Archive | Liputan

Press Release The Neuron Award 2011

Tags: , , , ,

Press Release The Neuron Award 2011

Posted on 29 November 2011 by admin

“…sudah selayaknya sebuah organisasi dimanage dengan baik. Mulai dari visi misi yang jelas, struktur organisasi yang mapan, sistem kaderisasi yang memadai, sampai kepada kebermanfaatan dari kegiatan-kegiatannya bagi mahasiswa. Tanpa dikelola dengan baik, sehebat apapun cita-cita organisasi tersebut, tidak akan memiliki efek berarti bagi terbentuknya mahasiswa yang inovatif dan kompeten” (Andrie Javs, Presiden MITI Mahasiswa)

Perguruan tinggi memerlukan pendukung dalam mewujudkan aspek penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat agar berkembang sesuai dengan harapan. Untuk mendukung peranan perguruan tinggi tersebut maka dibutuhkan suatu organisasi kemahasiswaan yang bergerak  menjalankan penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat. Salah satu organisasi yang tepat untuk melaksanakannya adalah Organisasi Mahasiswa bidang Penalaran dan Penelitian atau disebut juga Organisasi Riset Mahasiswa. The Neuron Award hadir untuk memberikan penghargaan dan apresiasi kepada organisasi riset mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang terbukti mampu mengelola lembaganya dengan baik, memiliki prestasi tinggi, dan berkontribusi banyak dalam mengatasi problematika di lingkungan masyarakat dan kampusnya melalui dunia penelitian. Harapannya dengan adanya pemberian penghargaan ini akan memacu para pengurus organisasi untuk menjadikan organisasinya sebagai organisasi yang benar-benar matang, profesional, prestatif, dan kontributif.

Setelah melewati beberapa tahapan seleksi dan assessment, yang terdiri dari self assessment, tinjauan ke sekretariat lembaga, serta interview kepada ketua lembaga, dan juga dengan mempertimbangkan aspek pengelolaan lembaga, sistem kaderisasi, budaya diskusi, pengelolaan jaringan, prestasi, riset dan publikasi, serta kontribusi yang diberikan lembaga terhadap kampus dan masyarakat di sekitarnya, maka terpilihlah 11 organisasi riset mahasiswa terbaik se Indonesia versi MITI-Mahasiswa yang selanjutnya berkompetisi di babak final The Neuron Award yang berlangsung di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung pada hari Ahad, 27 November 2011. Berikut adalah 11 lembaga finalis The Neuron Award tersebut:

  1. Pusat Pengembangan Ilmiah dan Penelitian MahasiswaUniversitas Negeri Padang (PPIPM UNP)
  2. Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian Universitas Negeri Semarang (UKMP UNNES)
  3. Lembaga Kajian Mahasiswa Universitas negeri Jakarta (LKM UNJ)
  4. Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UKIM UNESA)
  5. UKM Gama Cendikia Universitas Gajah Mada (GC UGM)
  6. UKM Forum For Scientific Studies Institut Pertanian Bogor (FORCES IPB)
  7. Lembaga Penelitian dan Pengkajian Intelektual Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (LEPPIM UPI)
  8. UKM Excellent, Intellectual, and Smart Student Universitas Jambi (EXIST UNJA)
  9. UKM Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran Universitas Negeri Makassar (LPM UNM)
  10. UKM Rekayasa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Universitas Negeri Semarang (RIPTEK UNNES)
  11. UKM Research & Business Universitas Diponegoro (RNB UNDIP)

Dinginnya Kota Bandung menjadi saksi perjuangan masing-masing perwakilan lembaga untuk meyakinkan juri, bahwa lembaga merekalah yang terbaik, sehingga layak mendapatkan penghargaan yang bergengsi ini. Masing-masing finalis memiliki waktu 25 menit untuk mempresentasikan lembaganya di depan juri dan audiens, yang terdiri dari 5 menit untuk pemutaran video profil lembaga, 10 menit presentasi, dan 10 menit terakhir merupakan tanya jawab dengan dewan juri. Pada kesempatan kali ini, dewan juri terdiri dari Dr. Edi Sukur dari Kemenristek, IBP Angga Antagia, SE (Ex Presidium Nasional FoSSEI), dan Aditya Rangga Yogatama, SE.dari Department Jaringan dan Kemitraan MITI-Mahasiswa. Namun, karena harus menghadiri agenda lain, setelah istirahat siang, Dr Edi Sukur digantikan oleh Ibu Istiqomah, MT (Dosen UPI).

