangan, menimbulkan bau tidak sedap, dari aspek kesehatan dapat menjadi sumber beberapa penyakit, selain memberikan potensi ancaman banjir apabila menyumbat beberapa saluran air. Mahasiswa atau kelompok mahasiswa dapat memberikan solusi dengan program pemberdayaan masyarakat pengolahan sampah organik. Dampaknya pada pengurangan jumlah sampah yang ada secara signifikan, dihasilkannya produk olahan sampah organik misalnya menjadi pupuk organik yang memiliki kegunaan dan bernilai jual, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sampah.

Mahasiswa tidak harus terjun sendiri ke masyarakat secara swadaya, karena hal itu akan sangat berat. Alangkah sangat baiknya mahasiswa dapat merangkul berbagai pihak yang dapat diajak kerja sama dalam membuat proyek-proyek yang lebih besar untuk memberikan pencerdasan pada masyarakat dan memberdayakan mereka. Pemerintah daerah, pihak kampus (universitas) dan pihak swasta adalah pihak-pihak yang sangat bertanggung jawab dalam kemajuan masyarakat. Pemerintah daerah tentu saja pelaku utama yang bertanggung jawab penuh terhadap kemajuan masyarakat di daerahnya. Universitas memiliki kewajiban dalam pendidikan dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana tertuang dalam salah satu poin Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pihak swasta memiliki kewajiban untuk melaksanakan program-program CSR (Corporate Social Responsibility). Peran ketiga elemen besar itu harus dapat dioptimalkan, dan disinergikan. Dan hal ini dapat diinisiasi oleh mahasiswa.

Pihak pemerintah berperan dalam pendanaan sebagaimana telah dianggarkan, juga SDM pakar dengan adanya para petugas penyuluh lapangan dari departemen-departemen tertentu. Pihak universitas memberikan sumbangan dari sisi keilmuan, program (misalnya dengan priogram KKN) dan SDM pelaksana, yakni mahasiswa itu sendiri. Aspek dana juga didukung oleh pihak swasta, selain perannya dalam memenuhi kebutuhan akan instrumen berupa peralatan maupun perlengkapan. Sinergitas yang saling melengkapi dari ketiga pihak ini akan memberikan signifikansi sangat tinggi dalam upaya melaksanakan pembangunan daerah. Karena dengan sinerginya beberapa pihak tersebut, masing-masing tidak bekerja sendiri melalui program yang bisa jadi overlap satu sama lain sehingga tidak efektif dan efisien, bahkan kontraproduktif.

Ke depan, kesadaran akan pentingnya sinergitas antara beberapa pihak perlu semakin ditingkatkan, dan ini harus dimulai semenjak sekarang. Tak ketinggalan, penyiapan diri mahasiswa, yang ke depan juga akan menempati ruang-ruang strategis di pemerintah, swasta maupun kampus harus dilakukan semenjak dini, dengan cara:

  1. Pengembangan potensi diri dari aspek hardskill maupun softskill sebagai upaya memaksimalkan potensinya sebagai iron stock,
  2. Melakukan kontrol kebijakan pemerintah terhadap penentuan arah dan karakteristik pembangunan daerah,
  3. Berupaya untuk senantiasa memenuhi kebutuhan akan perbaikan dari kehidupan masyarakat dan berbagai permasalahan yang terjadi di sana melalui penerapan dan implementasi ilmu yang telah diperoleh di bangku perguruan tinggi,
  4. Mengembangkan jaringan (networking) dengan berbagai pihak, khususnya yang memiliki peran dan potensi dalam pembangunan daerah.

Semua itu tak dapat terwujud manakala tidak diawali oleh kepedulian serta sikap kritis terhadap peristiwa sosial yang melahirkan niat dan kemauan untuk turut berperan serta memperbaiki masyarakat. Sehingga nantinya cita-cita untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang berkedaulatan, berkeadilan, maju dan mandiri dapat diraih.

