Rangkaian pujian, atau lebih tepatnya suatu bentuk kekaguman, yang diberikan oleh Art Gallery, Aberdeen, Scotland, kepada kelompok angklung SMA 3 Bandung saat melakukan kegiatan “Expand the Sound of Angklung 2″, yang meski dengan keterbatasan finansial, tetapi mampu menembus sudut-sudut Eropa.
Mereka berkeliling Frankfurt, Bremen, Berlin, Brussels, Paris, Aberdeen, Praha, Cerveny Kostelec, Zakopane, dan Muenchen. RM Marty M Natalegawa, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia, dalam kata pengantar buku 40 Days in Europe: Kisah Kelompok Musik Indonesia Menaklukkan Daratan Eropa, mengatakan bahwa rangkaian kegiatan yang dilakukan kelompok angklung SMA 3 Bandung (KPA3) tersebut sejatinya merupakan suatu bentuk diplomasi budaya yang sangat efektif dalam memperkenalkan Indonesia dan angklung sebagai salah satu bentuk seni budaya tradisional.
Di sisi lain, sambutan yang warga Amerika berikan terhadap kelompok musik Slank menunjukkan bahwa seni budaya Indonesia kontemporer juga cukup dikagumi oleh mancanegara. Bukan hanya kelompok musik Slank yang pernah merasakan hangatnya sambutan tuan rumah tatkala melakukan konser mancanegara, sebut saja Dewa 19, Gigi, Padi, dan bahkan orang per orang, seperti Anggun, Krisdayanti, Ruth Sahanaya, Titi DJ, dan penyanyi muda Gita Gutawa juga pernah merasakan kehangatan sambutan tersebut.

Kedua fenomena KPA3 dengan angklung dan musik tradisionalnya serta kelompok musik Slank dengan musik kontemporernya menunjukkan bahwa baik musik tradisional maupun kontemporer mampu melakukan suatu diplomasi budaya, sehingga pertanyaan yang kemudian muncul bukanlah “bisakah musik melakukan diplomasi budaya?”, tetapi “bisakah kita melakukan diplomasi budaya melalui musik?” Di sini, yang patut dipertanyakan adalah “kita”, bukan “musik”. Mampukah kita?
Setidaknya, ada tiga hal yang patut kita petik sebagai pelajaran dari kesuksesan diplomasi budaya yang telah dilakukan oleh KPA3 dan kelompok musik Slank. Pertama, kemampuan bermusik yang senantiasa ditingkatkan. Hal tersebut bermakna sebagai proses yang dilakukan guna meningkatkan skill, kompetensi, kapabilitas, dan kapasitas (daya pikul) yang telah dimiliki sebelumnya. Kata kuncinya adalah latihan. Terkait latihan ini, janganlah meragukan KPA3 dan kelompok musik Slank. Meski begitu, latihan saja tidak cukup dan masih belumlah sempurna jika hanya memiliki daya pikul. Oleh karena itulah, maka di titik ini, daya tahan sangatlah dibutuhkan.
Pelajaran kedua yang dapat diambil adalah adanya tekad yang kuat dan konsistensi (baik di dunia musik maupun di warna musik). Tekad dan konsistensi tersebut akan melahirkan suatu rasa pengabdian bermusik. Gelora pengabdian itulah yang membuat mereka (KPA3 dan kelompok musik Slank) mampu melewati masa-masa sulit yang menghadang dan gelora itu juga yang membuat mereka bisa terus berkarya.
Ketiga, adanya keberanian dalam melangkah dan melakukan inovasi. Keberanian itulah yang berhasil membuat KPA3 melanglang buana di daratan Eropa, meski dengan biaya yang mengenaskan. Dan keberanian itu jualah yang membuat kelompok musik Slank berhasil menciptakan warna dan gaya musiknya sendiri.
Dimuat di Kompas, 5 Desember 2008.
AB. Naro Putera
*) Penulis saat ini sedang menyelesaikan studi masternya di Ehime University, Jepang (Cell and Molecular Biology)
**) Foto: kemlu.go.id