Perwakilan lembaga finalis tidak sekedar mempresentasikan lembaga mereka, tetapi juga harus sabar dalam menjawab pertanyaan serta menanggapi komentar, kritik, dan saran dewan juri, yang mana semuanya itu akan menjadi pertimbangan dewan juri dalam menentukan peraih penghargaan The Neuron Award ini.  Ada 5 kategori award yang diperebutkan yaitu: Best Performance, Best Contributive, Best Research and Publication, Best of the Best, dan Best Favorite. Khusus Best Favorite, peraihnya ditentukan oleh jumlah voters lembaga tersebut  yang difasilitasi di website MITI-Mahasiswa. Masing-masing peraih award akan meraih penghargaan berupa trophy  dan sertifikat dari MITI-Mahasiswa, serta uang pembinaan sebesar Rp 1.500.000 untuk Best Favorite, Rp 3.000.000 untuk 3 kategori yang lain, dan khusus Best of the Best akan memperoleh uang pembinaan sebesar Rp 5.000.000.

Cukup sulit bagi dewan juri, untuk menentukan peraih masing-masing kategori yang diperebutkan. Perdebatan antar dewan juri pun sesuatu yang tidak bisa dielakkan, sampai akhirnya pada hari Ahad, 27 November 2011 tepat pada pukul 17.30 WIB di Fakultas Pendidikan Teknik UPI,  diputuskanlah para peraih The National Research Organization Award 2011 MITI-Mahasiswa, yang langsung disampaikan oleh perwakilan dewan juri IBP Angga Antagia, dengan hasil sebagai berikut:

  • Best of the Best diraih oleh UKM Forum for Scientific Studies (FORCES) Institut Pertanian Bogor
  • Best  Performance diraih oleh UKM Penelitian Universitas Negeri Semarang
  • Best Contributive diraih oleh LPM Penalaran Universitas Negeri Makassar
  • Best Research and Publication diraih oleh UKM Pengkajian dan Penelitian Gama Cendekia UGM

Sementara itu, khusus untuk Best Favorite sepenuhnya ditentukan dari voting lembaga yang masih berlangsung hingga 8 Desember 2012 nanti. Semua peraih award akan diundang pada acara Gebyar Inovasi Pemuda Indonesia (GIPI) 2 MITI pada bulan Januari 2012 nanti untuk menerima pemberian Penganugerahan The Neuron Award MITI-Mahasiswa secara resmi.

Selamat kepada para pemenang. Tiada kata henti untuk terus berprestasi dan berkontribusi. Salam Akselerasi!!!

 

Comments (1)

Liputan RCDC di Dusun Bedukan Jogja

Tags: , , , ,

Liputan RCDC di Dusun Bedukan Jogja

Posted on 28 November 2011 by admin

Sejak pertengahan tahun 2011 RCDC MITI Mahasiswa sudah merintis kegiatan community development (comdev) di Yogyakarta. Kegiatan yang bertemakan “Integrated Farming System Berbasis Teknologi dan Pemberdayaan Masyarakat” ini diadakan di Dusun Bedukan, Desa Pleret, Bantul, Yogyakarta. Di dusun ini terdapat 5 Rukun Tetangga dengan jumlah penduduk sekitar 640 jiwa yang terdiri dari 225 keluarga. Memiliki luas lahan sekitar 12 hektar dan baru 8 hektar luas lahan yang sudah produktif. Mata pencaharian utama penduduk adalah buruh tani.