Cahya Hw.
Kepala Bidang Pembinaan Wilayah MITI-M 2009

sumber gambar: adirioarianto.wordpress.com

 

Comments (0)

siswa aktif

Tags: , , , ,

Siswa Sebagai Subyek Belajar

Posted on 28 October 2011 by admin

Menurut berbagai penelitian, belajar yang efektif hanya akan terjadi jika siswa turut aktif dalam merumuskan serta memecahkan berbagai masalah. Siswa adalah salah satu komponen yang menempati posisi sentral dalam proses pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Di dalam proses pembelajaran siswa sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Dalam hal ini, selama proses pembelajaran siswa ditempatkan sebagai subjek belajar, bukan sebagai objek. Pandangan yang menganggap siswa sebagai objek belajar adalah sebuah kekeliruan, karena dengan penempatan ini berarti mengajarkan siswa untuk pasif. Sedangkan pengertian siswa sebagai subyek mengarahkan agar siswa lebih aktif selama proses pembelajaran. Hal ini selaras dengan sistem pengajaran modern yang menempatkan siswa sebagai pihak yang aktif dalam membentuk pengetahuannya sendiri (Ibrahim dan Suparni, 2008). Continue Reading

Comments (0)

Pemuda dan Paradigma Bisnis Sosial

Tags: , , ,

Pemuda dan Paradigma Bisnis Sosial

Posted on 28 October 2011 by admin

Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober haruslah dimaknai sebagai refleksi untuk melakukan perubahan. Berkaca dari sejarah, generasi muda di masa lalu memiliki andil besar dalam memberikan sumbangsih bagi keutuhan bangsa. Perbedaan latar belakang agama, budaya, dan status sosial bukan menjadi satu hal yang melemahkan, melainkan sebaliknya, menguatkan keyakinan para pemuda untuk berikrar mempertahankan tanah air.

Namun demikian, apakah ikrar yang dulu diucapkan dapat tetap dipertahankan dan diwujudkan, manakala para pemuda melihat adanya jurang antara si miskin dan si kaya? Apakah hitam di atas putih saja mampu menyelesaikan krisis bangsa yang tidak kunjung reda? Bagaimanapun, setiap masa memiliki problematika dan tantangannya tersendiri. Hal inilah yang membuat karakter pemuda di masa lalu dan di masa sekarang menjadi berbeda. Karakter tersebut terbentuk sebagai akibat dari pergulatan konflik pada zamannya.

Dahulu, untuk merebut kemerdekaan bangsa, modal pemuda adalah bambu runcing dan semangat yang berkobar. Namun, di pascakemerdekaan, saat tidak ada sekat-sekat geografis antar negara, serta minimnya solusi tepat yang bisa mengatasi gap antara jumlah lapangan dan angkatan kerja, para pemuda dituntut untuk mengembangkan inovasi dan kreatifitas. Berwirausaha mandiri, misalnya, adalah salah satu upaya yang tepat untuk menjawab tantangan global.

Continue Reading

Comments (0)

Manajemen Pertarungan untuk Kemenangan

Tags: , , , ,

Manajemen Pertarungan untuk Kemenangan

Posted on 25 October 2011 by admin

Ketika kemalasan datang dan rasa jenuh mulai menghujami diri Kita, bagaikan Kristal jarum dingin yang siap membekukan tubuh ini. Terasa tidak mau bergerak dan otakpun ikut membeku, menghambat rencana hidup kedepan. Ternyata pertarungan telah dimulai dan Kita tidak siap untuk hal itu. Kita merasa pasrah dan membiarkan aliran hidup membawa diri Kita kesuatu muara luas yang lebih pekat dari aliran sebelumnya. Ternyata teman, Kita belum siap dengan pertarungan yang senantiasa hadir dupan Kita. Kita senantiasa mengangkat bendera putih untuk itu. Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here