Kegiatan sosial masyarakat dikoordinir oleh lembaga kemasyarakatan seperti LPMD, PKK, Karang Taruna, dan kelompok ternak NITI Rejeki. Sejak tahun 2009 sudah mulai dibangun sentra-sentra peternakan oleh kelompok ternak NITI Rejeki dan berkembang hingga saat ini. Melalui hasil musyawarah antara kelompok ternak dengan masyarakat serta dorongan dari pemerintah pusat maupun daerah telah ditetapkan bahwa kawasan yang berada di pinggir barat Dusun Bedukan dijadikan sebagai lahan sentra peternakan. Hingga saat ini telah berhasil dibangun kandang kambing, sapi, dan kolam ikan. Adapun embung kolam ikan dan kandang unggas sedang dalam tahap proses pembangunan. Peternakan ini juga kelak diharapkan akan menjadi mata pencaharian utama penduduk Dusun Bedukan.

Sebagian sentra ternak NITI Rejeki, Dusun Bedukan, Desa Pleret, Bantul

 Dengan kondisi tersebut, MITI-Mahasiswa melalui unit khusus Research and Community Development Center (RCDC) subwilayah Yogyakarta melihat bahwa Dusun Bedukan, Desa Pleret, memiliki potensi peternakan yang sangat luar biasa untuk dikembangkan. MITI-Mahasiswa menangkap kondisi ini sebagai sebuah momentum yang baik untuk melaksanakan aksi nyata di masyarakat dan fokus pada pendampingan peternakan ayam buras yang juga merupakan salah satu master program dari kelompok ternak NITI Rejeki. Pendampingan peternakan ayam buras ini terintegrasi dalam kegiatan pembibitan, pembesaran, pembuatan pakan, dan pengolahan limbah ternak. Adapun tim ahli cluster riset peternakan ini berasal dari mahasiswa peternakan UGM dan bekerjasama dengan Forum Study Mahasiswa Peternakan (Fosmapet) UGM.

Selain kegiatan peternakan, aktivitas comdev RCDC Yogyakarta di Dusun Bedukan juga didukung oleh beberapa kegiatan lain yang terangkum dalam beberapa aktivitas cluster riset, yakni Budidaya Ikan Lele (UGM), Energy Biogas (UGM), Pendidikan dan Kepemudaan (UNY), Aplikasi Teknologi Informasi (Amikom), Desa Asri (UIN), dan Kerohanian Islam (UIN). Harapan dari RCDC MITI-Mahasiswa, Integrated Farming System yang akan dibangun di Dusun Bedukan dapat didukung oleh aktivitas lain yakni kegiatan pengembangan sumber daya masyarakat, jaringan dan pasar yang memadai, serta potensi Integrated Farming itu sendiri.

Pada tanggal 19 November 2011 sebanyak 8 mahasiswa yang merupakan perwakilan dari setiap cluster riset RCDC MITI-Mahasiswa mengadakan kegiatan pembuatan pupuk organik, pembuatan silo, pembuatan telur asin, dan penyemaian benih pada polibag di Dusun Bedukan. Kegiatan ini dihadiri oleh Bapak DR. Warsito P. Taruno selaku ketua MITI Pusat dan diliput oleh TVone. Kegiatan ini juga diikuti oleh kelompok ternak NITI Rejeki, ibu-ibu PKK, dan sebagian masyarakat. Kunjungan DR Warsito ke Dusun Bedukan adalah dalam rangka peninjauan lapangan terhadap perkembangan desa inovasi MITI-Mahasiswa di Yogyakarta. Kegiatan yang beliau lakukan adalah mengetahui proses aplikasi teknologi yang diterapkan pada usaha ternak sapi potong.

Dengan melihat potensi pakan sapi yang melimpah pada musim hujan dan minim saat musim kemarau, maka diterapkan pakan silo sebagai alternative, yakni mengawetkan hijauan makanan ternak. Menurut Anang Febri Prasetyo (salah satu tim ahli dari cluster peternakan RCDC MITI-Mahasiswa) menjelaskan bahwa silo dapat dibuat dari hijauan segar (rumput raja) yang telah dicacah dengan ukuran sekitar 15-20 cm kemudian dicampur dengan bahan lain. Bahan lain ini merupakan campuran dari air, molase, dan bekatul. Tujuan dari pengolahan pakan ini adalah untuk meningkatkan kualitas bahan, memudahkan penyimpanan, pengawetan, meningkatkan palatabilitas (kesukaan ternak pada pakan tersebut), dan meningkatkan efisiensi pakan. Pakan yang telah dijadikan silo dapat bertahan hingga 6 bulan bahkan tahunan.

Warga didampingi MITI-Mahasiswa sedang membuat pakan silo dari hijauan segar

Lebih lanjut Anang menjelaskan bahwa selain silo, teknologi juga diterapkan dalam pembuatan pupuk bokasi. Kotoran sapi yang dihasilkan dari peternakan NITI Rejeki cukup banyak sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Untuk meningkatkan kualitas pupuk diterapkan pembuatan kompos. Bahan utama yang diperlukan adalah kotoran ternak yang berasal dari kotoran sapi dan kambing di sentra peternakan Dusun Bedukan. Bahan utama tersebut kemudian dicampur dengan sekam padi, serbuk gergaji, kapur bubuk (gamping) dan starter. Campuran bahan tersebut kemudian ditumpuk dan akan menjadi kompos setelah 21 hari. Kompos yang terbentuk menjadi tidak berbau dan seperti tanah biasa. Kompos yang sudah dihasilkan saat ini masih digunakan untuk kalangan masyarakat Bedukan yakni untuk penanaman tanaman sayuran di dalam polibag di sekitar rumah dan di sekitar sentra lokasi peternakan.

Proses pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi dan pembibitan tanaman polybag

Dapat disimpulkan bahwa usaha peternakan dari kelompok NITI Rejeki ini merupakan usaha ternak yang ramah lingkungan dan menerapkan system bersih karena seluruh limbah dimanfaatkan dengan baik sehingga tidak mencemari lingkungan. Liputan oleh TVone diakhiri dengan kegiatan penanaman bibit pohon durian super oleh Dr. Warsito sebagai kenang-kenangan kunjungan dan simbol bahwa usaha yang dilakukan oleh masyarakat tetap memperhatikan lingkungan.

Penanaman pohon durian oleh Dr. Warsito P. Taruno

Selesai mengikuti acara di Dusun Bedukan, tim RCDC MITI-Mahasiswa bersama Dr. Warsito dan crew TVone bergerak menuju lokasi proyek Energi Kincir Angin di Pandansimo, Bantul. Di sini tim RCDC MITI-Mahasiswa melihat-lihat teknologi kincir angin dan pemanfaatannya di sekitar pantai Pandansimo, menikmati indahnya pantai Pandansimo, dan mengikuti workshop pembuatan baling-baling kincir angin di laboratorium workshop yang tidak jauh dari pantai.

Salah satu prototype kincir angin di pantai Pandansimo, Bantul

Percontohan pengembangan energi listrik hybrid di Bantul, Yogyakarta, dilaksanakan dari hasil kolaborasi Pemerintah, Industri, Akademisi dan Komunitas yang dikenal dengan ABG-C (Academic , Business, Government-Community), yakni antara Kementrian Riset dan Teknologi (RISTEK), LAPAN, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), E-Wind Energy PTE, Pemerintah Kabupaten Bantul, UGM, dan Masyarakat. Energyi listrik hybrid sangat cocok untuk dipasang di beberapa wilayah pesisir kawasan Indonesia. Pembangkit ini merupakan sumber energi terbarukan yang relevan untuk dikembangkan di Indonesian karena potensi energi surya di Indonesia sangat tinggi dengan intensitas radiasi rata-rata 4-5 kWh/m2 yang berlaku sepanjang tahun. Dewasa ini, pemanfaatan energi surya di Indonesia baru mencapai 5 MWp (ESDM). Energi hybrid di Bantul ini memanfaatkan potensi angin yang cukup besar di Pantai Pandansimo dan potensi sinar matahari secara berkesinambungan dalam bentuk kincir angin yang terintegrasi dengan solar sel. Energi listrik hybrid di Bantul saat ini baru dimanfaatkan untuk penerangan jalan di sekitar pantai Pandansimo, produksi es untuk pendinginan ikan hasil tangkapan nelayan, dan mengangkat air. Pembuatan desain kincir dilakukan di laboratorium workshop yang tidak jauh dari pantai Pandansimo.

Liputan langsung: Tri Hanifawati

Comments (2)

Advertise Here
Advertise Here